Berita
            Rabu, 29 Nopember 2006, 15:39 WIB
PILKADA
Korban Konflik Kecewa terhadap Calon Gubernur
Reporter : Radzie
  
Banda Aceh
, acehkita.com. 
Para
 korban konflik menyatakan kekecewaannya terhadap delapan pasang kandidat calon 
gubernur/wakil gubernur Aceh, yang tidak mempunyai program yang jelas untuk 
mengusut berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu. Saat mereka 
mau membuat kontrak politik dengan para kandidat, tidak ada satu pun 
kan
didat yang menghadiri undangan para korban konflik tersebut.
    “Ini membuktikan bahwa, selama ini mereka tidak mempedulikan korban 
konflik,” ujar Rukaiyah, seorang korban konflik dari 
Aceh Besar
, dalam acara diskusi di 
Banda Aceh
, Rabu (29/11).
    Diskusi tentang Pilkada yang berpihak kepada korban konflik diselenggarakan 
Komisi Orang Hilang dan 
Tindak Kekerasan
 (KontraS) Aceh bekerjasama dengan Solidaritas Mahasiswa untuk Rakyat (SMUR). 
Panitia diskusi telah mengundang delapan kandidat calon gubernur yang akan 
bertarung dalam Pilkada 11 Desember mendatang.
    
Menurut Hendra Fadli
 dari 
KontraS Aceh
, sebanyak 150 korban konflik hadir untuk berdialog dengan para kandidat. “Kami 
sudah mengundang semua 
kan
didat. Pada awalnya, ada empat 
kan
didat yang menyatakan hadir dalam acara ini,” kata Hendra kepada situs ini.
    Sayangnya, hingga berakhir acara diskusi yang menghadirkan tiga narasumber, 
yaitu 
Afridal Darmi
 (LBH Banda Aceh), 
Usman Hamid
 (KontraS Jakarta), dan Khairani (RPUK), kedelapan kandidat tersebut tidak ada 
yang memenuhi undangan panitia.
    
Usman Hamid
, ketua 
Badan Pekerja KontraS
, menyesalkan sikap para kandidat yang tidak menghadiri dan berdiskusi dengan 
para korban konflik. “Mungkin para kandidat tidak datang ke mari karena 
menganggap bahwa korban konflik itu jumlahnya sedikit,” kata 
Usman Hamid
 di hadapan 150 perwakilan korban konflik yang datang dari 17 kabupaten/kota di 
Aceh.
    Karenanya, Usman meminta kepada lembaga yang selama ini peduli dengan 
isu-isu HAM untuk mendata semua korban konflik yang ada di Aceh. Supaya, “Kalau 
bisa menunjukkan data besar, mereka akan berpikir lagi,” ujarnya. “Mereka 
menganggap suara para korban konflik tidak signifikan dalam Pilkada mendatang.”
    Usman mengharapkan, siapa pun yang terpilih sebagai gubernur Aceh periode 
2006-2011 nanti untuk tidak melupakan berbagai kejahatan HAM masa lalu. 
Menurutnya, kompensasi financial yang selama ini mulai dijalankan, harus 
dibarengi dengan kompensasi moral. “Uang saja tidak bisa menjadi kompensasi 
bagi pelanggaran HAM. 
Itu han
ya bantuan,” kata dia.
    Kompensasi moral yang dimaksud Usman berupa pembuatan monumen atau meseum 
yang mendokumentasikan berbagai kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di 
bumi berjulukan 
Serambi Mekkah
 ini. 
    “Di monumen itu dituliskan nama semua orang-orang yang menjadi korban 
pelanggaran HAM, supaya kita terus teringat dan tidak mengulangi kejahatan ini 
di masa depan,” kata dia. 
    Sementara itu, seorang korban konflik menyebutkan, kompensasi finansial 
dari pemerintah atas berbagai kekerasan yang menimpanya, tidak serta-merta 
membuat dia melupakan kekerasan tersebut. “Saya tidak perlu uang. Yang saya 
butuhkan hanya keadilan. Makanya, setiap ada acara seperti ini, saya selalu 
datang,” kata perempuan asal 
Aceh Besar
 itu, menangis. [dzie]


                
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
 http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke