Begini jiwa tak bertuan!

Ketika kita berbicara persoalan sosial, kita berbicara persoalan kemanusiaan. 
Dalam hal ini setiap gagasan menghantam kezaliman untuk membela kaum dhu'afa 
kita patut mendukung walau datang dari pihak manapun. Adapun serangan Al Qubra 
terhadap Alauddin Umarov disebabkan dia itu Marxis tapi berkedok Islam. Ketika 
kita menjelaskan posisi orang-orang yang bersatupadu dalam system Taghut yang 
hipokrit, dia itu menghina tulisan Al Qubra secara tidak wajar. Sementara dia 
mengaku tidak suka hina-menghina. Justru itulah saya hantam sikap 
kehipokritannya.

bunga persik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Umar Said itu komunis lho... katanya kemaren anti komunis...

husaini daud <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Saya salut kepada A Umar Said setiap membaca tulisannya yang mudah dicerna. 
Benar sekali apa yang ditulis oleh A Umar Said itu. Saya sangat mendukungnya. 
Tinggallagi saya juga merenungkan sedalam-dalamnya bagaimana caranya agar 
tujuan A Umar Said yang berarti juga sebagai keluhan kaum du'afa di seluruh 
nusantara Melanesia itu tak terkecuali bangsa Acheh - Sumatra, West Papua dan 
bangsa-bangsa lainnya di kepulauan melanesia ini yang terimbas sepakterjang 
Suharto cs.
 
Persoalan korupsi yang saya teropong itu sungguh sangat menggurita. Dihati kaum 
dhu'afa  memang persoalan ekonomi merupakan persoalan basic bagi mareka untuk 
meraih kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Akibat kezaliman para koruptor secara 
sistematis menjauhkan para kaum dhu'afa dari pembendaharaan dunia, menyebabkan 
mereka terbengkalai dalam segala aspek kehidupannya. Mereka tak mampu menggapai 
pendidikan agar mereka setara dengan manusia lain di dunia akibat kezaliman 
penguasanya. Harapan mereka adalah pada orang-orang yang memiliki komitment 
tinggi untuk melepaskan mereka dari belenggu yang menimpa kuduk-kuduk mereka.
 
Nampaknya para pembela kaum dhu'afa tidak cukup kuat untuk menghadapi 
krono-kroni Suharto yang masih berakar dalam system Taghut Indonesia yang 
Hipokrit itu. Dengan kata lain "penyakit" korupsi itu sangat kronis dan sudah 
mencapai klimaksnya bagaikan penyakit HVS yang sampai sekarang belum ditemui 
obat yang ampuh untuk mengobatinya, hingga para "dokter" terpaksa menunggu 
"kematiannya", disebabkan tak berdaya.  Satusatunya Alternatif bagi "dokter" 
adalah  berdaya upaya untuk menganalisa apa sesunbgguhnya penyebab penyakit 
"HVS" tersebut, bukan berdaya upaya untuk menyembuhkan pasien yang sudah 
terlanjur "basah" itu..
 
Penyebab segalanya itu menurut hemat saya adalah systemnya yang tidak benar. 
Buktinya semenjak Suharto naik tahta sampai hari ini tahta dikuasai Yudhoyono 
yang juga kroninya dan Kalla sebagai kroni nomor wahidnya, kaum dhu'afa tetap 
saja dalam keadaan menderita.  Justru itu mustahil "orang sakit" kita harapkan 
untuk diobati oleh "dokter" yang sakit. Justru kesadaran rakyat jelata diakar 
rumputlah yang memiliki kemungkinan untuk meluluhlantakkan "penyakit" yang 
menggurita itu. Persoalannya adakah sosok pemimpin kaum dhu'afa yang muncul 
disana? Kalau tidak ya terpaksa tunggu kiamat sajalah untuk menghukum semua 
basyar-basyar itu.
 
Salam buat anda sekeluarga di Prancis.
Tabek buat A Umar Said yang brilliant
hsndwsp
                                                                 di
                                                           Ujung Dunia
 


Umar Said <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tulisan ini juga disajikan dalam website 
http://perso.club-internet.fr/kontak)
 
