http://www.hizbut-tahrir.or.id/index.php/2007/07/24/separatisme-langgar-syariah/

Separatisme Langgar Syariah
Liputan Kegiatan July 24th, 2007
 
Jakarta-Separatisme melanggar syariah sehingga umat Islam wajib menentangnya. 
Demikian pernyataan juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) M Ismail Yusanto 
dalam diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) di Jakarta, Senin 
(23/7). Pernyataan ini sekaligus membantah tudingan kalangan tertentu yang 
menyatakan kalangan Islam radikal memiliki andil dalam separatisme. 

Selain Ismail, forum bulanan ini menghadirkan pembicara Jenderal (pur) 
Ryanmizard Ryacudu (mantan KSAD), dan Ali Muhtar Ngabalin (Komisi I DPR), serta 
dipandu oleh M Luthfi Hakim. Acara ini dihadiri lebih dari 200 peserta. 
Sebagian peserta tak kebagian tempat duduk. 

Ismail mengatakan, umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh 
pada agama-Nya dan dilarang bercerai berai. Sementara separatisme justru akan 
menghancurkan negeri-negeri Islam yang kini telah terpecah dalam 57 negara. 
"Adanya separatisme akan makin menambah keterpecahbelahan itu. Ini harus 
ditentang," tandas Ismail.

Karenanya, lanjut Ismail, gagasan khilafah sangat relevan di Indonesia. 
"Khilafah substansinya adalah persatuan, bukan malah perpecahan. Khilafah 
justru ingin menjaga keutuhan negeri-negeri Muslim," tandasnya. Tak heran bila 
kemudian HTI memiliki program 'Selamatkan Indonesia dengan Syariah'. 
Sebelumnya, HTI menentang keras pemisahan Timor Timur dari Indonesia sebelum 
ada referendum. 


Perang Modern

Jenderal Ryanmizard mengatakan ada upaya dari negara besar untuk terus 
menjadikan Indonesia bangsa yang lemah sehingga mudah dikuasai. "Untuk 
menguasai Indonesia itu tidak sulit, lemahkan Islam dan lemahkan tentara,'' 
katanya.

Strategi penguasaan asing itu dilakukan oleh Barat melalui perang modern. 
Perang ini, menurutnya, sangat murah karena tidak menggunakan senjata. Perang 
itu dilakukan melalui infiltrasi, mengadu domba, mencuci otak, dan melemahkan. 

Ia mengatakan Indonesia dipaksa untuk mengikuti globalisasi, demokrasi, dan 
HAM. Padahal, katanya, globalisasi itu adalah persaingan tidak sehat yang 
menyebabkan negara berkembang makin terpuruk. Sedangkan demokrasi hanyalah 
sekadar jargon. ''Di Qur'an dan Sunnah kan sudah ada (sistem sendiri), kenapa 
dipaksakan (demokrasi),'' katanya. 

Hal yang sama dilakukan Barat untuk memaksakan berlakunya HAM di Indonesia 
dengan versi mereka. ''Hiroshima dan Nagasaki dibom atom, nggak pernah ada 
pelanggaran HAM di sana sampai sekarang?'' paparnya.

Penjajahan modern ini, menurutnya, hanya bisa dihadapi jika bangsa Indonesia 
bersatu. ''Kalau kita mau bersatu, kita kuat. Kenapa takut dengan bangsa lain. 
Kita punya perjuangan rakyat semesta. Kalau semua digerakkan, nggak bisa 
dikalahkan!'' tandasnya disambut teriakan Allahu Akbar hadirin. Ia mencontohkan 
Vietnam yang tidak punya apa-apa tapi kuat karena rakyatnya bersatu. 

Mantan KSAD ini mengatakan Indonesia boleh bersahabat dengan bangsa manapun. 
Tapi jangan sampai Indonesia diatur oleh negara lain seperti sekarang. ''Boleh 
bersahabat, tapi yang ngatur harus kita,'' tandasnya.

Ia sangat tidak setuju dengan banyaknya perundingan yang dilakukan pemerintah. 
Perundingan itu menjadikan posisi Indonesia lemah dan tidak terhormat. 
''Sudahlah jangan terlalu banyak berunding. Harusnya sikap kita tegas, saya 
yang memutuskan. Anda mau atau tidak,'' tuturnya.

Karenanya, ia mengingatkan kembali bahwa Indonesia ini adalah milik bangsa 
Indonesia, bukan milik satu orang. Semua warga bangsa harus peduli terhadap 
nasib bangsa yang terpuruk. Menurutnya, silaturahmi harus terus dilakukan. 
''Kalau ada perbedaan dan perselisihan, kembali kepada Al Qur'an dan Sunnah,'' 
katanya.

Ryanmizard pun menanggapi pertanyaan peserta tentang adanya Islam radikal di 
Indonesia. Menurutnya, tidak ada Islam yang radikal. ''Kita saja yang 
dipojok-pojokkan,'' tandasnya seraya menambahkan bahwa Islam radikal adalah 
kelompok yang keluar dari ketentuan Qur'an dan Sunnah.

Khusus mengenai separatisme, menurutnya, hal ini tidak lepas dari upaya 
manajemen konflik yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Ia tidak setuju 
separatisme dihadapi dengan diplomasi, tapi harus diperangi setelah tiga kali 
diperingatkan tidak mau kembali. ''Separatisme adalah bughat,'' tegasnya. 
Makanya, ia berharap pemerintah segera menangkap Alex Manuputty yang kini 
lenggang kangkung di AS. ''Kalau gak begitu, ya bukan tentara namanya,'' kata 
Ryanmizard.


Pemerintahan Berantakan

Sementara itu, anggota Komisi I DPR Ali Muchtar Ngabalin menilai munculnya 
berbagai gerakan separatisme di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah telah 
berantakan. ''Tidak ada pemimpin di negeri ini. Kita tidak punya pemimpin 
sekarang,'' katanya.

Buktinya, lanjut Ali Muhtar, kenapa justru saat ini masyarakat yang harus 
memikirkan adanya separatisme. ''Kita sampai panas dingin mikir. Pemerintah kok 
malah diam. Pemerintahan SBY sangat berantakan,'' tandasnya. Menurutnya, kalau 
pemerintah memiliki integritas, separatisme akan ditindak dengan lebih baik.

Ia pun menyoroti anggaran pertahanan yang minim. Akibat dana yang minim ini, 
alusista pertahanan negara sangat lemah dan kalah dari negara lain. Kelemahan 
ini pula yang dimanfaatkan oleh negara lain seperti Singapura dalam perjanjian 
pertahanan (DCA) yang kontroversial.

Ia heran dengan pemerintahan sekarang yang tidak peduli dengan pertahanan. 
Padahal, bidang ini sangat penting mengingat begitu luasnya wilayah Indonesia 
dan kondisinya yang berpulau-pulau. ''Kalau kita latihan perang dengan negara 
lain, tentara kita itu hanya nonton saja. Karena senjatanya tak bisa buat 
nembak. Harusnya tentara itu dalam sekali latihan diberi bekal 200 peluru, 
sekarang Cuma 7 peluru. Lainnya, bunyi pakai mulut.dummm,'' katanya yang 
mengundang gelak tawa hadirin. 

Dalam diskusi itu muncul gagasan dari peserta agar wilayah Papua dan Maluku 
di-syariah-kan. Alasan ini dilandasi fakta bahwa Barat tidak ingin wilayah yang 
ingin menerapkan syariat Islam diberi kemerdekaan. Contoh ini terjadi pada 
Aceh. Kalau Papua menuntut syariat, pasti Barat tidak akan mendukungnya. muji

2 Responses "Separatisme Langgar Syariah"
  1.. Amin RH Says: 
  July 25th, 2007 at 10:45 am 
  Jenderal Ryanmizard mengatakan "Untuk menguasai Indonesia itu tidak sulit, 
lemahkan Islam dan lemahkan tentara,''. Ya.betul sekali Pak Ryamizard, memang 
dua hal ini rakyat (umat islam) dan tentara (TNI) adalah kekuatan politik real 
sebuah negara. Oleh karena itu sebuah peradaban (sistem) apapun akan ditegakkan 
butuh dukungan dari dua hal ini, termasuk sistem Khilafah. Tapi sayang, 
dukungan dari kalangan militer di negeri ini, sejauh pengamatan saya kebanyakan 
berasal dari kalangan militer yang sudah pensiun, bukan yang masih aktif dan 
pegang senjata.

  2.. Mumin Setiawan Says: 
  July 28th, 2007 at 12:52 pm 
  Bapak Ryanmizard benar tidak ada Islam radikal. Rasikal, ektrimis, 
pundamental adalah political word yang dihembuskan oleh orang-orang kafir 
munafikin yang tidak menghendaki Islam jaya dan AlQuran membumi. Al Islam ( 
AlQuran dan Assunah ) mengajarkan penganutnya untuk selalu mempererat 
persaudaraan di antara kaum muslimin dan non muslim, termasuk di dalamnya 
antara TNI/POLRI dan Rakyat. Mari kita manunggal membangun daulah rabbani. 
Aminn.

Kirim email ke