Militer Israel Lakukan Sensor Ketat Terhadap Tayangan Serbuan Militernya Atas Palestina




eramuslim - Pemerintah Israel telah melarang tayangan film-film dokumenter tentang penyerbuan militer Zionis ke dalam teritorial Palestina. Larangan itu dikeluarkan menyusul siaran TV yang memperlihatkan gempuran pasukan Israel ke sebuah kamp pengungsi Palestina di Betlehem.

Menteri Pertahanan Israel, Benjamin Ben-Eliezer, tulis harian Israel Haaretz, telah menginstruksikan seluruh tentara pendudukan Zionis untuk melarang para kru televisi mengikuti para serdadu selama operasi penyerbuan mereka pada pemukiman warga sipil Palestina di daerah pendudukan.

"Ini perintah baru menyusul kritikan pedas tentang perilaku tak manusiawi para serdadu Israel yang ditayangkan akhir pekan lalu pada televisi Channel Dua," tulis harian tersebut.

Sejumlah media Israel prihatin, bahwa sensor tayangan televisi yang menggambarkan perilaku buruk tentara Israel tersebut akan mengurangi pandangan tentang konflik yang sesungguhnya terjadi dengan Palestina. Kejadian itu dilaporkan harian Kanada Toronto Star.

Ben-Eliezer mengatakan pada Komisi Pertahanan dan Hubungan Luar Negeri Knesset tentang kebijakan baru tersebut. Langkah itu, katanya, dimaksudkan untuk merespon permintaan anggota Knesset Yosef Lapid yang menanyakan, "Kenapa tentara mengizinkan kru TV mengikuti tentara dalam misi semacam itu?"

Lapid lebih lanjut mengatakan, para kru yang sama kemudian menyiarkan laporan-laporan yang menghancurkan reputasi Israel.

"Ini bukan pertama kalinya pemerintah Israel memberlakukan sensor media. Bukan hanya mengenai tayangan lokal, tapi juga liputan internasional. Ada upaya yang mirip seperti selama berlangsung Intifada pertama," ujar Dr. Naela Hamdy, profesor ahli komunikasi massa pada Universitas Amerika di Kairo.

"Jelas bahwa pemerintah manapun akan bersikap seperti itu. Mereka pasti merasakan bahwa jika publik harus melihat tayangan panjang TV semacam itu, mereka mungkin simpatik pada "pihak lain. Media dikenal menjadi kekuatan yang cukup untuk mengubah opini publik dalam waktu yang lama," tambah Hamdy.

Merespon pertanyaan, apakah kontrol terhadap media bertujuan untuk membentuk publik opini, Hamdy mengatakan, bahwa walaupun warga sipil Israel memiliki sumber-sumber berita alternatif, itu nampaknya tidak membuat mereka akan merubah persepsi mereka. "Kebanyakan masyarakat di negeri manapun cenderung tidak begitu jauh menyimpang dari mainstream pemikiran yang ada. Khususnya pemikiran yang berasal dari pesan-pesan media setempat," ujarnya.

Namun begitu Hamdy mengatakan, bahwa pemerintah di mana pun cenderung untuk menjadi sensitif, khususnya selama masa-masa perang.

"Intifada Al Aqsha sesungguhnya hampir mirip sebuah perang. Jadi, ini adalah saat-saat dimana anda bisa melihat berbagai perilaku demikian. Dan pasti muncul kecemasan tentang bayangan-bayangan negatif, baik di dalam maupun di luar negeri," ujar Hamdy.

"Kontroversi mencuat kemarin, menyusul tayangan jaringan televisi swasta Channel 2 yang terbilang amat jarang tersebut. Dalam tayangan cukup panjang itu diperlihatkan penyerbuan tentara Israel ke suatu kamp pengungsi Palestina baru-baru ini di Betlehem," lapor the Star.

"Tentara Israel menegaskan, dengan menayangkan adegan yang mengguncangkan itu, Channel 2 telah melanggar kesepakatan. Dan militer berhak untuk mensensor tayangan itu. Adegan yang menghebohkan itu memperlihatkan anak-anak Palestina yang tengah menyaksikan ibu mereka yang mati bersimbah darah setelah serdadu Zionis menghancurkan rumah mereka," lapor Toronto Star lebih jauh.

Channel 2 merupakan satu-satunya stasiun yang menyiarkan adegan tersebut. Sementara jaringan televisi lainnya diminta untuk menghapus tayangan itu.

Di tempat lainnya, seorang operator kamera Israel yang bekerja pada suatu kantor berita yang biasa menyuplai beritanya ke semua jaringan televisi, diijinkan memasuki kamp bersama pasukan Israel setelah kantor humas militer menuntaskan persoalan tayangan tersebut.

Tayangan panjang itu yang disiarkan pada hari Jum'at dan Sabtu oleh Channel 2, memperlihatkan secara runut, bagaimana para serdadu Israel menghancurkan pintu-pintu kamp pengungsi Palestina. Adegan selanjutnya, setelah gagal menghancurkan sebuah pintu, serdadu tersebut mengikuti perintah komandannya menggunakan bom untuk meledakkan sebuah rumah warga Palestina.

"Para serdadu Israel terlihat memasuki suatu rumah, dan mendapatkan seorang ibu yang tengah terluka tak berdaya di atas lantai. Sementara anak-anak mereka yang ketakutan menangis tersendat-sendat menyaksikan sang ibu yang tengah terkapar tak berdaya. Selanjutnya sang ayah mencoba memanggi ambulan. Tetapi jelas, ambulan itu tidak bisa masuk, karena tertahan di pos pemeriksaan militer.

Anak perempuan si ibu yang masih kecil memohon pada serdadu-serdadu Israel untuk tak menjebol dinding kamar mereka yang berdempetan dengan kamar lainnya itu. Namun para serdadu yang kalap itu tak mempedulikan permohonan gadis cilik tersebut.

Anggota keluarga yang lain mencoba lagi. Ia meminta hal yang sama pada para serdadu Israel tersebut. Tapi ia dihardik untuk tidak bicara lagi.

Selanjutnya, salah seorang serdadu kembali menghadap kamera seraya berkata; "Saya tidak tahu apa yang akan kita lakukan di sini. Jelas, tempat ini kotor. Tidak jelas buat saya apakah seorang serdadu Yahudi akan bekerja begitu jauh dari rumahnya hanya untuk membersihkan rumah ini." Wanita Palestina itu akhirnya mati karena luka-lukanya yang parah."

Demikian penuturan laporan Toronto Star lebih rinci.

Namun Aviv Lavie, seorang kritikus media dari Haaretz mengatakan, tayangan panjang itu hanyalah puncak dari gunung es dari apa yang sesungguhnya terjadi di berbagai kawasan Palestina ketika militer Israel melakukan operasi ke berbagai pemukiman warga sipil Palestina.

"Banyak warga sipil, wanita dan anak-anak, telah mati sejak awal bulan ini di Tepi Barat dan Gaza. Secara praktis, tak satupun peristiwa itu dijangkau televisi-televisi Israel," tulis Lavia.

Israel mempunyai suatu aturan sensor militer yang berhak memberangus berita/gambar apapun --baik berasal dari jurnalis dalam mapun luar negeri-- yang terjadi di kawasan Palestina dan dianggap membahayakan keamanan negara tersebut. (stn/iol)


"Khaibar - Khaibar Ya Yahud..."
(Seruan Rasulullah dalam perang Khaibar melawan bangsa Yahudi..)
 

Kirim email ke