Justru itulah saya berkeyakinan bahwa siapapun yang bersatu padu dalam system
Taghut Hindunesia Hipokrit dan Zalim itu murtad hukumnya, kendatipun dimulutnya
berkomat-kamit dengan dua kalimah taibah atau dua kalimah Syahadah (baca:
Laailaha illa Allaah, Muhammadur rasuulullah). Setelah kalimat tersebut kita
ucapkan dengan lidah, syarat berikutnya kita tasdiqkan di dalam hati atau kita
yakin seyakinyakinya bahwa benar-benar tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi
Muhammad itu utusan Allah. Hal ini masih belum apa apa sebelum kita aplikasikan
dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara. Sementara orang-orang
Hindunesia itu hanya percaya saja dimulut mereka bahwa tidak ada tuhan selain
Allah namun dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak menta'ati Allah diatas
segala-galanya. Dengan kata lain tidak salah kalau kita katakan bahwa mereka
itu tidak mengerti apa sesungguhnya Tuhan itu. Mereka menganggap Tuhan itu
sebagai lambang saja sementara mereka menta'ati Pancasila
dengan UUD 45 yang notabenenya made in Hindia Belanda.
Mereka menempatkan Al Qur-an dibawah Pancasila dan UUD 45. Al Qur-an hanya
mereka gunakan untuk dibaca-baca saja dalam musabaqah, tidak digunakan sebagai
pedoman Hidup. Kalau Allah mengatakan : "......dan barang siapa yang tidak
menghukum dengan hukum yang diturunkan Allah, mereka itulah yang kafir", mereka
tidak menggubris sama sekali firman Allah tersebut, hingga mereka pelintir
sebagai ayat mutasyabihat. Justru itulah tidak mungkinnya hukum potong tangan
buat para koruptor di Acheh selagi penguasa di Acheh harus tunduk patuh kepada
Pancasila, UUD 45 dan wakil-wakil Empu Tantular.
Kalau hal tersebut kita ajak bermusyawarah dengan alasan Demokrasi, pasti
akan menyimpang dari petuynjuk Allah dimana tidak dibenarkan bermusyawarah
sesuatu yang sudah kath'i. Kalau kita paksakan juga untuk bermusyawarah sesuatu
yang sudah ada ketentuan Allah, pastinya pikiran manusia yang dha'if itu akan
menggeser maksud Allah itu sebagaimana kita saksikan ketika ulama-ulama Bal'am
Hindunesia dulu bermusyawarah tentang babi yang sudah jelas haram menurut
Allah, hingga mereka mengambil kesimpulan hukum: "Babi itu haram dimakan tapi
dibudidayakan boleh".
Allah telah berfirman juga: "Diantara manusia ada yang mengatakan, "Kami
beriman kepada Allah dan hari kemudian", padahal mereka itu sesungguhnya
bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka (baca orang-orang yang bersatupadu
dalam system Hindunesia itu) hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman
(baca orang-orang Acheh - Sumatra yang sadar), padahal mereka hanya menipu diri
mereka sendiri sedang mereka tidak sadar (QS, Al Baqarah: 8 -9).
Ayat ini dengan jelas membicarakan sosok manusia yang KTP nya Islam tapi
mereka tidak tunduk patuh kepada Allah. Mereka tiap hari Jum'at meratakan
dahinya di Mesjid-mesjid tapi kerja mereka korupsi, bersatupadu dalam sistem
pembunuh manusia West Papua dan Acheh -Sumatra demi untuk tetap dapat "mencuri"
kekayaan alam yang telah dianugerahkan Allah kepada bangsa Papua dan Acheh -
Sumatra. Justru itulah mereka membela para koruptor agar tidak dipotong
tangannya sebab mereka sendiri duplikat-duplikat koruptor. Mereka mengatakan
kalau memang mau potong tangan pencuri, potong saja pencuri kampungan, pegawai
pemerintah diatur dalam undang-undang negara. Justru itulah Suharto, rajanya
koruptor jangankan untuk dipotong tangan, hukuman penjarapun tidak. Itu adalah
"tuhannya" mereka dulu, hingga patut mereka hormati.
Akibat sepakterjang orang-orang semacam itulah maka banyak orang tidak
tertarik kepada Islam. Mereka mengira Islam itu macam yang diaplikasikan
orang-orang Hindunesia itu. Betapa banyak para 'alim lugu macam itu di
Hindunesuia tapi semuanya takmampu melepaskan diri dari jeratan laba-laba yang
bernama "Garuda Pancasila". Sesungguhnya syaithan telah membisikkan keindahan
Pancasila itu dalam hati mereka, betapapum alimnya diantara mereka tetap
mewarisi "'aqidah" Kiyai Empu Tantular.
Kita ber amar makruf nahi mungkar karena Allah tapi mereka memandang kita
telah menghina mereka. Sesungguhnya sepakterjang merekalah yang membuat mereka
hina, namun mereka tidak sadar. Akhirnya kita mengatakan kepada mereka
sebagaimana kata Allah: "Lakum diinukum waliadiin". Kita sama-sama menunggu
keputusan Allah kelak kalau memang takdapat diselesaikan di dunia ini.
Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
Sandnes, Norwegia.
Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
Stockholm, 5 Maret 2007
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
"GUBERNUR ACHEH" IRWANDI YUSUF MENYUMPAH BUPATI ACHEH UTARA ILYAS PASEE &
WAKIL BUPATI SYARIFUDDIN MENURUT AJARAN MPU TANTULAR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
SUSUNAN KATA-KATA SUMPAH GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA MENURUT AJARAN MPU TANTULAR
DENGAN BURUNG GARUDA-NYA YANG DICAMPURADUKKAN DENGAN ISLAM
"Demi Allah (Tuhan), saya bersumpah/berjanji bahwa saya selaku
Gubernur/Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, dan
seadil-adilnya; bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan
mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, dan bahwa saya akan menegakkan
kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara
serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia" (UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah,
Pasal 42 ayat (3))
"Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf saat melantik Ilyas Pasee & Syarifuddin
sebagai bupati & wakil bupati Aceh Utara 5 Maret 2007.
Bagaimana mungkin syariat Islam bisa ditegakkan di Acheh kalau "Gubernur
Acheh" Irwandi Yusuf dan Wakilnya Muhammad Nazar dan para Bupati dan Wakilnya
seperti Ilyas Pasee & Syarifuddin saja sudah disumpah dengan memakai nama Allah
untuk selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan pancasila hasil
kutak-katik Mpu Tantular dengan burung garudanya. Ini sama saja dengan
menegakkan syariat Islam model gado-gado mpu Tantular atau gado-gado mbah Agung
Laksono alias gado-gado mbah Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal kalau mbah
Susilo Bambang Yudhoyono atau mbah Agung laksono dimintakan untuk menegakkan
syariat Islam, pasti mereka berdua akan menjawab bahwa mereka berdua tidak bisa
menegakkan syariat Islam karena sudah disumpah untuk selalu taat dalam
mengamalkan dan mempertahankan pancasila. Tetapi celakanya kalau di Acheh, itu
"Gubernur Acheh" Irwandi Yusuf dan Wakilnya Muhammad Nazar dan para Bupati dan
Wakilnya justru diambilnya gaya syariat Islam model gado-gado mpu
Tantular. Akhirnya mereka itu makin sesat saja.
Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk
membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah
Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP
http://www.dataphone.se/~ahmad
Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*
Wassalam.
Ahmad Sudirman
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------
---------------------------------
Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis lagringsplass
http://no.mail.yahoo.com