informasi ini sekedar informasi saja.
kalau mo dilihat dari sisi positif ... yach baik hasilnya
kalau mo dilihat dari sisi negatif ... yach jadi gelap deh !
terserah mo nge-lihat dari sisi mana !!!

nggak untuk di-debat rame-rame ...
cuma kalo gatel mo kasih komentar ... (edit dulu yach ... biar nggak panjang)

zak ayo komentar !
den bagus Oglex juga diundang buat komentar !


:) klopo-ta89

----------------------------------------------------------------------------
nih informasi-nya :

Kenapa populasi masyarakat di Tibet tidak mengalami perubahan yang berarti 
selama lebih dari 200 tahun? Begitulah pertanyaan yang menggoda benak para 
peneliti melihat Tibet yang nyaris tak terdengar dalam soal kependudukan 
selama dua abad. Selidik punya selidik, ternyata dalam menu makanan mereka 
hampir selalu ditemui ercis (Pisum sativum), atau dalam bahasa mereka matar. 
Di Indonesia kacang ini dikenal dengan banyak nama: kacang kapri, kacang 
polong, atau gamet.

Dari penelitian yang intensif di laboratorium akhirnya diketahui, biang kerok 
kejadian itu adalah senyawa kimia yang diberi nama m-xilohidroksiquinon. 
Senyawa ini merupakan senyawa utama yang terdapat dalam minyak kacang ercis. 
Dari hasil pengujian terhadap hewan dan manusia terbukti bahwa senyawa 
m-xilohidroksiquinon sangat efektif untuk mengalangi terjadinya pembuahan 
indung telur oleh spermatozoa. Bahasa medisnya adalah senyawa antifertilitas 
nonsteroida. Senyawa m-xilohidroksiquinon yang terkandung dalam ercis tidak 
bersifat toksik atau racun bagi wanita. Di dalam tubuh, senyawa ini memiliki 
cara kerja yang berlawanan dengan vitamin E yang kadung dikenal sebagai 
vitamin penyubur.

Untuk keperluan pembatasan kehamilan, kacang ercis harus dikonsumsi dua kali 
sebulan, yaitu pada hari ke-16 dan 21 siklus haid. Jumlah asupan sekitar 200 
sampai 250 gr sekali makan. Cara penyajiannya bisa diatur, mau dibikin sayur 
bening, sop, atau jus. Itu semua tergantung pada selera masing-masing. Bisa 
juga dijadikan menu sehari-hari layaknya masyarakat Tibet.
 
Kembang sepatu si tukang ganggu

Sampai saat ini, obat kontrasepsi oral yang efektif dan paling banyak 
digunakan adalah dari golongan steroida. Hampir seratus persen jenis obat 
tersebut adalah hasil sintetis di laboratorium. Memang, tidak semuanya dibuat 
secara sintetis total. Namun, paling tidak obat tersebut merupakan hasil dari 
parsial sintetis bahan alam. Akibatnya, sifat alami dari obat tersebut juga 
berubah drastis, yang berujung pada efek sampingan yang merugikan. Pada 
beberapa orang, efek itu tampak nyata: berat badan tidak terkendali, alergi, 
gangguan pada siklus haid, dll.

Berkaca dari kenyataan tadi, masyarakat mulai menengok ramuan tradisional
yang 
tergusur oleh budaya instan dan global. Kacang ercis bukan satu-satunya
ramuan 
penghambat kehamilan. Masih ada akar kelimpar atau areuy kacembang (Embelia 
ribes). Tumbuhan yang di Indonesia hanya dikenal sebagai obat cacing ini 
mengandung senyawa embelin. Inilah senyawa yang cukup tokcer dalam mencegah 
terjadinya kehamilan. Caranya dengan membuat campuran 7 g seluruh bagian 
tumbuhan areuy kacembang, 7 g cabe jawa atau lada panjang (Piper longum), 
dan 7 g boraks yang diminum setiap hari selama 22 hari dengan tidak melakukan 
hubungan suami-istri. Setelah "puasa" selama 22 hari itu, hubungan intim bisa 
dilakukan. Dengan cara itu, ramuan ini dapat mengalangi terjadinya kehamilan 
selama setahun!

Senyawa rottlerin yang terdapat pada ki meyong (Mallotus philippensis) juga 
bersifat antifertilitas. Penggunaan senyawa ini dengan dosis 10 mg/kg berat 
badan (BB) dapat efektif 100% untuk mengalangi pembuahan selama sepuluh hari, 
dan hanya sekitar 84% dalam 20 hari. Tapi, jika dosis ditingkatkan menjadi 
20 mg/kg BB maka dapat mengalangi terjadinya pembuahan secara total selama 
sebulan.

