Semoga Bermanfaat Mohon Maaf Lahir Batin ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, November 24, 2000 4:45 PM Subject: [daarut-tauhiid] Indahnya Pahala Menahan Amarah > Assalamu'alaikum wR wB. > > Indahnya Pahala Menahan Amarah > > "Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan > pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di > depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari > sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi) > > Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup > memang berbeda-beda. Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian > sulit dengan perasaan tenang. Namun, ada pula orang yang menghadapi > persoalan kecil saja ditanggapinya dengan begitu berat. Semuanya bergantung > pada kekuatan ma'nawiyah (keimananan) seseorang. > > Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan > tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan > keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi dengan orang lain. Orang yang > memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong hati orang lain > dengan respon pemaaf, tenang,dan lapang dada. > > Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang > yang menghina diri kita. Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita > terlempar dari kesadaran. Kita begitu merasa tidak mampu menerima > penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan cara menumpahkan > darah. > Na'udzubillah. > > Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi > saw. Dengan maksud ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, > lalu bersabda, "Aku berbuat baik padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu > tidak bagus." Para sahabat merasa tersinggung, lalu ngerumuninya dengan > kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat agar mereka bersabar. > > Kemudian, Nabi saw. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan > membawa Barang tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi > itu, "Aku berbuat baik padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah > membalas kebaikan Tuan, keluarga dan kerabat." > > Keesokan harinya, Rasulullah saw. bersabda kepada para > sahabat, "Nah,kalau pada waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau > dengar, kemudian engkau tidak bersabar lalu membunuhnya. Maka, ia pasti > masuk > neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, maka ia selamat." Beberapa > hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting > yang > berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya > dengan taat dan ridha. > > Rasulullah saw memberikan contoh kepada kita tentang > berlapang dada. Ia tidak panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang > memang demikianlah karakternya. Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman > terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan kezhaliman. Namun, Rasulullah saw. > tidak berbuat demikian. > > Beliau tetap sabar menghadapinya dan memberikan sikap yang > ramah dan Lemah lembut. Pada saat itulah, beliau saw. ingin menunjukkan > pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih tinggi nilainya daripada > harta > benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang bertumpuk yang dipakai > untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja,unta yang telah mendapatkan > kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan untuk > menempuh perjalan jauh. > > Adakalanya, Rasulullah saw. juga marah. Namun, marahnya > tidak melampaui batas kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah > pribadi melainkan karena kehormatan agama Allah. > > Rasulullah saw. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah > fasik (dosa),dan memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. > Bukhari) > > Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, > pengutuk, kata-katanya keji dan kotor." (HR. Turmudzi) > > Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya > berontak, dan mampu menahan diri di kala mendapat ejekan, maka orang > seperti inilah yang diharapkan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi > dirinya > maupun masyarakatnya. > > Seorang Hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan > mampu memutuskan perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah > tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi > rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa memunculkan permusuhan di > masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang tidak memiliki > ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. > Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil > pasangannya. > > Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam > dadanya. Maka, tumbuh pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa > kesadarannya dan kemurahan hatinya. Kesabarannya pun bertambah besar dalam > menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah memarahi seseorang yang bersalah > dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya. > > Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan > amarahnya, mengekang lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib > baginya,melatih diri dengan cara membersihkan dirinya dari > penyakit-penyakit hati.Seperti, ujub dan takabur, riya, sum'ah, dusta, > pengadu domba dan lain sebagainya. > > Dan menyertainya dengan amalan-amalan ibadah dan ketaatan > kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi Allah swt. > > Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah saw. bersabda, "Apakah > tiada lebih baik saya Beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah > meninggikan gedung-gedung dan mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat > menjawab, "Baik, ya Rasulullah." Rasulullah saw bersabda, "Berlapang > dadalah kamu terhadap orang yang membodohi kamu. Engkau suka memberi maaf > kepada > orang yang telah menganiaya kamu. Engkau suka memberi kepada orang yang > tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, engkau mau bersilaturahim > kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan engkau." (HR. Thabrani) > > Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk > kepada sesuatu, naiklah kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu > langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah kutukan itu ke bumi, lalu > dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, berkeliaranlah ia > kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi > kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak > mendapat laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang > yang mengutuk (kembali ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud) > > Wallaahu A'laam > > Wassalamu'alaikum wR wB. > > > -------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~> > eLerts > It's Easy. It's Fun. Best of All, it's Free! > http://click.egroups.com/1/9699/2/_/8396/_/975064899/ > ---------------------------------------------------------------------_-> > > ============================================================================ ================= > Untuk berlangganan kirimkan e-mail kosong ke [EMAIL PROTECTED] > > Untuk berhenti kirimkan e-mail kosong ke [EMAIL PROTECTED] > (Jangan lupa me-reply e-mail konfirmasi yang dikirimkan sistem) > > Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar > ============================================================================ ================= > >
