Hasil studi peneliti Amerika
Proses penuaan berkaitan dengan kurang tidur

Berita IPTEK
Rabu, 16 Agustus 2000, 23:55:06 Wib

Laki-laki sering mengalami kurang tidur begitu memasuki usia setengah baya. Hal ini kemungkinan akan mempengaruhi perubahan pada tingkat hormon pertumbuhan yang akan mengakibatkan bertambahnya lingkar pinggang, penurunan ingatan dan permasalahan dalam tidur lebih lanjut. Begitu yang dilaporkan oleh ilmuwan dari University of Chicago hari Selasa yang lalu seperti yang dikutip oleh Andrew Stern reporter Reuters.

Hasil riset terhadap 149 laki-laki sehat usia antara 16 sampai 83 tahun menunjukkan bahwa membantu laki-laki agar tidur lebih banyak secara tidak langsung bisa menjadi sebuah terapi hormon yang bisa membantu menghindari gejala penuaan yang tidak diinginkan.

Dari hasil monitoring terhadap pola tidur dan tingkat sekresi (pengeluaran) hormon, Eve van Cauter, peneliti University of Chicago, menemukan bahwa laki-laki berumur 36 sampai 50 tahun mengalami sangat singkat fase tidur pulas yang ditunjukkan dengan 'gelombang tidur lambat', di mana saat ini manusia paling banyak mengeluarkan hormon pertumbuhan.

Hasil penelitian menunjukkan 75 % penurunan tingkat sekresi hormon dari usia dewasa ke setengah baya. Penurunan terus terjadi sampai usia lanjut tetapi dengan tingkat kecepatan yang melambat.

"Meskipun implikasi klinis dari menurunnya fase tidur pulas masih tidak jelas, akan tetapi kekurangan hormon pertumbuhan pada usia dewasa berhubungan dengan bertambahnya timbunan lemak tubuh dan kegemukan di sekitar perut, berkurangnya dan melemahnya otot, serta berkurangnya kemampuan untuk berolah-raga," tulis van Cauter di Journal of the American Medical Association. Berbeda dengan laki-laki, para wanita usia setengah baya umumnya tidak mengalami penurunan jangka waktu tidur pulas, dan sekresi hormon pertumbuhan pada wanita tidak berlangsung pada saat ini.

Hormon lain yang juga diteliti dalam riset itu adalah kortisol, sejenis hormon yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap tingkat kesadaran dan ingatan, dan kemungkinan juga menyebabkan pada laki-laki sering mudah terbangun apabila tingkat hormon ini berkurang.

Tingkat pengeluaran hormon kortisol menurun pada laki-laki berumur di atas 50, di mana tidur mereka lebih banyak terputus-putus dan masa tidur yang disebut Rapid Eye Movement (REM), dimana pada saat ini tingkat sekresi hormon ini mengalami puncaknya, menjadi sangat pendek.

Van Cauter menulis bahwa strategi untuk mengarahkan agar laki-laki dewasa bisa tidur lebih baik begitu mereka bertambah usia merupakan salah satu "bentuk terapi hormon yang akan berpengaruh baik pada kesehatan".

Marc Blackman dari Johns Hopkins University School of Medicine menulis dalam editorialnya, bahwa studi ini adalah yang paling besar dalam bidang ini dan secara meyakinkan menunjukkan penurunan secara paralel antara lama fase tidur pulas dan sekresi hormon pertumbuhan pada laki-laki yang beranjak dari usia dewasa menuju setengah baya.

Akan tetapi pertanyaan masih terbuka, kata Blackman dan para ahli yang lain, yaitu apakah pola tidur merupakan akibat dari perubahan tingkat hormon atau sebaliknya.

Para ahli mengatakan, bahwa memberikan terapi hormon pada laki-laki dewasa kemungkinan akan membantu memperbaiki pola tidur mereka, yang kemudian akan bisa menaikkan tingkat hormonnya. Akan tetapi hal ini masih perlu diuji.

Akan tetapi terapi hormon pertumbuhan, yang dianggap merupakan sumber potensi awet muda, menunjukkan hasil yang beragam dan kadang-kadang mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan, kata Dan Brauner, dari Departemen Gerontologi, University of Chicago, yang tidak termasuk dalam penelitian itu.

"Yang orang harus lakukan sekarang adalah tidur sehat・di mana tempat tidur adalah untuk tidur. Jangan tidur di atas tempat tidur sambil nonton TV. Jangan minum minuman yang merangsang seperti kopi sebelum tidur. Dan bangunlah dari tidur setiap hari pada waktu yang tetap," kata Brauner. 
 

Kirim email ke