Ada hal yang paling prinsipil nampaknya terlupa untuk diungkapkannya oleh 
saudari Asri Rahayu ini, yaitu merevisikan UUPA sesuai MoU Helsinki. Andaikata 
program yang dikemukakan saudari Rahayu berhasil tapi persoalan UUPA tetap 
seperti itu, tidak disesuaikan dengan perjanjian Helsinki, sesungguhnya 
kedamaian di Acheh merupakan kedaiamain palsu atau kedamaian dipasung dimana 
persoalan inti Acheh belum terselesaikan.
   
  Kalau boleh saya umpamakan  bahwa Acheh itu bagaikan Sebuah "Kebun Raya" 
dimana pohon Maninjau sudah berhasil ditanam sampai membanggakan kita orang 
Acheh dimanapun berada, namun berhubung pagarnya belum permanen, kalaulah tidak 
kita katakan belem ada sama sekali yang membuat "bina tang perusak" dengan 
mudah nya melahap tanaman yang kita butuhkan itu tadi.
   
  Persoalan UUPA adalah persoalan yang tidak boleh ditawar-tawarlagi walau 
sekedar pelintiran kecil sekalipun.  Ini merupakan harga mati bagi kelansungan 
bangsa Acheh. Hal ini perlu kita ingatkan selalu agar kita tidak tertutup 
dengan materi, pangkat dan segudang kesenangan yang lainnya yang dapat 
meninabobokkan kita. 
   
  Kita sungguh menjakitkan ketika kita lihat masih banyaknya tulisan tulisan 
yang mengarahkan orang awam acheh untuk tetap dalam bingkai Indonesia, seperti 
misalnya sangat senang menyebutkan kata-kata, Aceh sebagai propinsi teladan 
buat propinsi-propinsi lainnya, Sebuatan NAD sebagaimana yang dilakukan oleh 
calon-calon gubernur itu, kecuali Irwandi dan Nazar yang saya baca diprogramnya 
menggunakan istilah Pemerintah Acheh secara berulang-ulang. Apa yang dilakukan 
pasangan tersebut sesungguhnya memiliki nilai yang sangat tinggi bagi 
orang-orang yang mau berfikir.
   
  Yang jelas kita selalu disuguhkan dengan bumbu-bumbu yang meninabobokkan kita 
atau menjauhkan kita dari kesadaran berbangsa dan juga beragama secara Dinamis.
  Dalam hal itu saya salut kepada perjuangan bangsa West Papua yang nampaknya 
memiliki kesadaran yang lebih tinggi daripada bangsa kita Acheh - Sumatra 
sekarang ini, dalam hal pembebasan mereka dari komunitasmanusia-manusia yang 
tamak, rakus dan dhalim.
   
  Wahai bangsaku yang mulia, kita tidak boleh menyembunyikan perjuangan kita. 
Kita musti berbicara terang terangan dengan pemerintah Indonesia tentang 
kepastian penyesuaian UUPA denga perjanjian Helsinki.  Sebetulnya perjanjian 
yang sudah kita setujui itu merupakan suatu pengorbanan bagi kita, hingga kita 
meninggalkan perjuangan bersenjata. Kita yang sudah pasti mendapat redha Allah, 
lalu bersedia mendengar tawaran Dunia Internasional dalam arti kita ingin 
menunjukkan pada Dunia bahwa kita termasuk salah satu Komunitas yang dapat 
bekerjasama dengan Dunia Internasional. Namun kita mengharapkan sangat agar 
pihak Internasional tidak menyia-nyiakan pengorbanan kita itu.
   
  Demikianlah komentar saya  semoga bermanfaat kiranya, Wassalamu'alaikum wr 
wbr. 
   
  Billahi fisabililhaq
  Husaini Daud Sp
  [EMAIL PROTECTED]
  Sandnes, Norwegia
   
  

Halim El Bambi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Artikel terbaru website Aceh Institute (131206) 
Agenda GAM Paska Pilkada Aceh
Oleh: Asri Rahayu | Staf Lembaga Bantuan Hukum Banda
Aceh 

Sekarang saatnya GAM membuktikan diri mampu
menjalankan roda pemerintahan Aceh sesuai kepercayaan
yang telah diberikan oleh basis massanya dan
masyarakat Aceh umumnya. Mampukah pasangan ini
menjalankannya? Mari kita lihat bersama-sama. lalu ada
empat PR untuk pasangan Irwandi Yusuf - M. Nazar. Apa
saja PR itu ? Baca lengkapnya di
http://www.acehinstitute.org/



__________________________________________________________
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com


         

 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.

Kirim email ke