Dari kalangan tanaman hias, kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) bisa
menjadi 
pilihan lain. Malahan bisa dikategorikan sebagai tumbuhan kontrasepsi AC/DC; 
untuk pria jos, wanita pun manjur. Penelitian di laboratorium memperlihatkan 
bahwa ekstrak kembang sepatu ini memiliki sifat antiestrogenik yang bisa 
menimbulkan terganggunya keseimbangan hormon reproduksi pada pria maupun
wanita. 
Akibat lanjutannya, kegiatan ya, ya, ya, ... pun bebas dari kekhawatiran akan 
memunculkan adik baru.

Pada pria, ekstrak (air rebusan) bunga kembang sepatu selain akan mengganggu 
keseimbangan hormon reproduksi (progesteron), juga akan memberikan efek 
menghambat terhadap perbanyakan sperma, mengganggu fungsi endokrin, dan 
memperkecil ukuran testis. Tapi, pengaruh itu hanya timbul selama pemberian 
ekstrak itu berlangsung. Kalau dihentikan, organ reproduksi akan bekerja
normal 
kembali.

Dalam pengobatan formal, hanya satu jenis senyawa alami dari tumbuhan yang 
telah digunakan sebagai obat konstrasepsi dan diresepkan oleh banyak dokter, 
yaitu senyawa sparteina. Senyawa ini banyak dijumpai pada tumbuhan dari
famili 
Leguminosae atau polong-polongan, terutama marga Ammodendron, Baptisia,
Cytisus, 
Genista, Gobelia, Lupinus, Retama, Sarothamnus, Templetonia, dan Thermopsis. 
Sayangnya, tumbuhan tersebut bukanlah tanaman asli Indonesia. Besar
kemungkinan 
belum pernah ditanam di Indonesia.
 
Pria pun bisa lo!

Dari India juga terkuak adanya kepercayaan masyarakat terhadap beberapa 
tanaman sebagai obat antifertilitas. Tidak kurang tercatat 138 jenis tumbuhan.
Salah satu dari beratus macam tadi adalah dringo atau jeringau (Acorus
calamus). 
Tanaman terna tahunan ini selain sebagai obat tidur, digunakan sebagai
kontrasepsi 
dengan meminum air rebusan rimpang (secukupnya) yang telah dicampur susu. 
Meminumnya setelah datang bulan.

Cara lain adalah dengan memakan biji jarak (Ricinus communis), sehari setelah 
melahirkan. Jika tak mau dengan biji jarak, ada cara lain lagi. Yakni
mencampur 
makanan dengan tepung biji saga manis (Abrus precatorius). Di samping itu ada 
tanaman yang dimanfaatkan dengan menggodok bagian tumbuhan tersebut lalu
diminum 
airnya. Masuk dalam kelompok ini adalah daun plus buah kecubung (Datura
metel), 
akar ki encok (Plumbago zeylanica), buah dan biji biji labu air atau waluh
bodas
(Langinaria siceraria).
Amerika Latin (Puerto Rico, Kuba, Republik Dominika, dan Santa Lucia) juga 
memiliki kearifan tradisional seperti India. Di masyarakat mereka sudah
tumbuh 
kesadaran untuk berpaling ke alam, termasuk dalam upaya menekan jumlah
kelahiran. 
Mereka menggunakan daun dan batang defenbahia (Dieffenbachia seguine), yaitu 
sejenis tumbuhan talas-talasan. Sedangkan di Kepulauan Solomon, yang
dimanfaatkan 
adalah kulit akar palas (Licuala sp.), tumbuhan sejenis palem. Bagian
tumbuhan 
ini harus dikunyah oleh pria dan wanita untuk mengalangi terjadinya kehamilan.

Pulutan (Urena lombata) menjadi alat "bikin dosa" di masyarakat Irlandia.
Dengan 
mengunyah daunnya lalu airnya ditelan, pertemuan sperma dan sel telur pun
urung 
terjadi.

Umumnya, yang menggunakan obat antikehamilan secara oral adalah wanita. Tapi, 
di negara berpenduduk 1 miliar lebih, Cina, terungkap bahwa para lelaki di
sana 
memakan obat kontrasepsi yang terkandung dalam biji kapas (Gossypum sp.).
Biji 
kapas yang diolah menjadi minyak dan digunakan untuk memasak di negeri tirai 
bambu ini mengandung senyawa gosipol yang menjadi kambing hitam bagi
rendahnya 
mutu sperma pria. Bahkan, ia juga memiliki sifat yang dapat mematikan
spermatozoa.

