http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=298662&kat_id=23

Senin, 02 Juli 2007  23:15:00

Penduduk Miskin di Pantai Barat Selatan Aceh Capai 61,41 Persen


Banda Aceh-RoL--Sekitar 61,43 persen dari 867.414 jiwa penduduk di wilayah 
pantai barat selatan Provinsi Aceh, yang terdiri atas delapan kabupaten/kota 
itu dinyatakan miskin, sehingga perlu perhatian serius Pemerintah Aceh serta 
Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias. 

"Dari 2.029.639 jiwa penduduk miskin di seluruh Aceh, pantai barat selatan 
menabung sekitar 531.509 jiwa," kata Juru bicara Kaukus Pantai Barat Selatan 
Aceh, TAF Haikal pada acara deklarasi kaukus itu di Banda Aceh, Senin. 

Delapan kabupaten/kota di pantai barat selatan adalah Aceh Jaya, Aceh Barat, 
Nagan Raya, Simeulue, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan 
Subulussalam. 

Disebutkan, dibanding dengan wilayah utara dan timur Aceh, pantai barat selatan 
Aceh dengan luas wilayah 228.136 kilometer persegi dikategorikan sebagai 
wilayah tertinggal, dengan potret buram kemiskinan dan keterbelakangan secara 
fisik maupun nonfisik, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan bahkan 
transportasi. 

Ia menjelaskan, angka itu memberi sumbangan di atas rata-rata angka kemiskinan 
Provinsi Aceh yang hanya 49,85 persen. 

Jika dirinci, kabupaten yang paling tinggi tingkat kemiskinannya, adalah 
Simeulue memiliki 81 persen penduduk miskin, disusul Nagan Raya 67 persen, 
Singkil 64 persen, Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya 58 persen, Aceh Barat 55 
persen dan Aceh Jaya 47 persen. 

Selanjutnya, pantai barat selatan Aceh juga wilayah yang terparah terkena 
dampak bencana gempa dan tsunami yang terjadi dua tahun silam. 

Dari 1.341 desa yang ada di pantai barat selatan, 384 diantaranya hancur 
dihajar gempa dan tsunami. Sedangkan jumlah kota yang rusak karena bencana 26 
Desember 2004 ini berjumlah 38, atau 52 persen, dari 74 kota yang ada di 
wilayah itu. 

Ditambahkan, pantai barat selatan Aceh juga merupakan wilayah yang terkena 
konflik bersenjata di Aceh beberapa waktu lalu, yang selain menyebabkan ratusan 
jiwa melayang, juga menimbulkan kerusakan fisik dan nonfisik pada bangunan 
milik masyarakat. 

"Fakta ini membuat kawasan pantai barat selatan memberi kontribusi semakin 
terisolirnya daerah itu, sekaligus menambah banyak kantong-kantong kemiskinan," 
ujar Haikal. 

Tanpa harus melihat data yang rinci pun, kata Haikal, semua orang akan maklum 
bahwa pembangunan yang terjadi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir 
tidaklah memihak pada penduduk di wilayah pantai barat selatan. 

Bahkan, hingga sekarang pun Pemerintah Aceh melalui alokasi anggaran APBD-nya, 
belum terlihat akan menjawab terhadap dua persoalan utama yaitu kemiskinan dan 
ketertinggalan daerah. 

"Pantai barat selatan sampai saat ini masih sulit dijangkau dan masyarakatnya 
pun masih terus berada dibawah garis kemiskinan," tutur Haikal. 

Ia menjelaskan, hal ini terjadi karena seluruh pelaku pembangunan di Aceh tidak 
memiliki apresiasi yang cukup terhadap pantai barat selatan. "Akibatnya, 
sebahagian besar alokasi anggaran pembangunan lebih memihak ke wilayah utara 
timur Aceh,"  tegasnya. 

Di sisi lain, kata Haikal, kelemahan aparatur pemerintah daerah di pantai barat 
selatan Aceh ikut ?berkontribusi? kian memperburuk kondisi wilayah dan 
masyarakat di kawasan itu. 

"Dengan keadaan demikian, sebenarnya kondisi pembangunan pantai barat selatan 
saat ini adalah sejarah panjang dari ketidakadilan kebijakan dan alokasi 
anggaran dari Pemerintah Aceh sepanjang lima tahun terakhir," ujarnya. 

Dan ironisnya, jelasnya, sepak terjang Pemerintah Aceh di kawasan pantai barat 
selatan juga masih berkutat dengan ketidakmampuannya untuk mendorong adanya 
perubahan total ketidakadilan itu. antara/pur
pur 

Kirim email ke