Sabtu, 23 Des 2006,
Setelah Gantung Senjata, Eksponen GAM Berdagang 
   
  Dua Bulan Mampu Jual 50 Mobil Eks Singapura
Selain aktif di ranah politik, beberapa eks anggota GAM kini sibuk mengadu 
peruntungan menjadi pengusaha. Salah satunya lewat PT Pulau Gading yang 
dipimpin mantan Panglima GAM Muzakir Manaf. Bisnis mereka, antara lain, impor 
mobil bekas Singapura ke Sabang.

FAROUK ARNAZ, Sabang

RUMAH tembok itu tampak biasa saja. Bahkan, plester semennya belum diperhalus 
dan tidak dicat. Yang istimewa, rumah berhalaman luas itu saat ini juga 
berfungsi sebagai "showroom terbuka". Di atasnya diparkir puluhan mobil mewah. 
Ada Lexus, Mercedes, Toyota (Harrier, Prado, Landcruiser), BMW, dan mobil-mobil 
lain yang catnya masih mengilap.

Izil Ashar, sang pemilik rumah, sudah beberapa hari ini risau. Hujan yang terus 
turun mengakibatkan mobil-mobil yang teronggok di ruang terbuka itu selalu 
basah.

"Biar kena panas dan hujan seperti ini, dua tahun sekali pun, mobil-mobil 
Singapura ya tetap seperti ini. Itu bedanya dengan mobil dari Jakarta yang 
catnya mudah retak-retak," katanya kalem saat ditemui di "showroom" sekaligus 
rumahnya di Jalan Yos Sudarso, Sabang.

Posisi Izil di sana adalah pimpinan PT Pulau Gading di Sabang. Posisi Direktur 
utama dipegang Muzakir Manaf. Sang panglima "perang" yang setelah Perjanjian 
Helsinki menyerahkan senjata -lantas menggantinya dengan pena dan kalkulator- 
itu biasanya satu minggu sekali datang ke Sabang. 

Izil dipercaya karena mempunyai keahlian di bidang otomatif. Namun, lebih dari 
itu, Izil adalah mantan salah satu petinggi GAM. Dia pernah menjabat panglima 
GAM wilayah Sabang.

Izil mempunyai kemampuan militer karena dulu anggota marinir berpangkat pratu 
yang berdinas di Cilandak, Jakarta Selatan.

Karena itu, oleh masyarakat Sabang yang berada di Pulau Weh itu, dia akrab 
disapa dengan panggilan Ayah Marin.

"Saya desersi tahun 2000 karena keterpanggilan hati. Tapi, urusan itu sekarang 
sudah selesai. Surat pemecatan saya juga sudah ada," katanya.

Izil memang dicari-cari di masa lalu. Dia diyakini melatih anggota GAM di Pulau 
Nasi yang pada awal-awal darurat militer pada Mei 2003 digempur habis oleh 
ratusan pasukan TNI/Polri.

Kini, selain sibuk memanasi mesin mobil serta membersihkan sisa air hujan dan 
debu yang menempel, lelaki 33 tahun itu duduk sebagai ketua Komite Peralihan 
Aceh (KPA) Sabang. KPA adalah organisasi mantan anggota GAM yang disiapkan 
untuk menjadi partai lokal GAM.

Sejak kapan bisnis impor itu? "Sejak Agustus 2005, setelah MoU Helsinki 
ditandatangani," tuturnya. Sejak GAM dan pemerintah RI berdamai, dia tidak lagi 
mendapati hambatan dari aparat setempat, termasuk polisi.

Sebelum mobil Singapura, awalnya Izil mengimpor gula, tepung, beras, dan bawang 
putih. Mobil-mobil itu baru boleh didatangkan ke Pelabuhan Bebas dan 
Perdagangan Bebas Sabang setelah disetujui Badan Pengusahaan Kawasan Sabang 
(BPKS) sesuai dengan Undang-Undang No. 37 Tahun 2000.

Ada 155 unit mobil yang datang sekitar dua bulan lalu. Itu kedatangan pertama 
dan sudah laku hampir 50 unit. Izil sendiri yang mencari mobil-mobil tersebut 
di Singapura. Lalu, berapa modal yang dibutuhkan? "Alhamdulillah, kami bekerja 
sama dengan pengusaha di sana sehingga kami tidak harus bayar penuh untuk semua 
mobil ini. Paling semua modal hanya Rp 1 miliar," bebernya.

Selain PT Pulau Gading, ada lagi pengusaha importer mobil sejenis di Sabang. 
Salah satunya Mr Ang. Lelaki yang juga sempat bergerilya di Lhokseumawe, Aceh 
Utara, itu membeberkan harga per unit mobilnya. Mitsubishi Lancer 1999 Jakarta 
atau 1997 di Singapura (menurut Izil mobil-mobil di Singapura selalu dua tahun 
keluar lebih dulu daripada yang di Indonesia, Red) dibelinya dengan harga Rp 8 
juta.

