MALEK MAHMUD DAN ZAINI ABDULLAH AKAN JADI RAJA BERSIUNG DI ACEH. PENGIKUTNYA
ADI LAWEUNG BURUH BRR, ZAKARIA SAMAN PEMAIN SAMAN, LI PAYA PEMBAWA TAS HITAM
BERISI SURAT-SURAT KABAR CINA, SIAPA LAGI? DAN SI MAMAT SUDIRMAN BOLDOK TUA
JAWA ITU PULA AKAN MENJADI ANJING BOLDOKNYA MEREKA BERDUA DAN SAMBIL-SAMBIL
DIBERI MAKAN KUTU OLEH BATAK TUA "HOUSEMATE" SERUMAH DENGANNYA.
HAI BOLDOK TUA, BANGSA ACEH TIDAK ADA URUSAN DENGAN KAMU KETURUNAN MONYET
YANG LAHIR DALAM KEBUN TEH DI PULAU JAWA DARI HASIL PERSELINGKUHAN SILANG JAWA
DAN SUNDA, SEHINGGA NAMAMU "SUDIRMAN" SEPERTI NAMA MONYET LUMPUH YANG PERNAH
HIDUP DI HUTAN PULAU JAWA.
Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
Stockholm, 14 November 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
TEUNGKU DI PEUREULAK MASIH BINGUNG DALAM MEMAHAMI ANTARA KEPENTINGAN,
KEADILAN DAN HUKUM DIKAITKAN DENGAN GAM & ACHEH.
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
MENYOROT TEUNGKU DI PEUREULAK YANG MASIH BINGUNG DALAM MEMAHAMI ANTARA
KEPENTINGAN, KEADILAN DAN HUKUM DIKAITKAN DENGAN GAM & ACHEH.
“Persoalan politik yang sedang kita hadapi dengan sedikit mungkin menyinggung
kepentingan dan perasaan sesuatu golongan,kiranya pembacalah yang lebih dapat
menjawab nya.Tetapi penulis mencoba berusaha mendasar kan keputusannya
semata-mata,nyakni kepentingan yang sesuai dengan ke adilan yang harus mendapat
perlindungan hukum,bukan pada ke pentingan-kepentingan liar yang di dakwa
adanya oleh golongan-golongan yang berkepentingan itu sendiri dengan tidak
mengindahkan hak-hak golongan lain.“ (Teungku di Peureulak, [EMAIL PROTECTED]
,[4.227.139.217] , 14 Nov 2006 19:26:33 –0000)
Setelah membaca kutipan diatas yang diambil dari tulisan Teungku di peureulak
yang kadang-kadang menuliskan emailnya dari University of Utah, Salt Lake City
atau kadang-kadang mengirimkan emailnya dari Broomfield, Colorado, USA,
ternyata ditemukan beberapa kepincangan dari apa yang dituliskan oleh Teungku
di peureulak ini. Mengapa?
Karena, Teungku di peureulak kelihatannya tidak mengerti dan tidak memahami
antara ”kepentingan”, ”keadilan” dan “hukum”.
Nah, ketika Teungku di peureulak menulis: “kepentingan yang sesuai dengan ke
adilan yang harus mendapat perlindungan hukum”, ternyata ia masih bingung
menempatkan dimana keadilan dan dimana hukum. Padahal kalau kita mengacu kepada
apa yang telah digariskan Allah SWT: ”…dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil…”(QS An Nisaa’, 4:
58), maka kita akan menemukan bahwa hukum berdiri diatas keadilan. Artinya
disini adalah menetapkan suatu keputusan hukum harus didasarkan pada keadilan.
Karena bisa saja putusan vonis hukum jatuh tidak berdasarkan keadilan. Misalnya
berapa banyak para nara pidana yang meringkuk di penjara-penjara Amerika yang
divonis tanpa keadilan. Mereka divonis tanpa berdasarkan fakta dan bukti hukum
yang kuat yang telah dipertimbangkan secara adil.
