Kebohongan Hamid Awaluddin Pada Malik Mahmud
Minggu, 13 Agustus 2006 | 18:44 WIB
TEMPO Interaktif, Takengon:Setahun silam, ketika perundingan antara Gerakan
Aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia berlangsung panas, Perdana Menteri GAM
MAlik Mahmud berjanji membawa pimpinan delegasi Indonesia Hamid Awalaudin untuk
berjalan-jalan menikmati pemandangan Aceh. Syaratnya, perjanjian perdamaian
Aceh disepakati.
Melalui perundingan yang alot, kedua belah pihak akhirnya sepakat berdamai 15
agustus setahun silam dengan mediasi mantan Presisen Finlandia Marti Ahtysaari.
Setahun perjanjian itu diteken, perdamaain Aceh betul terwujud. Tidak ada lagi
bedil menyalak di Tanah Rencong.
Janji Malik telah terbayar minggu pagi. Dari atas pesawat helikopter Malik
membawa Hamid menikmati pemandangan laut tawar di kota Takengon Aceh Tengah.
"Alhamdulliah utang pak Malik sudah terbayar hari ini," kata Hamid saat memberi
sambutan kunjungan Mantan Presiden Finlandia Marti Ahtysaari ke Tankengon Aceh
Tengah, Minggu, 13 Agstus.
Dari ketinggian diatas helikopter Malik menunjukkan pemandangan pegunungan yang
menghampar indah di bawahnya pada Hamid. Dalam pesawat tersebut terdapat juga
Marti Ahtysaari, Tokoh GAM Zaini Abdullah dan Duta Besar Finland untuk
Indonesia.
Dalam Acara itu Hamid mebnceritakan perundingan awalnya berlangsung alot.
Masing-masing pihak bersisi kukuh pada pendapatnya. Dia mencontohan saat hari
kedua perundingan Malik menginginkan perundingan mengunakan bahasa Ingris.
Sementara delegasi Indonesia ngotot mengunakan bahasa Indonesia. Pada hari itu
perundingan sempat macet karena membahas bahasa yang akan digunakan. Hamid
lantas mengusulkan perundingan menggunakan bahasa Melayu. Usulan ini diterima
delegasi GAM. "Padahal pada dasarnya bahasa Melayu itu sama dengan bahasa
Indonesia," ujar Hamid sambil terkekeh.
Hamid mengatakan Malik dan Zaini sebegai orang tua yang bijak. Dia mengenang
sore hari usai perundingan mereka bertiga berjalan di pinggir sungai di tengah
cuaca dingin yang menusuk tulang. Dua tokoh GAM ini menasehati Hamid agar
menahan emosi terhadap perkataan Nur Juli salah satu delegasi GAM yang selalu
berbicara keras.
Pada kesempatan ini Hamid juga mengaku telah berbohong pada Malik dan Zaini.
Ceritanya, saat bertemu pertama kali dengan mereka Hamid memperlihatkan sebuah
kopiah. pada Malik Hamid mengaku mendapatkan kopiah itu dari Sofyan Ibrahim
Tiba anggota GAM yang dipenjara di Aceh. Menurut Hamid kejadian itu berlangsung
tsunami menghumbalang Aceh. Hamid mengarang cerita bahwa Sofyan memintanya
menunjukkkan kopiah itu pada tokoh GAM di Eropa dan mengembalikan sesudah
perdamaian tercapai.
Saat bertemu dengan Malik Aceh sudah diporakporandakan tsunami. Sofyan meningal
dalam penjara. Hamid mengatakan kopiah itu tidak bisa dikembalikan karena
Sofyan meninggal terkena tsunami. "Pak malik teripu-sipu saat itu," katanya.
Hamid mengatakan cerita itu tidak benar. Menurutnya, cerita bohong itu dia buat
untuk menggambil hati Malik dan Zaini. "Saya ketemu sofyan tapi kopiah itu
tidak ada itu karangan saya," ujarnya. Cerita bohong itu, lanjut Hamid ternyata
ampuh mendekatkan dirinya dengan tokoh GAM. Ujungnya perundingan berjalan
sukses.
Mendengar pengakuan Hamid, Malik dan Zaini hanya bisa tersenyum-senyum.
"Ternyata Hamid jago juga berbohong".
============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= ===
Habib Daod <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Banda Aceh - Pemecatan Sofyan Dawood sebagai juru bicara GAM memang telah
disepakati oleh seluruh petinggi GAM, termasuk direstui oleh Tgk Hasan Tiro di
Swedia. Disamping itu, diinstruksikan kepada Panglima Wilayah GAM agar
menyelesaikan setiap masalah yang bisa mengganggu pelaksanaan Pilkada NAD. More
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
http://id.mail.yahoo.com/
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!