27 Oct 2004, 11:54 - Jurnalistik
Fery Santoro Kisahkan Hal-hal Unik Saat Bersama GAM 


Sekitar 40-an jurnalis asing dan utusan kedutaan besar berkumpul di Hotel 
Mandarin Oriental untuk memperingati 5 tahun kematian wartawan Belanda, Sander 
Thoenes di Timor Timur pasca-jajak pendapat yang dimenangkan kubu pro 
kemerdekaan. 

Di forum ini pula, Fery Santoro menceritakan kisahnya selama berada dalam 
sekapan GAM. Tulisan ini ditulis Radzie, Redaktur AcehKita dan sudah pernah 
dimuat di situs www.acehkita.com, pada 02 Oktober 2004.


5 TAHUN TEWASNYA SANDERS THOENES
Fery Santoro Kisahkan Hal-hal Unik Saat Bersama GAM

Jum’at (1/10) malam di ruang Rasamala Hotel Mandarin Oriental Jakarta, pukul 
19.05 WIB. Belum ada tetamu yang hadir. Baru sekitar pukul 19.20 WIB, beberapa 
tamu mulai berdatangan. Mereka tak langsung masuk ke ruang pertemuan. Melainkan 
memilih ngobrol di pintu masuk. Terlihat sekitar 20 orang dari berbagai negara, 
asyik ngobrol, sembari menyeduh teh dan kopi hangat. Sesekali terlihat juga 
beberapa dari mereka mengambil sandwich. Beberapa lainnya, masih terus bercakap 
sesama mereka, akrab. Tamu terus berdatangan satu per satu.

Mereka adalah koresponden media asing yang bertugas di Jakarta. Malam itu, 
sekitar 40-an jurnalis asing dan utusan kedutaan besar berkumpul di Hotel 
Mandarin Oriental untuk memperingati 5 tahun kematian wartawan Belanda, Sander 
Thoenes di Timor Timur pasca-jajak pendapat yang dimenangkan kubu pro 
kemerdekaan. 

Sebuah film dokumenter yang menelusuri kematian Thoenes, diputar. Film itu 
dibuat tahun 2002 lalu yang merupakan hasil reportase Stephani Vaessen, Kepala 
Biro Television The Netherlands di Jakarta. 

Dalam film itu ditampilkan beberapa saksi mata yang melihat Sander Thoenes 
sebelum kematiannya. Beberapa saksi mata dengan jelas mengatakan, wartawan yang 
bekerja untuk Financial Times itu dibunuh oleh pasukan TNI Batalyon 745.

Namun ini dibantah oleh Jacob, sang Komandan Batalyon. “TNI tidak terlibat sama 
sekali,” bantah Jacob yang kini bertugas di Bali.

Sander Thoenes terbunuh di wilayah Becora, Dili pada 21 September 1999 lalu 
saat ia membonceng sebuah sepeda motor. Pengendara motor bersaksi bahwa 
tembakan terdengar setelah ia dan Thoenes melihat tentara dari Batalyon 745. 
Roda sepeda motor terkena dan Thoenes terjatuh.

Saksi lain mengatakan, para prajurit tersebut berdiri di atas tubuh Thoenes dan 
terdengar suara tembakan. Sementara motor yang dikendarai Thoenes dinaikkan ke 
atas truk dan dibawa pergi. Batalyon itu sedang ditarik menyusul kalahnya 
Indonesia dalam jajak pendapat. Menurut warga, di sepanjang jalan, serdadu yang 
frustasi itu menembaki apa saja secara membabi buta.

Semua serius menyimak pemutaran film itu. Apalagi pada bagian ketika perempuan 
Timor dalam bahasa Tetun merapati kematian suaminya yang ditembak pasukan 
pemerintah tanpa alasan yang jelas. Selain jurnalis asing, hadir pula beberapa 
perwakilan negara asing seperti dari Belanda, India dan Afrika Selatan.

Beberapa saat sebelum film diputar, seorang pria jangkung yang mengenakan jeans 
dan jaket kulit hitam bertuliskan RCTI News, langsung duduk di samping Dandhy 
Dwi Laksono, Pemimpin Redaksi acehkita. Pria itu adalah Fery Santoro, kamerawan 
RCTI yang ditahan Ishak Daud selama 325 hari di hutan Peureulak, Aceh Timur.

Di tangannya, tergenggam dua eksemplar majalah acehkita. Selama duduk, sambil 
berbincang-bincang dengan Dandhy, ia terus membolak-balik lembar demi lembar 
majalah yang khusus memberitakan konflik Aceh itu.

Matanya terhenti, pada halaman yang memuat foto Ishak Daud bersama istri dan 
kedua anaknya, hasil jepretan wartawati The Jakarta Post, Nani Afrida.

“Ini foto ketika dia membebaskan saya,” katanya.

Ia terus memandangi foto Ishak Daud yang menggendong anak lelakinya, Ambiya 
(3), dengan AK-47 di tangan kanannya. Sementara Cut Rostina, menggendong si 
bungsu di depan mobil ICRC (International Comission for Red Cross).

“Mana foto jenazah Ishak Daud?” dia menunjuk-nunjuk foto sang Panglima GAM itu, 
“saya lihat di situsnya ada. Tapi apa benar?”

“Ibunya sudah confirm,” kata Dandhy, menjelaskan.

Matanya kali ini tertuju pada dua bocah kecil yang ada di gendongan Ishak Daud 
dan Cut Rostina.

“Ini, si Ambiya, anaknya keras,” kata Fery. Terlihat kesedihan memancar dari 
raut wajahnya.

Pembicaraan terputus, setelah Shoep Kagda, salah seorang koordinator Jakarta 
Foreign Correspondent Club (JFCC) berbicara di mikrofon. “Maaf, acara terpaksa 
terlambat. Pak Bambang masih terjebak macet,” katanya menjelaskan.

Pak Bambang yang dimaksud adalah Bambang Harymurti. Pemimpin Redaksi Majalah 
TEMPO ini menjadi salah satu pembicara bersama Fery Santoro dan Dandhy yang 
juga diundang dalam kapasitas sebagai mantan produser Liputan 6 SCTV.

Fery kembali membolak-balik lembar demi lembar majalah acehkita. Ketika dia 
melihat foto warga sipil yang tewas dalam konflik Aceh semasa darurat militer, 
dia menggeleng-geleng kepala.

Saat BHM datang, acarapun segera dimulai. Shoeb dan Stephanie menyatakan, saat 
ini banyak wartawan yang bertugas di Indonesia yang telah menjadi korban. 
Selain Sander Thoenes, juga ada Agus Mulyawan, wartawan Asia Press yang juga 
meninggal di Timor Timur. Lalu ada Ersa Siregar di Aceh dan Muhammad Fuad 
Syarifuddin atau yang lebih dikenal dengan Udin di Yogyakarta. Menurut Shoep, 
rangkaian kejadian ini adalah wujud dari pengekangan terhadap kemerdekaan pers.

***

BHM yang didaulat pertama untuk berbicara, menceritakan kondisi pers Indonesia 
sejak masa kemerdekaan hingga kini. Dia menyebut beberapa contoh kasus yang 
menjadi momok menakutkan bagi kemerdekaan pers di Indonesia. 

Pada masa Soekarno memimpin, kata BHM, Muchtar Lubis dan Indonesia Raya yang 
dipimpinnya merupakan salah satu pihak yang kritis terhadap berbagai kebijakan 
yang ditelurkan pemerintah. Akhirnya, “Muchtar Lubis ditahan dan korannya 
dibreidel,” kata BHM.

Di masa pemerintahan Orde Baru, dia juga mengatakan kontrol penguasa terhadap 
pers semakin besar. Mulai Muchtar Lubis dan Indonesia Raya hingga ke kasus 
TEMPO, Trust, Rakyat Merdeka, Bernas, dan beberapa koran lokal di daerah 
seperti di Gorontalo dan Medan.

Monyet di Hutan “pro-GAM”
Fery Santoro yang berbicara pada sesi kedua, memaparkan pengalamannya ketika 
menjadi sandera GAM di bawah Ishak Daud. Beberapa kali nada bicaranya agak 
gemetaran, ketika menceritakan ulang peristiwa itu. “Lebih enak di penjara 
ketimbang menjadi sandera,” kata Fery sesaat sebelum tampil sebagai pembicara.

“Saya ditahan ketika baru saja pulang dari lokasi pengungsian di Desa Bayeun, 
Aceh Timur. Ketika menuju ke arah Lhokseumawe, saya dicegat beberapa orang 
bersenjata,” kata Fery memulai kisahnya. 

Fery Santoro disandera bersama Sori Ersa Siregar (reporter senior RCTI), 
Soraya, Safrida (kakak beradik ini adalah istri perwira TNI), dan Rachmatsyah, 
sopir. Penahanan itu, kata pihak GAM ketika itu, dikarenakan ada anggota 
militer yang menyusup menjadi wartawan.

Selama dalam penahanan, mereka terus berpindah dari satu gunung ke gunung yang 
lain. Mereka pun, tidur dan makan seadanya. Menurutnya, pernah selama empat 
hari dia tidak makan apa pun untuk mengganjal perutnya. Hanya air yang mengisi 
kekosongan perut.

“Itu pun bukan air putih bening. Air berkeruh, kuning,” katanya.

