http://www.freeacheh.info/B/?to=Berita
  
Reporter: Ris
  Jakarta, acehkita.net
  
Komite Persiapan Aceh Merdeka Demokratik (KPAMD) menyayangkan sikap kebanyakan 
media massa di Aceh yang mengabaikan pemberitaan tentang pelanggaran HAM maupun 
tuntutan pengadilan terhadap pelaku yang terlibat dalam kejahatan kemanusiaan 
sebelum MoU Helsinki ditandatangani.

  "Media massa cenderung memberitakan implementasi perjanjian Helsinki dari 
sisi positifnya, dengan alasan untuk menciptakan situasi kondusif menjaga 
perdamaian," demikian Juru Bicara KPAMD, Eddy L. Suheri, Sabtu (10/6).

Dalam rilis yang diterima acehkita, Komite ini mengkritisi secara terbuka sikap 
media di Aceh. Mereka melihat bahwa masalah kurangnya transparansi dan 
kebebasan pers dalam pemberitaan dikarenakan adanya tekanan dari pihak 
Indonesia melalui militernya untuk membungkam pemberitaan tentang pelanggaran 
HAM dan kejahatan kemanusiaan lainnya. Padahal media memiliki kewenangan 
tersendiri dalam pemberitaan.

"Bila keadaan ini dibiarkan maka media atau press itu sendiri adalah ikut 
melanggar Hak Asasi Manusia. Yaitu hak publik untuk mendapatkan informasi 
aktual maupun faktual seperti dalam artikel 19 Deklarasi Universal Hak Asasi 
Manusia yang menegaskan hak-hak rakyat untuk mengeluarkan pendapat, memberi 
tahu dan diberitahu," sebutnya.

Hak publik dalam bidang komunikasi dan informasi juga terdapat dalam People's 
Communication Charter pada artikel 10 yang dapat diterjemahkan sebagai berikut: 
Bahwa seluruh rakyat berhak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan 
umum berkaitan dengan ketentuan dalam hal informasi; pembangunan dan penggunaan 
ilmu pengetahuan; pemeliharaan, perlindungan dan pembangunan budaya; pilihan 
dan penerapan teknologi komunikasi; dan kelembagaan maupun kebijakan dalam 
industri media. 

Karena itu Komite berharap kepada media massa beserta para jurnalis di Aceh 
agar memahami fungsi dan tugas media sebagai alat informasi dan sarana 
komunikasi yang bekerja untuk suatu kebutuhan fundamental hak asasi manusia.

Namun, dalam rilis tertanggal, New York 9 Juni 2006 ini Komite juga mengakui 
diluar permasalah diatas, keadaan Aceh jauh lebih aman pasca perjanjian 
Helsinki. []
 
http://www.acehkita.net/beritadetail.asp?Id=397

  ----------------------------------------------------
Berita Lainnya:
  • Pengusaha Bata, Batalkan Diri Menuju Meuligoe?
• Deklarasi Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik Untuk Suatu Pemerintahan 
Yang Bebas dan Demokrat
                "BEUGI KEUTURÔNAN ATJÈH, HUDÉP ATEUËH RHUËNG DÔNJA NJOË KON 
ASAI NA HUDÉP MANTONG; GEUTANJOË LEUBÈH DJROH MATÉ NIBAK HUDÉP HINA DIMIJUB 
PEURINTAH BANSA GOB! WN 

              
Jenazah Mukhtar(24) satpam kantor Dinas Sosial Prov NAD,yang meninggal akibat 
penganiayaan oknum polisi, diciumi ibu kandungnya sesaat sebelum dikafankan di 
rumah duka Desa Puni Mata Ie, Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar, Jumat 
(27/10/2006). SERAMBI /MANSHAR
  
Family and colleagues mourn a farmer as he
is prepared for burial.
 

    Massacred in KNPI Lhokseumawe, 60 civilians were brutally butchered by 
Indonesian Occupation Forces


Massacred in Simpang KKA, 250 villagers were brutally butchered by Indonesian 
Occupation Forces 


The Victims tortures before they kills


  
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 

 KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh


KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 

  
   
Local police chief Said Huseini said three "separatist rebels" were shot dead 
Saturday on the outskirts of the provincial capital Banda Aceh. A civilian was 
killed in the crossfire, he said. 

  
 
MASYARAKAT ACEH BERBARING DI TANAH PADA SAAT TNI AD MELEPASKAN TEMBAKAN 
PERINGATAN PADA RIBUAN PENGUNJUK RASA DI LHOKSEUMAWE, PROPINSI ACEH 21 APRIL 
1999. DUA ORANG PENDUDUK TEWAS SETELAH POLISSI DAN TENTARA MEMBUBARKAN UNJUK 
RASA RIBUAN PELAJAR SEKOLAH YANG MEMINTA DILEPASKANNYA 300 ORANG PELAJAR YANG 
TERTANGKAP SAAT UNJUK RASA MENDUKUNG KEMERDEKAAN ACEH BEBERAPA HARI SEBELUMNYA. 
(en/str: REUTERS)

 
Seorang ibu menangis setelah anak kandungnya dibunuh 
secara sangat kejam dan keji oleh babi jawa

 
Seorang anak dan ibunya kembali kerumah yang baru saja dibakar oleh anjing jawa
  
Setelah dibunuh Anjing TNI menyuruh masyarakat kampung untuk mengambilnya 
 

KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh, Kamis, 9 Augustus 2001, Avdelning 4, PT Bumi Flora, Desa Alue 
Rambôt, Kec. Bandar Alam Aceh Timur

 
 
  
  
  
  
  
 
    
        
Pihak keluarga, sejak awal tidak setuju otopsi dilakukan. Karena dari awal 
kejadian mereka sudah bawa korban ke rumah sakit. “Jadi, mengapa setelah sampai 
dua bulan kemudian baru diotopsi. Ini pun dipaksa,” kata Yusuf, abang Muslem. 
Se-usai otopsi. “Kami melihat, meski ada tuntutan tapi tidak ada proses. 
Apalagi, kami masyarakat awam. Kalau pun ada hukum, yang pegang hukum nggak 
adil,” tambahnya.
   
  



  
The wife and children of an Acehnese farmer 
killed by Indonesian soldiers
 
Just In One Day, Over 100 Unarmed Achehnese Civilianswere Unlawfully Killed by 
TNI 

 KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh
 

  KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh


KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 


KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 


KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh

  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 
  
Men in Aceh are questioned by 
Indonesian soldiers 
  
KEBIADABAN, KEGANASAN, KEKEJAMAN, KEKEJIAN, dan KEBUASAN bangsa JAWA terhadap 
Bangsa Aceh 

 
BABI-BABI JAWA MENGADAKAN PEMERIKSAN KEPADA SETIAP KENDARAAN YANG AKAN MENUJU 
KOTA BANDA ACEH TEMPAT DI ADAKANNYA SIDANG RAYA RAKYAT ACEH UNTUK KEDAMAIAN, 10 
NOVEMBER 2000. TINDAKAN KERAS APARAT KEPADA MASYARAKAT YANG AKAN MENGHADIRI 
SIDANG ITU MENGAKIBATKAN BELASAN ORANG MENINGGAL DUNIA. (AP Photo/Ismael) 

 
Seorang student berdiri didepan rumah sekolahnya yang baru saja dibakar hangus 
oleh anjing-anjing TNI
   
Salah seorang masyarakat biasa yg 
dibunuh secara begitu keji dan kejam oleh babi dan anjing jawa-TNI di Kecamatan 
Nilam, Aceh Utara

 
  
Press Release 
To News Editors
July 21, 1999
For Immediate Release 
  ACEH REBEL LEADER CALLS INDONESIAN RULE ABSURD   In a rare interview from his 
exile in Sweden, the leader of the movement fighting for independence in 
Indonesia's northernmost province of Aceh, Hasan di Tiro, says Indonesia has no 
right to govern Aceh. The exclusive interview with the FAR EASTERN ECONOMIC 
REVIEW appears in its July 29 issue, published Thursday, July 22.   The 
uncompromising di Tiro calls Indonesia another name for the Dutch East Indies 
with new rulers, Javanese instead of Dutch. Di Tiro, who declared Aceh's 
independence in 1976 but fled to Sweden three years later, dismisses 
Indonesia's new autonomy legislation as irrelevant. The notion of Indonesia is 
absurd, he says. He also ridicules the Bahasa Indonesia language as "pidgin 
Malay" and calls the Javanese "barbaric and uncivilized."   Di Tiro puts the 
overall strength of separatist forces operating in Aceh at around 5,000. Asked 
what sort of message would he send to a new Indonesian government, perhaps
 one headed by Megawati Sukarnoputri whose party won the largest number of 
votes in June's parliamentary elections, Di Tiro says: "No message. They're all 
the same. Uneducated fools."   The REVIEW obtained the interview amid mounting 
concern that Aceh may be posing a serious challenge to Indonesian unity. The 
REVIEW reports Indonesian military concerns that outside support makes Aceh's 
rebels much more dangerous than the ragtag, poorly armed independence fighters 
of East Timor and Irian Jaya.   Two battalions of troops--backed by 1,700 
paramilitary police from Jakarta--have renewed operations in Aceh response to a 
wave of ambushes, assassinations and arson attacks in recent weeks. In one of 
the worst incidents so far, guerrillas killed five soldiers and wounded 20 in a 
July 19 ambush on a military convoy. More than 70,000 refugees have scattered 
across Aceh.

For further information, please contact:
Michael Vatikiotis
Far Eastern Economic Review
Tel 852 2508 4420
Fax 852 2503 1530 
    

      
The death of the charismatic Syafii, 54, his wife Fatimah alias Aisyah and five 
bodyguards were killed in the head and chest on Tuesday during fierce battle. 
Indonesia accused of treachery over Syafii's killing. (AT) 
 
The remains of great and charismatic Abdullah Syafei (L), 54, his wife Fatimah 
alias Aisyah (R) were taken to their house after verification of identities by 
his brother Zakaria at Sigli hospital on 24 January 2002. Abdullah Syafei was 
the Free Acheh Movement (GAM)' s War Commander who was killed by Indonesian 
troops on 22 January. GAM has accused Indonesian military of treachery over 
Syafii's killing. (AT) 



       
Almarhum Sjahid Jafar Siddiq Hamzah, murdered by Indonesian regime 

"KEBIADABAN KAFIR indonesia jawa tidak akan kita maafkan oleh kita Bangsa Aceh. 
Lihat dalam foto, bagaimana kafir laknat penjajah indonesia jawa membunuh anak2 
Bangsa Aceh di depan ibu2 mereka yang telah tua. Kemudian kafir laknat 
indonesia jawa itu telah mengikat tangan2 ibu mereka.....Demi Allah, kita 
Bangsa Aceh wajib terus memerangi kafir laknat penjajah indonesia jawa 
penyembah berhala burung garuda dan pancasila. KITA BANGSA ACEH JANGAN 
SEKALI-KALI PATAH SEMANGAT dalam memerangi kafir laknat indonesia jawa yang 
biadab itu.
Wassalam, 
Puteh Sarong 


      
  
_______________________________________________________________________________
*Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai 
bangsa terjajah" I D

    *Pada hakikatnya OTONOMI buat aceh hanyalah pengekalan status kita sebagai 
bangsa terjajah" 


      

 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

Kirim email ke