Jadi, kalau hukum dipakai alat untuk melindungi kepentingan yang dianggapnya
adil, maka itu tandanya sudah menyimpang dari apa yang telah digariskan Allah
SWT dalam An Nisaa’, 4: 58 diatas.
Sekarang kalau Teungku di peureulak yang mengaku pengikut GAM dibawah
Pimpinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro tetapi menentang Kabinet-nya yang
dipimpin oleh Teungku Malik Mahmud karena dianggap bahwa GAM menjalankan ”ke
pentingan-kepentingan liar yang” yang ”tidak mengindahkan hak-hak golongan
lain”, seperti ketika dilakukan perundingan di Helsinki, Finlandia yang
melahirkan MoU Helsinki, maka anggapan Teungku di peureulak adalah keliru dan
salah. Mengapa?
Karena, yang dimaksud dengan pihak-pihak lain, seperti kelompoknya MP/MB GAM
cs,
Yusra Habib Abdul Gani, orang sesat Tarmizi dan PERMAS yang mana mereka itu
semua sebelum MoU Helsinki ditandatangani sudah melakukan penentangan dan tidak
berada dalam satu komando dibawah Pimpinan Wali Negara Teungku Hasan Muhammad
di Tiro dan Kabinet-nya.
Kalau kelompok-kelompok tersebut berada dibawah payung GAM, tentu saja mereka
akan dilibatkan dalam proses perundingan Helsinki tersebut. Tetapi karena
mereka berada diluar GAM, maka sudah barang tentu tidak bisa dibawah masuk
dalam proses perundingan. Nah, kalau mereka melakukan tindakan oposisi politik
dengan menampilkan rasa ketidakpuasan politiknya itu adalah hak mereka.
Selanjutnya, setelah dilaksanakan isi MoU Helsinki di Acheh, pihak GAM tetap
mengacu pada MoU Helsinki. Kalau pasal-pasal UU PA No.11 Tahun 2006 masih
bertentangan dengan MoU Helsinki, pihak GAM terus memperjuangkan agar MoU
Helsinki ditepati dan dilaksanakan secara konsekuen oleh pihak RI.
Nah, apa yang sekarang dilakukan oleh GAM di Acheh adalah semuanya mengacu
pada MoU Helsinki, bukan kepada UU PA No.11 Tahun 2006 yang masih bertentangan
dengan MoU Helsinki.
Seterusnya, soal kebijaksanaan politik yang dijalankan oleh pihak GAM
sekarang dengan menyokong Ahmad Humam Hamid dan Hasbi Abdullah adalah hak
politik GAM dibawah pimpinan Kabinet-nya Wali Negara Teungku Hasan Muhammad di
Tiro.
Adapun soal siapa itu Ahmad Humam Hamid dihubungkan dengan Partai Persatuan
Pembangunan telah dikupas secara panjang lebar oleh Ahmad Sudirman dalam
tulisan ”Masih tentang Ahmad Humam Hamid yang memang bukan politikus” (
http://www.dataphone.se/~ahmad/061104a.htm )
Nah sekarang, kepentingan politik yang dijalankan oleh GAM adalah mengacu
pada MoU Helsinki, bukan kepada yang lainnya. Karena dengan menjadikan MoU
sebagai dasar pijakan hukum, maka GAM bisa berjalan di Acheh dalam rangka
menuju pada penentuan nasib sendiri di Acheh.
Kalau ada pihak-pihak yang menganggap bahwa GAM menjalankan kepentingan
politik liar, maka itu anggapan yang salah dan tidak benar. GAM tetap mengacu
pada MoU Helsinki. Sekarang kita sudah bisa melihat bahwa pihak RI dalam hal
ini Pemerintah RI dan DPR RI telah melanggar butiran yang disepakati dalam MoU
Helsinki, yaitu tidak konsekuen ketika membuat UU PA yang mengacu pada MoU,
dengan membuang dan menyimpangkan isi MoU kearah yang tidak digariskan dalam
MoU Helsinki. Penyimpangan dan penyelewengan yang telah dilakukan oleh
Pemerintah RI dan DPR RI inilah yang terus akan diperjuangkan oleh GAM agar
supaya diluruskan kembali oleh pihak RI, apabila perdamaian yang menyeluruh,
berkesinambungan dan bermartabat bagi semua pihak dapat terus terwujud di Acheh.
Terakhir, jadi GAM tetap sampai sekarang memegang teguh MoU Helsinki dalam
menjalankan roda kebijaksanaan politiknya di Acheh. GAM tidak mengacu pada yang
lainnya, diluar dari apa yang telah disepakati oleh pihak GAM dan Pemerintah RI
dalam MoU Helsinki. Kalau sekarang ada pihak anggota GAM yang melakukan
penentangan dan pembangkangan terhadap kebijaksanaan politik Pimpinan Tinggi
GAM, maka itu dianggap sebagai suatu usaha pelanggaran hukum dalam tubuh
lembaga GAM, yang konsekuensi hukumnya anggota GAM tersebut dibebaskan dari
tugas yang diembankan kepadanya. Seterusnya digantikan oleh anggota GAM lainnya
yang secara penuh kesadaran dan konsekuen menjalankan tugas yang diembankan
oleh Pimpinan Tinggi GAM kepadanya.
Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk
membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah
Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------
Received: (qmail 62041 invoked by uid 60001); 14 Nov 2006 19:26:33 –0000
Received: from [4.227.139.217] by web57909.mail.re3.yahoo.com via HTTP; Tue,
14 Nov 2006 11:26:33 PST
From: Wilayah Peureulak [EMAIL PROTECTED]
Return address: [EMAIL PROTECTED]
Date: 14 november 2006 20:26:33
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [OPOSISI] Persoalan politik yang kita hadapi.
Assalamu,alaikum,wr,wb.
Persoalan yang kita hadapi adalah begitu menyedihkan hati dan begitu
menyolok mata sehingga kita hampir-hampir tidak dapat mengupas lagi
persoalannya dengan tidak menyinggung ke pentingan ,apa lagi perasaan
suatugolongan. Tetapi "kepentingan" dan "perasaan" suatu golongan itu bukanlah
ukuran ke adilan. Keadilan berdiri di atas segala kepentingan dan segala
persoalan. Kepentingan dan perasaan yang di tegak kan atas dasar ke tidak
adailan tidak mempunyai tempat dalam masyarakat manusia beradap.
Demikian pula ke pentingan bukanlah hak.Hanya ke pentingan yang sejalan
dengan ke adilan yang menjadi hak yang di lindungi oleh hukum.Persoalan
politik yang sedang kita hadapi dengan sedikit mungkin menyinggung kepentingan
dan perasaan sesuatu golongan,kiranya pembacalah yang lebih dapat menjawab
nya.Tetapi penulis mencoba berusaha mendasar kan keputusannya
semata-mata,nyakni kepentingan yang sesuai dengan ke adilan yang harus mendapat
perlindungan hukum,bukan pada ke pentingan-kepentingan liar yang di dakwa
adanya oleh golongan-golongan yang berkepentingan itu sendiri dengan tidak
mengindahkan hak-hak golongan lain.
Dari segala pembicaraan kita nyatalah sudah bahwa pada dasar nya,segala ke
kacoan politik yang sedang terjadi di bumi Acheh kita ini,terletak pada
persoalan keadilan.Persoalan ke adilan timbul dalam masyarakat manusia oleh
karena adanya pertentangan ke pentingan dan pertentangan ke mauan antara
manusia sebagai perseorangan atau antara manusia sebagai golongan,seperti yang
terjadi di bumi Acheh"sekarang"sudah mempunyai sistim ke adilan antara
perseorangan,tetapi belum mempunyai sistim ke adilan antara
golongan-golongan.Dan oleh karena politik di Acheh dewasa ini tidak ada
keadilan.