Biaya pengapalan, upah buruh, pengurusan surat ke polisi dan pelabuhan, hingga 
sampai showroom dan OTR (on the road) di Sabang memakan biaya Rp 7 juta. Mobil 
itu lantas dilepasnya ke konsumen di Sabang dengan sistem cash and carry 
seharga Rp 35 juta.

Harga Nissan X-Trail tahun 2002 bervariasi, antara Rp 130 dan Rp 135 juta. 
Lexus Rp 280 juta, Toyota Celica 1996 Rp 40 juta, serta aneka motor besar dan 
motor trail seperti Yamaha WR 200 cc dilepas Rp 15 juta. Mobil-mobil itu 
disediakan untuk warga Sabang.

Mobil-mobil dengan pelat nomor BL xxx XA itu tidak boleh dibawa menyeberang 
dari Sabang ke daratan Aceh. Supaya bisa dibawa (ke Banda Aceh, misalnya), 
dibutuhkan biaya lagi. Untuk Mitsubishi Lancer 1999, misalnya, biayanya sekitar 
Rp 17 juta, Pelat nomornya berganti, menjadi BL xxx NA. Namun, mobil dengan 
akhiran NA itu juga tidak boleh keluar dari Aceh.

"Jika keluar dari Aceh, pemiliknya hanya diwajibkan membayar lagi sekitar Rp 5 
juta," katanya. Saat dibawa keluar dari Aceh, pelat nomor mobil tersebut akan 
berganti menjadi BL xxx AQ. BL adalah kode depan untuk pelat nomor Aceh.

Tetapi, sekarang mobil-mobil Sabang itu tidak boleh dibawa ke Aceh, apalagi 
sampai keluar Aceh. Belum ada kuota untuk itu. Inilah yang menghambat bisnis 
Izil. Sebab, penduduk Sabang yang jumlahnya hanya 30 ribu orang itu mempunyai 
kemampuan ekonomi terbatas.

"Mustafa Abu Bakar (pejabat gubernur) tidak mau minta rekomendasi Menperindag 
supaya ada kuota bagi mobil-mobil ini untuk bisa keluar dari Sabang," katanya.

Dia berharap agar Irwandi Yusuf (eks GAM juga) yang dipastikan akan menjadi 
gubernur Nanggroe Aceh Darussalam) mendatang mau memperjuangkan izin. Dengan 
demikian, kata Izil, masyarakat Aceh bisa mendapatkan mobil dengan harga murah 
yang pada gilirannya akan memajukan perekonomian. Hanya, langkah itu tentu 
tidak akan populer di mata agen tunggal pemegang merek (ATPM).

Menurut dia, legalisasi jauh lebih baik. Alasannya, pada masa lalu banyak mobil 
eks Singapura di Sabang yang bisa sampai Jakarta dengan proses tidak jelas. 
"Ada yang dibawa dengan pesawat Hercules atau diselundupkan dalam bak truk lalu 
ditutupi gula. Kami tidak ingin yang seperti itu. Kami akan tunggu hingga 
legal," tegasnya.

Keterangan itu dibenarkan mantan Gubernur GAM untuk Kepulauan Aceh dan Sabang 
Abdul Manan yang menemani Jawa Pos bertemu Izil. "Buktinya gampang. Tahun 2000 
lalu ada sekitar 1.000 mobil eks Singapura di Sabang, tapi sekarang mana? 
Hampir tidak kelihatan di sini," katanya.

Izin impor mobil bekas Sabang memang pasang surut. Pada 2000, impor diizinkan. 
Namun, pada 2003, semasa semasa Presiden Megawati Soekarnoputri, impor 
dilarang. Alasannya, merusak industri mobil nasional. Namun, seiring dengan 
penandatanganan perjanjian damai, keran itu dibuka lagi. (*)


Ibnu Sakdan Abubakar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            A scorpion reaches the bank of Kruëng Peureulak, East Acheh and is 
waiting for someone to carry him across the river. Knowing the deadly sting of 
the scorpion no animal has confidence and is willing to render such help to 
scorpion.
  
  While he continues waiting for quite a while a frog passes by on his way to 
the side. “ my dear frog ” the scorpion addresses the frog, “ would You mind 
taking me across, I certainly will not hurt you” . The frog briefly think about 
it agrees. As the scorpion would depend on him he does no see any risk. Hence 
the scorpion climbs on the frog’s back and off they go.
  
  Half way through the river, the frog feels the deadly sting in his back. 
While his strength faints rapidly the desperate frog asks the Scorpion : “ why 
the hell did you do that, we are going to die both of us..!!! ”. The scorpion 
turn around, smiles and answers : “ You stupid frog, didn’t you know that you 
know that you are in Acheh…???..”
   
  ( Kuala Tripa Hotel, 15 Desember 2000 )
   
    
---------------------------------
  Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and 
get things done faster.  

         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke