12 Jul 07 23:04 WIB
1.300 Orang Paraguay 'Bangsa' Aceh
WASPADA Online
Agaknya kegemaran 'bangsa' Aceh 'menaklukkan' dunia sepertinya bukan isapan
jempol. Di Paraguay, misalnya, anda bisa melihat langsung suku Aceh ini beranak
pinak di benua Amerika Latin itu.
Tentu saja fakta ini mengejutkan. Soalnya, selama ini tidak ada informasi
tentang adanya komunitas 'bangsa' Aceh, tinggal dan menetap berjarak ribuan mil
dari tanoh Aceh.
Publik hanya tahu komunitas suku Aceh, berdiam di sejumlah negara bagian di
Malaysia. Saking familiarnya, ada sejumlah daerah yang diberi nama sama seperti
di Aceh. Misalnya Kampung Keudah dan lainnya.
Kecuali itu, tidak sedikit orang Aceh yang lama sekali menjadi warga negara
Malaysia, menjadi pejabat tinggi pula di negeri jiran itu.
Hubungan suku Aceh dan Malaysia ibarat sebuah keluarga. Benar saja, saat
gempa dan tsunami melumat bumi Aceh, Pemerintah Malaysia, membuka "pintu" bagi
warga Aceh tinggal menetap di Malaysia, walau hanya dengan "cap jempol", tanpa
mengantongi identitas yang lazim.
Selain Malaysia, komunitas 'bangsa' Aceh banyak menetap dan menjadi warga
negara Swedia. Di negeri ini, T. Hasan Di Tiro, tokoh yang paling dicari semasa
rezim represif berkuasa, mengibarkan perlawanan hampir 30 tahun dengan
Pemerintah Indonesia.
Kini cucu pejuang nasional T. Chik Di Tiro itu mulai sepuh termakan usia. Ia
tinggal di sebuah flat di sebuah kawasan yang dihuni oleh 'bangsa' Aceh di
sana.
Bagaimana di Paraguay? Andai saja Gubernur Pemerintahan Aceh yang baru,
Irwandi Yusuf tidak melawat ke negeri itu, maka tidak diketahui kalau di
Paraguay ada suku Aceh yang berdomisili di negara itu.
Boleh dibilang, Senin (19/7) hari bersejarah. Pada hari itu, Gubernur Irwandi
Yusuf bertemu dengan pimpinan suku Aceh Paraguay di Kantor Kementerian Luar
Negeri Paraguay.
Rupanya, pertemuan itu diakui Dr. Augusto Fagel Pedrozo, ahli antropologi
budaya yang juga Presiden Del Indi, telah lama diimpikannya saat bersama rekan
lainnya melakukan penelitian mendalam tentang keberadaan suku Aceh di Paraguay.
"Selama ini kami telah berupaya untuk mempertemukan suku Aceh di Paraguay
dengan Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam," ungkap Augusto Fagel.
Untuk memujudkan pertemuan dibuat skenario. Langkah awal yang ditempuh
menyampaikan niat itu kepada pihak Kementerian Luar Negeri Paraguay. Kemudian
rencana itu disampaikan kepada Kepala Perwakilan Pemerintahan RI di Argentina.
Momen Pagelaran Seni Budaya Aceh di Asuncion, semakin mendekatkan impian Dr
Augusto Figer cs. "Kami menilai langkah untuk mempertemukan dua kelompok
bersaudara sangat tepat seperti yang terjadi hari ini," kata Dr. Augusto dalam
bahasa Spanyol yang didampingi Wakil Menlu Paraguay Bidang Politik Bilateral,
Ceferino Valdez Peralta dan Direktur Asia dan Afrika, Gustavo Lopez Bello.
Sementara itu Gubernur NAD, Irwandi Yusuf dalam acara pertemuan itu
mengatakan, "dengan senang hati kami telah bertemu dengan pimpinan suku Aceh di
Paraguay menyambut antusiasme tinggi bertemu saudaranya di negeri jauh. "Tapi,
Irwandi tadinya tidak mengetahui tentang keberadaan suku Aceh di Paraguay.
"Kami baru diberi tahu oleh pihak KBRI Argentina menjelang keberangkatan ke
sini, ada suku Aceh di Paraguay," kata Irwandi Yusuf.
Gubernur di sela pertemuan tak lupa mengundang para pimpinan suku Aceh di
Paraguay untuk datang ke Nanggroe Aceh Darussalam meninjau negeri asal, yang
telah diting galkan dalam waktu yang sudah cukup lama.
Irwandi Yusuf berharap kepada tim peneliti yang telah melakukan pengkajian
tentang keberadaan suku Aceh di Paraguay untuk meneliti lebih jauh lagi tentang
kesamaan-kesamaan budaya antara suku Aceh di sini dengan masyarakat Aceh di
Sumatera.
"Pertemuan hari ini kami tidak merasa asing. Seolah-olah berada di kampung
sendiri. Saya perhatikan sosok tubuh suku Aceh di sini banyak kesamaan dengan
masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam," sebut Gubernur Aceh ini.
Misalnya, dari segi dialeg bahasa, wanita suka memakai cincin dan aksesoris
lainnya. Kalau boleh saya mengatakan pertemuan hari ini adalah pertemuan antara
adik dan kakak yang sudah lama terpisah dari kampung halaman, katanya.
Gubernur NAD dalam pertemuan itu didampingi Kadis Kebudayaan Provinsi NAD,
Drs. Adnan Majid, Dirjen Deplu RI Amerika dan Eropa Eddy Hariadhi serta Kepala
Perwakilan RI untuk Argentina dan Paraguay, Sunten Z.Manurung.
Juru bicara suku Aceh, Paraguay Maria Luisa Duarte, mengakui suku Aceh di
Paraguay berasal dari Aceh, Sumatera. Soal kapan persisnya dan kenapa menetap
di Paraguay, kata Maria akan dilakukan penelitian lebih jauh lagi. "Pertemuan
hari ini dengan pihak Pemerintah Nanggroe Aceh akan lebih terjalin hubungan
yang lebih mendalam lagi," pintanya.
Setelah ini diharapkan ada tindaklanjut untuk lebih mempererat hubungan kedua
komponen masyarakat Aceh ini.
Maria menambahkan, "informasi tsunami yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam
2004 lalu selalu menjadi ingatan kami walaupun kami belum melihat langsung
bagaimana dahsyatnya musibah yang terjadi kepada saudara-saudara kami di Aceh,
Sumatera."
Sekretaris Tim Promosi Seni Budaya Aceh, Aidi Kamal melalui e-mailnya kepada
Waspada dari Asuncion, Paraguay melaporkan, pimpinan suku Aceh di Paraguay yang
hadir dalam pertemuan itu antara lain, Maria Luisa Duarte dan Alba Portillo
Maximo dari Propinsi Central, Margarita Mbywangi, Antonio Pepagi dan Roberto
Achepurangi dari Provinsi Canindeyu dan Ramona Takuarangi dari Provinsi
Caazapa.
Aidi Kamal yang juga Staf Biro Keistimewaan Aceh Setda NAD menambahkan, suku
Aceh di Paraguay sekarang berjumlah 1.300 orang yang tersebar di tiga provinsi
di Paraguay, yaitu Provinsi Central, Provinsi Canindeyu dan Provinsi Caazapa.
"Mereka sebagian besar berprofesi sebagai pedagang dan petani," kata Aidi
Kamal.
Di akhir pertemuan, Gubernur NAD menyerahkan cenderamata berupa rencong
kepada pimpinan suku Aceh di Paraguay yang diterima Maria Luisa Duarte.
Sedangkan pimpinan suku Aceh menyerahkan cenderamata pada Gubernur NAD hasil
kerajinan mereka berupa ikan yang terukir dari kayu. (b02) (ags)
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell.