Teurimeng geunaseh Al Mubarrak. Kalheuh lon batja. BRR njan nakeuh seumalu 
peumate bak mulieng geutanjoe njeng teungeh timoh. Lonkira adak bakmulieng ka 
rajek pih djeuet keu mate peulom manteng tjut-tjut. Saleuem keu sjedara bandum 
disinan.

Taufik Al Mubarak <[EMAIL PROTECTED]> wrote:            jroh-jroh, nyan baro 
ureung Acheh...
  buka website SIRA
  www.sirareferendum.org untuk informasi tentang Acheh
   
  saleum dame

husaini daud <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Mengapa tidak ada bantahan dari pihak kita di Acheh.  Terima kasih Tgk 
Hendra Budian.
   
  

hendra budian <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
                BRA:
Memanipulasi Ayat Suci
Dan MoU Helsinki

          •Osi

Azwar Abubakar (Wakil Gubernur) hingga Yusni Sabi (Kepala BRA) tetap bersikeras 
bantuan yang diberikan pada para korban konflik sebagai diyat. Mengapa dana 
reintegrasi bersikeras disebut diyat?

“Barang siapa yang membunuh manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang 
lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan ia telah 
membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang 
manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan seluruh manusia.” 
(Al-Maidah: 32).

““Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu qisas berkenaan dengan 
orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan 
hamba dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa dari saudaranya hendaknya 
(yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik dan hendak (yang diberi maaf) 
membayar diyat kepada yang memaafkan dengan cara yang baik pula. Yang demikian 
itu merupakan keringanan dari Tuhan-Mu dan rahmat.” (Al-Baqarah:178)

Betapa pentingnya manusia di sisi Tuhan. Bila seseorang membunuh orang 
lain—sekalipun atas nama negara—sama halnya dengan membunuh seluruh manusia. 
Namun, seseorang yang memelihara kehidupan manusia lainnya, maka sama halnya 
dengan ia memelihara seluruh manusia. Inilah konvensi hak azasi manusia.
  
Namun Perang Acheh selama 3 dasawarsa telah banyak membunuh manusia, khususnya 
warga sipil yang merupakan pihak yang tak membunuh manusia lainnya jika kita 
meminjam katagori Ayat Suci tersebut. Apakah kaum serdadu, gerilyawan maupun 
milisia yang dibentuk oleh kaum serdadu itu termasuk kaum yang “seakan-akan ia 
telah membunuh seluruh manusia?”
  
Tidak ada opini ulama untuk menegaskan itu, sekalipun perang itu telah berlalu. 
Juga tidak ada penilaian ulama soal penggunaan istilah diyat untuk bantuan pada 
korban konflik. Bahkan BRA masih saja menggunakan istilah Qur’ani itu dalam 
memberikan bantuan menurut MoU Helsinki.
Aksi diyat mulai berkembang di Acheh, sejak penandatanganan perjanjian RI-GAM 
pada tahun 2000, yang dikenal sebagai Jeda Kemanusiaan. “Sejak Wagub Azwar 
Abubakar yang juga sebagai ketua satkorlak menginisiasi proses ini,” kata 
Hendra Budian dari Acheh Judicial Monitoring Institute mencoba mengingatkan.
  
Penggunaan istilah diyat mencuat ketika ada masalah potong-memotong bantuan 
itu. Tahun 2002, Pemerintah Pusat menyalurkan bantuan untuk keluarga korban 
konflik yang meninggal akibat tindakan kekerasan yang melanggar HAM. Wagub, 
Azwar Abubakar sebagai koordinator penyaluran itu di masa Darurat Militer (DM).
  
Dalam penyalurannya, Penguasa DM Endang Suwarya menerima laporan adanya 
pemotongan dari petugas di berbagai daerah: Kabupaten di Acheh, meliputi 
Kabupaten Pidie, Acheh Barat, Acheh Jaya, dan Bireuen. 
Kejadian itu ditegaskan lagi oleh Kapolda Irjen Pol Bahrumsyah, agar Wagub 
Azwar menyerahkan hasil temuan dari timnya kepada pihak polisi, khususnya pada 
Direktur Reserse. Namun, hingga saat ini, kasus itu hilang ditelan waktu. 
  
Reintegrasi merupakan salah satu agenda perdamaian yang disepakati dalam MoU 
Helsinki 2005. Bahkan bantuan untuk korban konflik menjadi bagian dari proses 
reintegrasi yang menjadi tanggungjawab Pemerintahan RI untuk mengalokasikan 
dananya yang penyalurannya melalui kewenangan Pemerintahan Acheh dalam 
penyalurannya. 
  
Dalam paruh Januari, sekitar 2.949 korban di Acheh Utara masih terus menunggu 
penyaluran dana diyat dari anggaran 2005. Penyaluran tersendat dan istilah 
diyat kembali digunakan. 
  
Tragisnya, dana 2,5 juta per korban itu disalurkan melalui 2 institusi 
pemerintah, yakni melalui Badan Perlindungan Masyarakat (Linmmas) sebesar 1 
juta dan melalui Dinas Sosial (Sekarang Pemberdayaan Masyarakat dan Bina 
Sosial) senilai Rp1,5 juta. Kedua institusi itu pun tak terkoordinasi. Ridwan 
Hasyansah, Kadis Pemberdayaan Masyarakat dan Bina Sosial, Acheh Utara, 
mengatakan: “Persoalan dana diyat berada di Linmas!”
  
Selang minggu, keanehan itu terus menjalar. Dana diyat mencair di Kecamatan 
Baktiya, Acheh Utara. Kecamatan yang lebih besar jumlah korbannya justru belum 
cair, yakni: Kecamatan Lhoksukon (254 korban), Kecamatan Nisam (253 korban), 
Sawang (209 korban), dan Kecamatan Dewantara (94 korban). 
  
Uang yang dibagikan bukannya 2,5 juta, melainkan 3 juta rupiah. Namun, ada 
korban yang protes karena dana yang diterima tidak bulat lagi. Dana diyat sudah 
dipotong Rp. 200.000 hingga Rp 800.000 untuk pelaku yang mencairkan dana itu 
melalui rekening bank BPD. Bahkan dengan cara menumpangi aparat kecamatan. 
Siapakah mereka?
  
Sejak penggunaan istilah diyat hingga mengalirnya dana ke pihak korban terjadi 
pelencengan. “BRA harus memberikan makna diyat itu apa? Jangan asal tempel 
saja,” kritik Hendra Budian, “sehingga menjadi ahistoris. Sebab tak ada istilah 
diyat dalam MoU Helsinki.” 
“Sebetulnya, BRA kembali ke perspektif magashid al-syari’ah dalam 
mendefinisikan korban kalau mau pakai konsep syariat,” usul seorang dosen IAIN 
yang tak mau disebut namanya. Korban adalah mereka yang terlanggar dalam 5 hal 
berikut: agama, jiwa, kelangsungan keturunan, akal pikiran dan harta benda. 
“Pelanggaran terhadap 5 hal itulah yang disebut pelanggaran HAM,” simpulnya. 
  
“Tampaknya ada upaya dari penggerak BRA untuk menggunakan istilah agama untuk 
tujuan politik impuniti. Tak ada ayat suci yang menyatakan negara bisa 
mengatasnamakan pelaku dalam membayarkan konpensasi kepada korban,” tegas 
Juanda Sekjen ACSTF. “Rujuklah pada Al-Baqarah: 178!” Tambah sarjana IAIN 
tersebut.
  
Apa yang dilakukan BRA itu, menurut Hendra, “adalah sebuah upaya penipuan 
korban secara konseptual, sistematis, terencana dan intensif. Bukan saja 
memanipulasi MoU Helsinki, tapi juga memutar konsep diyat dalam ayat suci 
Al-Qur’an. Dan, secara teologi telah melencengkan makna syariah melalui kuasa 
politiknya terhadap yang lemah.”[]
    
28-1-2007 | 18:22 WIB  
  
 
  --------------------------------- 
Hendra Budian 
Program Director 
Acheh Judicial Monitoring Institute (AJMI) 
Jalan Ateuk Jawo No. 27 - Kampong Ateuk Dayah Tanoh
Banda Acheh - Acheh 

Mobile: +62812 697 472 4
  Telephone: 62-651-27432
  Fax : 62-651-27432
  Email : [EMAIL PROTECTED] , [EMAIL PROTECTED]
  

  ----- Original Message ----
From: yusny saby <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, January 30, 2007 6:09:17 PM
Subject: Re: [IACSF] Re: [aca-diaspora] Extraordinary Meeting on Achinese 
Delegation's Support: Urgent!!!!

    Alhamdullah, jroh that oseuha droeneuh Tgk. Lukman. Pakon uroenyan hana 
leumah droeneuh di Banda Aceh. Mudah-mudahan geutenyoe bumurumpok lom teuma. 
Kamoe that meuharap meunyona haba-haba lua lagee bhah seminar, konprensi, dan 
laen-laen. Insya Allah. Wassalam, Yusny Saby 

  On 1/27/07, lukman thaib <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:               
--- Cosmoscopia Club International
<cosmoscopia@ yahoo.de> wrote:

> Saleum Tgk. Luckman, 
> 
> geunaseh kamoe ateuh responsi dan support ateuh
> Achinese Event kolosal nyang phon-phon di diaspora. 
> 
> Bah mangat sukses invitation keu madum delegasi
> sigom donya , kaleuh lon kontak profesor Becker & 
> Prof. Roepke. Uroe Isnin (29.01.2007) na
> extraordiary meeting Komite Aceh Marburg. Lam
> meeting-nyan keumeung dikirem maklumat kilat ke
> mandum institusi Jeurman (Uni Eropa, Indonesia,
> Malaysia, USA, Australia, dan laen-laen) agar 
> jipermudah urosan delagasi Aceh untok hazir lam
> Konferensi Akbar di Marburg. 
> 
> Sponsor dari Volkswagen Foundation ka jitamoeng
> untok support ureung geutanyoe. 
> 
> Bek Tuwoe neukontak Irwandi & Nazar, SIRA, etc. 
> 
> Tgk. Abbas, bek tuwoe neukontak Atjeh Sepakat, Aceh
> Group Jakarta, dll.
> 
> Tgk. Machyar, bek tuwoe neukontak Atjeh Times, etc.
> 
> Tgk. Asnawi, bek tuwoe neukontak Atjeh Union in 
> Scandinavia, etc.
> 
> Tgk. Bachtiar, bek tuwoe neukontak Atjeh
> Representatives in Amsterdam, Rotterdam, etc.
> 
> Tgk. Akbar, bek Tuwoe neukontak Achinese in Paris,
> etc.
> 
> Tgk. Fozan, bek tuwoe neukontak Aceh Groups in Banda
> Aceh, etc.
> 
> Tgk. Iskandar, bek tuwoe neukontak Acheh
> academicians in Australia, New Zealand, etc.
> 
> Wassaleum, 
> 
> Meurah Mai
> 
> 
> 
> 
> Cosmoscopia Club International
> 
> Headquarter EU
> 
> 
> 
> 
> ------------ --------- --------- ---
> Keine Lust auf Tippen? Rufen Sie Ihre Freunde 
> einfach an.
> Yahoo! Messenger. Jetzt installieren . 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com 














  
---------------------------------
  Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and 
get things done faster.   




    
---------------------------------
  Be a PS3 game guru.
Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games.   






                  Taufik Al Mubarak
  chief editor of www.sirareferendum.org 
  mobile: +6281377157681
  e-mail: [EMAIL PROTECTED]
  ________________________
  http://almubarak.multiply.com
   
  Notice:
  You I advise not to work but to fight
  You I advise not to peace, but to victory
  Let your work be fight, let your peace be victory








    
---------------------------------
  Looking for earth-friendly autos? 
Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center.   

         

 
---------------------------------
It's here! Your new message!
Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar.

Kirim email ke