Setiap dua minggu sekali, pasukan GAM yang menjadi pengawal Fery, Ersa dan tiga 
tahanan lainnya, dirotasi. Di situlah, rasa stress Fery kembali muncul. 
“Pengawal baru ini selalu interogasi dengan membentak-bentak,” katanya.

Pun begitu, katanya, dia dan Ersa diperlakukan sangat baik oleh Ishak Daud.

Malam itu Fery menceritakan pengalaman menarik yang membuatnya kadang tak 
percaya. Menurutnya, hewan-hewan yang ada di dalam hutan seperti berpihak ke 
GAM. Dia sering menjumpai monyet-monyet hutan yang bersuara gaduh ketika ada 
patroli TNI yang lewat. Seperti hendak memberi tanda.

“Tapi kalau yang lewat itu GAM, monyet-monyet itu diam saja,” kata Fery 
tersenyum yang disambut tawa hadirin.

Kejadian aneh lainnya yang dialami Fery adalah ketika ia tidur di kandang macan 
kumbang. Saat itu Fery tidak tahu bila tempat tersebut merupakan “ranjang” sang 
macan. Saat mata hampir terpejam, sang pemilik “ranjang” kembali, ingin 
beristirahat.

Namun sang macan menemukan Fery di dalam kandangnya. Tentu saja Fery takut 
bukan kepalang. “Tenang, Bang. Abang tidak akan diapa-apakan,” kata salah 
seorang anggota GAM yang mengawal Fery. Fery akhirnya beranjak tidur, kendati 
dia tidak tenang. Di dalam gelap, ia melihat sang macan kumbang akhirnya tidur 
hanya dalam jarak 10 meter dari tempatnya. 

“Macan itu tidur sekitar 10 meter dari tempat saya. Saya tidak diapa-apakan,” 
kenangnya.

Selama menjadi sandera GAM, Fery mengaku selalu dihinggapi rasa takut. Apalagi 
jika pasukan GAM berpapasan dengan pasukan TNI. Satu ketika, sekitar pukul 
02.00 dini hari, pasukan GAM dan TNI berada dalam radius yang sangat dekat. 
Jaraknya hanya 10 meter! Fery dan sandera lainnya dihinggapi ketakutan. Namun 
anehnya, kedua belah pihak ini tidak saling menyerang. 

“Mereka saling menghindar,” tandasnya.

Di sana pun, ia belajar banyak. Misalnya saja, ketika terdengar suara letupan 
senjata. “Anggota GAM sangat peka dengan apa yang sedang terjadi. Misalnya, 
kalau ada suara tembakan, mereka tahu radiusnya berapa dan pakai senjata apa. 
Saya sempat diajari mereka untuk peka terhadap masalah ini,” dia memaparkan.

Pernahkah Fery sakit selama hidup di alam liar?

“Saya kena diare selama dua minggu. Tidak ada obat-obatan yang bisa saya 
konsumsi. Untuk mengobatinya, saya makan apa saja yang ada, supaya penyakit 
sembuh,” lanjutnya.

Pada 29 Desember 2003, Fery kehilangan Ersa Siregar yang tewas akibat peluru 
aparat TNI. Saat itu, kata Fery, mereka sedang beristirahat di sebuah gubuk. 
Hanya ada tujuh anggota GAM dengan empat pucuk senjata yang mengawal mereka. 
Tidak ada tanda-tanda akan ada pasukan TNI yang akan mengendus keberadaan 
mereka.

Lima anggota GAM akhirnya keluar gubuk, entah ke mana. Senjata mereka tinggal 
di rumah panggung yang mereka tempati. Hanya Fery, Ersa dan dua anggota GAM 
yang tertinggal. Dua orang ini bahkan tengah memasak. Mereka santai. Rumah 
panggung itu, terletak di ketinggian. Sedangkan posisi TNI, berada agak di 
bawah. Selebihnya, rumah itu dikepung rawa-rawa liar.

Tak berapa lama, suara tembakan terdengar. Ternyata datangnya dari pasukan TNI 
yang hanya berjarak sekitar 50 meter. Semua panik. Satu anggota GAM yang sedang 
memasak, tewas seketika. Fery dan Ersa meloncat ke samping.

“Saya lompat ke arah kiri dan Bang Ersa ke arah kanan,” ujar Fery, “kita 
berusaha menyelamatkan diri masing-masing.”

Ketika sudah terpisah itu, ia tidak tahu apakah Ersa tertembak atau tidak. Fery 
tidak berani beranjak ke arah lompatan Ersa. Tembakan begitu beruntun.

“Kalau saya kembali, saya pasti tertembak. Ketika saya angkat (pindahkan) kaki 
saya, langsung peluru menyambar tempat kaki saya sebelumnya berpijak,” ujarnya.

Juga, ketika ia menghindar sejauh 10 meter dari lokasi pertama dia melompat, 
maka, “Ketika saya bangun, peluru melesat di atas kepala saya. Saya langsung 
tiarap,” katanya lagi.

