http://www.antara.co.id/arc/2007/4/10/korban-tsunami-minta-presiden-bubarkan-brr-aceh-nias/

10/04/07 14:24

Korban Tsunami Minta Presiden Bubarkan BRR Aceh-Nias

Banda Aceh (ANTARA News) - Ratusan korban tsunami yang tergabung dalam Forum 
Komunikasi Antar Barak (Forak) meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
membubarkan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, karena lamban 
melaksanakan tugasnya di Aceh.

"Kami minta Presiden membubarkan BRR Aceh-Nias karena lembaga tersebut belum 
mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapi korban tsunami, yang hingga kini 
masih tinggal di barak penampungan," kata Koordinator Forak, Raden Panji Utomo, 
di Banda Aceh, Selasa.

Hal itu diutarakan dalam orasinya di hadapan ratusan pengungsi korban tsunami 
yang masih tinggal di sejumlah barak hunian sementara (huntara) yang menggelar 
aksi unjuk rasa di jalan utama depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, 
sekitar pukul 10.00 WIB.

Lebih lanjut, Panji Utomo, menjelaskan, kewajiban Susilo Bambang Yudhoyono 
membubarkan BRR yang dibentuk berdasarkan keputusan presiden (keppres) dua 
tahun lalu karena belum mampu mencari jalan keluar bagi pencepatan pembangunan 
rumah korban tsunami di Aceh.

"BRR itu ada karena adanya keppres. Maka yang bertanggung jawab dalam 
membubarkan BRR Aceh-Nias itu adalah Presiden. BRR sudah gagal, terutama dalam 
membangun kembali rumah penduduk korban tsunami daerah ini," tambah dia.

Aksi unjuk rasa yang juga diikuti para wanita dan anak-anak dari sejumlah barak 
huntara di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar itu mendapat perhatian 
masyarakat, terutama mereka yang berlalu lalang di sekitar komplek Masjid Raya 
Baiturrahman.

Sehari sebelumnya (Senin, 9/4), hampir 300 orang pengungsi korban tsunami juga 
menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor BRR Aceh-Nias di kawasan Lueng Bata 
Kota Banda Aceh. Aksi unjuk rasa pengungsi korban tsunami itu juga 
dikoordinasikan Forak. 

Raden Panji Utomo, yang baru keluar dari tahanan dengan tuduhan sebagai 
penggerak aksi unjuk rasa yang berbuntut kerusuhan di Kantor BRR Aceh-Nias 
beberapa bulan lalu itu menilai kinerja lembaga ini jauh dari yang diharapkan.

Dua tahun keberadaan BRR di Aceh dan Nias pasca bencana alam gempa bumi dan 
tsunmi di provinsi ujung paling barat di Indonesia itu hanya memperbanyak 
pegawai, sementara lebih 40.000 jiwa korban tsunami belum memiliki rumah.

"BRR hanya memperbanyak pegawai dengan kualitas SDM-nya diragukan, sementara 
nasib korban tsunami terutama mereka yang masih tinggal di barak belum 
teratasi," tegas dia.

Raden Panji Utomo menandatangani spanduk "mosi tak percaya" kepada BRR dengan 
menggunakan darah dari tanggannya. Kemudian, ratusan pengunjuk rasa juga 
membubuhkan tanda tangannya di atas kain putih yang dipajangkan di depan Masjid 
Raya Baiturrahman.(*)


Copyright © 2007 ANTARA

++++

http://www.antara.co.id/arc/2007/4/14/korban-tsunami-ancam-tak-tempati-rumah-brr-aceh-nias/

14/04/07 17:02

Korban Tsunami Ancam Tak Tempati Rumah BRR Aceh-Nias

Banda Aceh (ANTARA News) - Ratusan jiwa korban gempa dan tsunami Kecamatan 
Leupung, Kabupaten Aceh Besar, mengancam tidak mau menempati rumah yang 
dibangun Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, di lokasi 
relokasi kawasan Glee Juedah, karena kualitas bangunannya memperihatinkan.

"Kami sudah menyatakan tidak mau pindah ke rumah itu sebelum pihak BRR 
Aceh-Nias memperbaikinya. Rumah itu dibangun asal jadi, apalagi ada sebagian di 
antaranya tidak layak dijadikan tempat tinggal, terutama dimusim penghujan," 
kata Arbi (34), seorang korban tsunami di Leupung, Sabtu.

Kondisi beberapa unit rumah diantaranya memprihatinkan, terutama jika musim 
penghujan maka air dan lumpur langsung merambah masuk kedalam rumah bantuan BRR 
yang dibangun 2005 - 2006, tambahnya. 

Sementara Ardin menyebutkan, selain kondisi rumah yang tidak layak huni, sumber 
air bersih dipemukiman relokasi itu juga tidak tersedia. 

"Kalau kami tinggal di lokasi relokasi itu maka terpaksa harus mengangkut air 
bersih berjarak empat kilometer dari rumah tersebut," katanya.

Ia menyebutkan, di pemukiman relokasi itu telah didirikan sebanyak 110 unit 
rumah bantuan BRR Aceh-Nias, tercatat 100 unit dari lembaga World Vision dan 68 
unit bantuan Pemerintah Brunei.

"Masyarakat korban tsunami tidak mempersoalkan rumah bantuan World Vision dan 
Brunei, namun rumah yang dibangun BRR Aceh-Nias itu memang tidak layak untuk 
dihuni karena sebagian besar dibangun asal jadi dan tidak nyaman ditempati," 
tambah dia.

Bahkan, jelas Ardin, pihak BRR Aceh-Nias telah berjanji untuk merehabilitasi 
kembali rumah yang rusak dan menyediakan sumber air bersih di pemukiman 
relokasi korban tsunami asal beberapa desa di Kecamatan Leupung.

"Akan tetapi, BRR Aceh-Nias hanya berjanji. BRR telah minta kami untuk segera 
meninggalkan barak huntara dan menempati rumah bangunan lembaga tersebut, tapi 
rumah belum diperbaiki dan sumber air bersih juga tidak ada," kata dia.(*)


Copyright © 2007 ANTARA

++++

Kirim email ke