Semoga Bermanfaat
----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, November 24, 2000 1:44 PM
Subject: [daarut-tauhiid] Artikel : Tingkatan Puasa


>
>
> TINGKATAN PUASA
>
> Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulumuddin membagi puasa dalam tiga
tingkatan
>
> 1. Puasanya orang Awam
> 2. Puasanya orang Khusus
> 3. Puasanya orang Super Khusus.
>
>
> PUASANYA ORANG AWAM
>
> Puasanya orang awam adalah puasa yang hanya menahan perut (dari makan dan
minum)
> dan  kemaluan  dari  memperturutkan  syahwat.  Rasulullah  SAW bersabda,
"Berapa
> banyak  orang  yang  berpuasa,  namun tidak didapatkan dari puasanya itu
kecuali
> haus dan lapar." (Hadits Riwayat  Turmudzi)
>
> Imam Al-Ghazali berkata :
> "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari
puasanya itu
> selain  lapar  dan  haus.  Sebab,  hakikat  puasa itu adalah menahan hawa
nafsu,
> bukanlah  sekedar  menahan  lapar  dan haus. Boleh jadi orang tersebut
memandang
> yang haram, menggunjing dan berdusta. Maka yang demikian itu membatalkan
hakikat
> puasa."
>
> Para Ulama berkata:
> "Betapa  banyak  orang  yang  berpuasa  padahal  ia berbuka (tidak
berpuasa) dan
> betapa  banyak  orang  yang  berbuka  padahal ia berpuasa." Yang dimaksud
dengan
> orang yang berbuka tetapi berpuasa ialah menjaga anggota tubuhnya dari
perbuatan
> dosa sementara ia tetap makan dan minum. Sedangkan yang dimaksud dengan
berpuasa
> tapi berbuka ialah yang melaparkan perutnya sementara ia melepaskan
kendali bagi
> anggota tubuh yang lain."
>
>
>
> PUASANYA ORANG KHUSUS
>
> Yaitu  puasanya  orang-orang sholeh, yang selain menahan perut dan
kemaluan juga
> menahan semua anggota badan dari berbagai dosa, kesempurnaannya ada 7
perkara.
>
> 1  Menundukkan  pandangan  dan  menahannya  dari  memandang  hal yang
dicela dan
>    dibenci, kesetiap hal yang dapat menyibukkan diri dari mengingat Allah
SWT.
>
> 2  Menjaga  lisan  dari  membual,  dusta, ghibah, perkataan kasar,
pertengkaran,
>    perdebatan  dan  mengendalikannya  dengan diam, menyibukkan dengan
dzikrullah
>    dan membaca Al-qur'an.
>
> 3  Menahan pendengaran dari mendengarkan setiap hal yang dibenci (makruh)
karena
>    setiap hal yang diharamkan perkataannya diharamkan pula mendengarnya.
>
> 4  Menahan  berbagai  anggota  badan  lainnya dari berbagai dosa seperti
tangan,
>    kaki  dari  hal-hal  yang  dibenci,  menahan perut dari memakan makanan
yang
>    subhat(meragukan) pada saat tidak puasa (berbuka).
>
> 5  Tidak  memperbanyak  makanan  yang  halal  pada  saat  berbuka  sampai
penuh
>    perutnya,  karena  tidak ada wadah yang dibenci oleh Allah kecuali
perut yang
>    penuh   dengan  makanan  halal.  Bagaimana  puasanya  bisa  bermanfaat
untuk
>    menundukkan  musuhnya  (setan)  dan  mengalahkan  syahwatnya  jika
orang yang
>    berpuasa  pada saat berbuka melahap berbagi makanan sebagai pengganti
makanan
>    yang  tidak  dibolehkan  memakannya  pada siang hari?. Bahkan menjadi
tradisi
>    menyimpan  dan  mengumpulkan  makanan  sebagai  persiapan  pada  saat
berbuka
>    padahal  makanan  yang  tersimpan  itu  melebihi  kapasitas perut kita
bahkan
>    mungkin bisa untuk makanan satu minggu, astaghfirullah.
>
> 6  Mengurangi Tidur. Banyak orang yang termakan oleh hadits dhaif (lemah)
"bahwa
>    tidurnya  orang  berpuasa  adalah  ibadah",  padahal  telah menjadi
kebiasaan
>    Rasulullah  SAW,  "apabila  bulan Ramadhan tiba, beliau melipat alas
tidurnya
>    (mengurangi  tidur),  mengetatkan  sarungnya  (yakni bersungguh-sungguh
dalam
>    ibadah),   serta   mengajak   keluarganya  berbuat  seperti  itu  pula"
(HR.
>    Bukhari-Muslim)
>
> 7  Cemas   dan   harap.   Hendaklah   hatinya  dalam  keadaan
"tergantung"  dan
>    "terguncang"  antara  cemas  dan  harap  karena  tidak  tahu  apakah
puasanya
>    diterima dan termasuk golongan yang Muqorrobin atau ditolak sehingga
termasuk
>    orang  yang  dimurkai  oleh Allah SWT. Hendaklah hatinya selalu dalam
keadaan
>    demikian setiap selesai melakukankebaikan.
>
> Hadits-hadits Rasulullah SAW
>
> "Puasa  adalah  perisai  (tabir  penghalang  dari  perbuatan dosa). Maka
apabila
> seseorang  dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu
yang keji
> dan janganlah ia berbuat jahil." (Hadits Riwayat Bukhari - Muslim)
>
> "Lima  hal  yang  dapat  membatalkan  puasa:  berkata dusta, ghibah
(menggunjing
> orang),  memfitnah,  sumpah dusta dan memandang dengan syahwat." (Hadits
Riwayat
> Al-Azdiy)
>
> "Barangsiapa  yang  tidak  dapat  meninggalkan  perkataan kotor dan dusta
selama
> berpuasa,  maka  Allah  SWT  tidak  berhajat  kepada  puasanya." (Hadits
Riwayat
> Bukhari)
>
> "Orang  yang  menggunjing  dan  mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu
dalam
> perbuatan dosa." (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
>
>
>
> PUASANYA ORANG KHUSUS LEBIH DARI KHUSUS
>
> Yaitu  puasa  hati  dari berbagai keinginan yang rendah dan
pikiran-pikiran yang
> tidak berharga, juga menjaga hati dari selain Allah secara total. Puasa
ini akan
> menjadi  "batal" karena pikiran selain Allah (pikiran tentang dunia). Ini
adalah
> puasanya para Nabi dan Rasul Allah SWT.
>
> Nah bagaimana dengan kualitas puasa kita nanti?
>
>
>
> file://AG
>
>
>
> -------------------------- eGroups Sponsor -------------------------~-~>
> eGroups eLerts
> It's Easy. It's Fun. Best of All, it's Free!
> http://click.egroups.com/1/9698/2/_/8396/_/975051776/
> ---------------------------------------------------------------------_->
>
>
============================================================================
=================
> Untuk berlangganan kirimkan e-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
>
> Untuk berhenti kirimkan e-mail kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
> (Jangan lupa me-reply e-mail konfirmasi yang dikirimkan sistem)
>
> Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
>
============================================================================
=================
>
>

Kirim email ke