Ia lalu memutuskan untuk melompat ke rawa-rawa. Akhirnya, bersama seorang 
anggota GAM yang selamat, ia merangkak menyusuri rawa-rawa, menyelamatkan diri. 
Menurut Fery, badannya berdarah akibat duri selama mengarungi rawa-rawa itu.

“Kalau saya datang ke TNI, mereka pasti tidak mengenal saya. Karena wajah dan 
badan saya penuh lumpur,” katanya.

Fery belum mengetahui jika Ersa terkena tembakan aparat TNI. Baru keesokan 
harinya, dia diberitahu Panglima Operasi GAM wilayah Peureulak Ishak Daud. 
“Saya sangat shock dan stres. Saya sempat pingsan beberapa hari,” katanya.

***

Ternyata tak semua koresponden asing mengetahui kondisi riil peperangan di 
Aceh. Hal ini terlihat ketika Dandhy tampil sebagai pembicara. Dandhy 
mengatakan, perang Aceh tidak mendapat tempat yang memadai dalam setiap 
pemberitaan media nasional. Dia membantah Corporate Secretary RCTI, Yanto 
Soegiarto yang di forum itu menyatakan pemberitaan Aceh tak dapat mendongkrak 
rating, sehingga tak banyak media yang mau memberitakan.

“Tayangan Debat Minggu Ini tentang Aceh ratingnya bisa 2,9 asal gambarnya 
bagus, ada kesaksian, ada rekonstruksi, dan tidak hanya pernyataan militer. 
Bahkan, program tentang Aceh saat itu hanya kalah oleh Inul yang ratingnya 5,” 
kata Dandhy. 

Puluhan koresponden asing tertawa.

Dandhy lalu diminta menceritakan perkembangan kasus sengketanya melawan SCTV 
yang saat ini tengah memasuki babakan baru di Pengadilan Tinggi Tata Usaha 
Negara (PT TUN). Didampingi LBH Pers dan AJI, kontributor Radio ABC Australia 
ini memperkarakan putusan tak adil pihak Depnaker/P4P. 

Foto-foto hasil jepretan para fotografer dan koresponden acehkita kemudian 
dipaparkannya dalam slide show. Beberapa koresponden asing terdengar memekik 
pendek saat melihat foto-foto tentang warga sipil yang terkena tembakan. 
Sebelah kepalanya hilang, remuk dengan otak yang terburai.

“Kalau Anda pernah meliput perang, ini adalah jenis luka yang diakibatkan oleh 
tembakan jarak dekat. Sangat dekat. Yang terjadi bukan hanya berlubang, tapi 
pecah!” katanya dalam bahasa Inggris yang tak sefasih BHM.

Mira Woldberg dari Kedutaan Besar Belanda yang duduk tak jauh dari saya, tak 
kuasa memandang. Ia memilih untuk melemparkan pandangan ke sudut ruangan 
lainnya. Seorang koresponden asing lainnya, juga bersikap sama. Fery Santoro 
yang duduk di samping saya, menggeleng-gelengkan kepala. BHM juga terlihat 
memicingkan mata, dahinya berkerut.

Di akhir acara, sesi tanya jawab beralih menjadi ajang perdebatan. Yanto 
Soegiarto dari RCTI mengatakan, pihaknya masih terus memberitakan konflik di 
Aceh. Namun karena alasan rating, RCTI akhirnya tidak terlalu intens lagi 
memberitakan konflik Aceh. Selani itu, menurutnya, biaya liputan di daerah 
konflik juga tinggi. 

BHM mendukung Yanto. “Untuk mengirim seorang wartawan ke lokasi memerlukan 
waktu dua hari dan biaya yang besar,” kata BHM yang baru saja divonis satu 
tahun penjara karena pemberitaan TEMPO tentang Tomy Winata.

“Buktinya, kita juga memberitakan anak umur 14 tahun yang ditembak TNI Yonif 
320 hanya karena pakai celana loreng,” tandasnya. 

Fery Santoro memilih tak ikut berdebat. Kepada Dandhy dan BHM, Fery berjanji 
akan menerbitkan bukunya dalam waktu dekat. “Gak gampang nulis buku. 11 bulan 
itu banyak sekali yang harus saya ingat lagi dan tuliskan,” ujarnya.

Acara usai jam hampir jam 24.00 WIB. Tak terasa, para wartawan asing dan lokal 
itu telah berbagi pengalaman meliput. Mereka pernah keluar masuk Timor Timur di 
masanya. Satu kesimpulan yang tak terucapkan adalah, bahwa di mata wartawan 
yang hadir malam itu, Aceh adalah Timor Timur jilid II.



 
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people 
who know.

Kirim email ke