KOMPAS Sabtu, 13 Januari 2007 100.000 Ha Hutan Bakau Rusak
Banda Aceh, Kompas - Sekitar 100.000 hektar hutan mangrove atau bakau di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam rusak parah. Lembaga swadaya masyarakat hanya mampu merehabilitasi kurang dari 30 persen atau 30.000 hektar hutan mangrove yang rusak. Direktur Eksekutif World Wildlife Fund for Nature Indonesia Mubarak Ahmad di sela-sela acara penanaman mangrove di Desa Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh, Jumat (12/1), menyatakan, kerusakan di pesisir Provinsi NAD sudah memprihatinkan sejak sebelum bencana tsunami. Pada tahun 2003 lebih kurang 288.000 hektar (ha) hutan pesisir sudah terdegradasi. Di Aceh Timur 26.000 ha lahan hutan pantai gundul dan hanya 31.500 ha yang kondisinya baik. Bencana tsunami 2004 merusak 33.000 ha areal tanaman bakau. "Sepanjang 800 kilometer garis pantai dengan lebar sekitar lima kilometer rusak sangat parah," ujar Mubarak. Dia menyatakan bahwa lembaga swadaya masyarakat butuh kerja sama dan kemauan baik dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Panglima Laot Provinsi NAD Tengku Bustamam mengatakan, sering gagalnya pelestarian hutan mangrove akibat masyarakat belum mengerti fungsi tanaman tersebut. "Mereka menjadikan hutan itu tambak karena potensi ekonominya," tuturnya. Perwakilan Wetlands International Indonesia untuk Aceh, Nia Muhammad Ilman, menyatakan, selain faktor masyarakat, "Kalau caranya benar, mungkin dalam lima tahun akarnya sudah cukup kuat," ujarnya. (mhd)