Di samping itu, senyawa ini juga bersifat menonaktifkan enzim yang sangat 
diperlukan untuk spermatozoa dalam membuahi sel telur. Laki-laki yang
mengkonsumsi 
minyak biji kapas akan memiliki sperma yang kurang bagus dan tidak bisa
membuahi 
indung telur di rahim wanita.
 
Hati-hati keguguran
Meski berasal dari alam, 
yang notabene sedikit - untuk tidak menyebut tidak ada - efek sampingannya, 
penggunaannya harus hati-hati dan bijak. Seperti beberapa waktu lalu ketika
sebuah 
tabloid terbitan Jakarta memuat artikel mengenai ki urat (Plantago major)
yang 
dapat meningkatkan libido atau gairah seksual pada pria.

Beberapa literatur kuno memang menyatakan bahwa ada suku bangsa di dunia yang 
menggunakan ki urat sebagai aprodisiak. Akan tetapi, dalam literatur yang
sama, 
juga disebutkan bahwa ki urat bisa mengakibatkan sterilitas atau
ketidakmampuan 
membuahi sel telur pada sperma pria. Bagi mereka yang sudah memiliki beberapa 
keturunan, barangkali ini akan cukup menguntungkan; sambil ber-KB sekaligus 
meningkatkan kebugaran tubuh dan keharmonisan rumah tangga. Namun bagi yang
masih 
mendambakan anak, tunggu dulu! Bugar ya, tapi sperma jadi loyo.

Jadi perlu dimengerti bahwa tidak semua tanaman aman digunakan untuk satu 
tujuan tertentu. Satu tumbuhan bisa mengandung puluhan, bahkan ratusan,
senyawa 
kimia dengan beragam khasiat dan kegunaan. Pun dengan dosis yang akan
digunakan 
akan sangat mempengaruhi diperolehnya khasiat yang diinginkan dan efek yang
tidak 
diinginkan.

Kehati-hatian juga diperlukan bagi wanita yang ingin ber-KB alamiah. Beberapa 
jenis tanaman bersifat mendua: antifertilitas, tapi juga dapat menyebabkan 
terjadinya keguguran (abortifacient).

Parsley (Petroselinum sativum) yang biasa terdapat pada makanan ala Barat 
mengandung suatu senyawa yang disebut apiol. Senyawa ini dalam dosis tinggi 
dapat menyebabkan keguguran. Begitu juga dengan minyak inggu (Ruta
graveolens), 
tansy (Tanacetum vulgare), pennyroyal (Hedeoma pulegioides), dan minyak
savin (
Junioerus sabina). Keempat jenis minyak ini dalam konsentrasi tinggi dapat 
menyebabkan kontraksi yang berlebihan pada rahim (uterus). Sedangkan minyak 
castor dapat menyebabkan iritasi pada rahim. Pala (Myristica fragrans) dengan 
senyawa miristisin, elemisin, dan safrol yang dikandungnya bisa pula 
mengakibatkan keguguran jika dikonsumsi berlebihan (lebih dari tujuh buah
sehari). 
Bahkan jika dikonsumsi lebih dari sembilan buah bisa membahayakan
kelangsungan 
hidup sang ibu.

Perhatikan pula dengan beberapa jenis bumbu, buah-buahan, atau bahan tumbuhan 
antifertilitas yang banyak terdapat di sekitar kita, tapi berpotensi
menyebabkan 
keguguran, seperti jeruk bali (Citrus maxima), merica (Piper nigrum), temu
putih 
(Curcuma zadoaria), seledri (Apium graveolens), buah nona (Annona squamosa), 
jintan putih (Cucuminum cyminum), cendana (Santalum album), delima (Punica 
granatum), jasmin atau melati areuy (Jaminum grandifolium), kelor (Moringa 
oleifera), cempaka (Michelia champaca), mentimun (Cucumis sativus), paria 
(Momordica charantia), dan pule pandak (Rauvolfia serpentina) yang biasa 
digunakan untuk obat hipertensi. Walaupun begitu, jangan terlalu khawatir
karena 
penggunaan secara berlebihan yang dapat menyebabkan keguguran. 


(Andria Agusta, Lab. Fitokimia, Puslitbang Biologi, Bogor)

Kirim email ke