Dan oleh karena tiap-tiap persoalan politik pada akhir nya menjadi persoalan
ke kerasan"misalnya"ex TNA yang terjadi di seluruh tanah air Acheh dari
golongan-golongan Bangsa yang merasa bahwa mereka sudah di perlakukan secara
tidak adil adalah suatu kesimpulan yang tidak dapat di elakkan.Mereka ex TNA
misalnya"yang merampok berarti telah mengambil ke adilan di tangan mereka
sendiri, karena petinggi-petinggi mereka sudah bersenang-senang,berpelukan
dengan penjajah,makan bersama dengan penjajah,apalagi Negara Acheh ini sudah di
anggap sebahagian dari RI,mereka ex TNA tidak menaruh kepercayaan lagi ke pada
atasan nya.
Jadi ex TNA yang merampok di Acheh,bukanlah ke salahan mereka
semata-mata,melainkan ke salahan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah menggunakan ke
kuasaan nya dengan sewenang-wenang.Satu contoh besar kesalahan Malik Mahmud dan
Zaini Abdullah dalam politik Bangsa Acheh sekarang.Rapat bansigom donya.Sebagai
mana sudah kita tau bersama,dalam ke putusan bersama.GAM tidak mendukung partai
manapun.Ternyata Malik Mahmud dan Zaini Abdullah dengan lantang mengkhianati ke
putusan bersama.Kami pengikut-pengikut GAM bukanlah manusia-manusia goblok yang
tidak mengerti apa-apa.Kami sebagai bawahan punya perasaan dan berfikir,kalau
pemimpin kami sudah berbohong sekali,dia akan berbohong untuk yang ke sekian
kali nya,demi ke pentingan-kepentingan tertentu saja.
Malik Mahmud dan Zaini Abdullah persaingan mereka bukanlah"IRNA"melain kan
persaingan mereka RI,yang wajib mereka lurus kan sebagai mana yang telah mereka
tanda tangani perjanjian bersama antara RI dan GAM.Kita bisa kaji bersam
bertapa goblok nya Malik Mahmud dan Zaini Abdullah mereka sudah menjadi juru
kompanyo PPP.Sementara hasil perjanjian dengan jawa mereka lupakan begitu
saja.UUPA,Undang-undang pemerintah Acheh atau UUPA ujong ujong peubloe Atjeh
tidak di selesai kan dengan tuntas oleh Mahlik Mahmud dan Zaini Abdullah.
Padahal Malik Mahmud dan Zaini Abdullah sangat kami banggakan,sangat kami
hargai,sangat kami puji,sangat kami jaga harkat dan mertabat nya,tetapi apa mau
dikata mereka sendiri tidak menjaga apa yang telah kami berikan ke padanya.Dari
Perdana Mentri Negara Acheh dan dari Mentri luar Negeri Negara Acheh merangkap
Mentri kesehatan Negara Acheh menjadi juru kompanyo PPP,bertapa malunya
kita,bertapa hina nya.Mungkin mereka tidak mempunyai malu lagi sudah di tipek
kulet bui bak muka.
Dari segala keputusan yang telah kita ke mukakan kiranya jelas sudah bahwa
kita menghadapi persoalan politik yang tidak mudah,tetapi penye lesaian nya
tidak dapat di pertanggung jawab lagi,demikian pula kiranya tegas lah sudah
tentang bangkrut dan sia-sianya politik yang di jalan kan oleh Malik mahmud dan
Zaini abdullah selama ini yang pada hakikat nya bertanggung jawab atas segala
malapetaka yang telah menimpa masyarakat kita dewasa ini.Tetapi sampai kemana
dan untuk berapa lama lagi kah kita dapat mengikuti pimpinan yang buta ini
??......Tidak kah selama ini sudah cukup waktu bagi seseorang pemimpin untuk
memper lihat kan ke sanggupan atau ke tidaksanggupan nya untuk memimpin
??...Apakah nasib dan penghidupan jutaan rakyat Acheh akan terus menerus di
kotor kan untuk memenuhi hawa nafsu PPP saja.??.
Kepada pembaca yang budiman,kusus nya ke pada Bangsa Acheh,kalau teungku
/ummi merasa dekat dengan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah tolong sampai kan
tulisan ini pada nya,untuk bahan reningan mereka.
Amin ya rabbal alamin.
Wassalam.
Teungku di peureulak.
----------
---------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam.
http://id.mail.yahoo.com/