Catatan A. Umar Said
Aliansi Masyarakat Adili
Soeharto dan Kroninya
Akhir-akhir ini banyak di antara kita yang membaca berita di koran dan majalah 
Indonesia, atau mendengar dari televisi, tentang akan dibukanya perkara 
Soeharto dalam sidang pengadilan negeri Jakarta berkaitan dengan dugaan bahwa 
berbagai yayasan Soeharto telah disalahgunakan untuk mengumpulkan  - dengan 
cara-cara licik dan licin sekali ! – harta haram dalam jumlah yang besar 
sekali. Di samping itu, kita juga sering membaca atau mendengar berita tentang 
akan diperiksanya berbagai kasus Tommy Soeharto. Berita-berita ini menunjukkan, 
untuk kesekian kalinya, bahwa masalah korupsi (dan pelanggaran HAM!!!) Soeharto 
beserta keluarganya masih tetap merupakan masalah besar nasional yang perlu 
diselesaikan secara tuntas. 
Oleh karena itu, adalah menarik sekali berita yang disiarkan Media Indonesia 
(25 Juli 2007) yang berbunyi antara lain sebagai berikut :  “Mantan presiden 
Soeharto dilaporkan ke Bareskrim Polri, Rabu (25/7), oleh Petisi 50, TPDI dan 
sejumlah LSM yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adili Soeharto dan 
Kroninya.Dalam laporan ke polisi itu, Soeharto diduga telah melakukan kejahatan 
jabatan untuk memperkaya dirinya, keluarga dan kroninya. Sehingga, Soeharto 
melanggar hukum Pasal 12 UU No.20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU No.31 Tahun 
1999 tentang Pemberantasan Korupsi.
“Pelapor itu di antaranya Judilherry Justam dari Presidium Komite Waspada Orde 
Baru, Christianus Siner Key Timu dari Petisi 50, Henry Hutabarat dan Petrus 
Selestinus dari TPDI, dan lainnya.Menurut Judilherry, mantan presiden Soeharto 
telah menerbitkan 528 keppres (keputusan presiden) sejak 1993-1998, dan 79 
keppres di antaranya adalah keppres bermasalah. Dari 79 keppres itu, ada 30 
keppres yang bertujuan menguntungkan dirinya, keluarganya dan kroninya.
"Apalagi jika dihitung keppres sebelum tahun 1993, maka akan lebih banyak lagi 
keppres bermasalah dan menguntungkan dia, keluarganya dan kroninya. Contohnya, 
keppres cengkeh dan Timor (mobil nasional)," ujar Judilherry. Ia mengatakan 
pengaduan ini bertujuan agar Soeharto diadili. "Karena selama ini, dia tidak 
pernah diadili. Soeharto adalah satu-satunya diktator di dunia yang tidak 
pernah diadili dan masih duduk enak," katanya.
“Menurut dia, kalaupun nanti Soeharto diadili dan dinyatakan bersalah serta 
mendapat pengampunan atau amnesti, hal itu tidak menjadi masalah. "Yang 
penting, dia diadili," tegas Judilherry.Sementara itu, Christianus Siner Key 
Timu dari Petisi 50, menyatakan bahwa keppres itu antara lain Keppres No 
3/1996, tentang pembentukan dana bantuan presiden bagi penyelenggaraan kredit 
usaha keluarga sejahtera.Keppres ini dilanjutkan Keppres 21/1996 tentang 
penyediaan dana bagi penyelenggaraan kredit usaha keluarga sejahtera dengan 
memerintahkan pelaksanaan pencairan dana itu untuk dipindahkan ke rekening 
Yayasan Dana Sejahtera Mandiri di BNI 46.Yayasan ini adalah salah satu yayasan 
yang terafiliasi dengan Presiden Soeharto sebagai pribadi.
“Selain itu, Keppres 42/1996 tentang pembuatan mobil nasional untuk mendukung 
proyek mobil milik Hutomo Mandala Putra."Juga keppres 57/1993, fasilitas bebas 
bea masuk sedan impor, yang menguntungkan Siti Hardiyanti Rukmana yang memasok 
mobil mewah untuk taksi. Juga Keppres 93/1996 tentang bantuan pinjaman untuk PT 
Kiani Kertas milik Mohamad Bob Hasan, sebesar Rp250 miliar dari Dana Reboisasi. 
Dan keppres lainnya. (kutipan berita Media Indonesia selesai)
Dilihat dari berbagai segi dan dari jangka jauh, agaknya aksi yang dilancarkan 
oleh  Aliansi Masyarakat Adili Soeharto dan Kroninya seperti tersebut di atas 
mempunyai arti penting sekali, ketika masalah Soeharto masih terkatung-katung 
juga dan “tidak pasti juntrungnya”, meskipun sudah banyak sekali tuntutan untuk 
diadilinya Soeharto disuarakan oleh berbagai kalangan masyarakat. Seperti 
sama-sama kita ingat, tuntutan diadilinya Soeharto ini sudah dikumandangkan 
sejak ia dipaksa turun dari jabatannya sebagai presiden RI oleh gerakan 
generasi muda (terutama mahasiswa) dalam tahun 1998. Juga MPR sudah mengambil 
keputusan yang “memerintahkan” diperiksanya Soeharto. Di samping itu banyak 
golongan masyarakat juga telah melancarkan aksi-aksi dan membentuk berbagai 
gerakan atau komite untuk menuntut diadilinya Soeharto, namun sampai sekarang 
ia masih  tetap belum bisa diadili juga !
Tindakan Aliansi Masyarakat Adili Soeharto dan Kroninya untuk melaporkan kepada 
Bareskim Polri berbagai kejahatan Soeharto karena  menyalahgunakan jabatannya 
untuk memperkaya diri dan keluarganya bisa juga diartikan sebagai desakan atau 
dukungan kepada Kejaksaan Agung untuk meneruskan pemeriksaan terhadapnya.
Dikerahkan 100 pengacara untuk bela Soeharto
Sebab, nampaknya, fihak Soeharto (beserta pembela dan pendukung-pendukung 
setianya) dewasa ini sedang melakukan bermacam-macam manuvre untuk menghadapi 
kemungkinan disidangkannya perkaranya di pengadilan. Menurut Bangka Pos 14  
Juli 2007,  sebanyak 100 pengacara sudah disiapkan oleh Yayasan Supersemar  
untuk membela Soeharto  dalam perkara penyalahgunaan dana yayasan tersebut.
Berita ini menarik sekali. Sebab, bukan main, dan betul-betul tidak 
tanggung-tanggung! Seratus pengacara dikerahkan! Kiranya, di dunia sekarang ini 
jarang terjadi hal semacam itu! Bahkan, mungkin belum pernah terjadi!  Kalau 
betul 100 pengacara sedang disiapkan untuk mrembela Soeharto, hal ini bisa 
mempunyai berbagai arti di belakangnya. 
Pertama, fihak Soeharto ingin menimbulkan kesan bahwa kasusnya dibela oleh 
banyak ahli hukum, dan karenanya tuduhan atau tuntutan pada dirinya adalah 
salah atau lemah. Kedua, pengerahan 100 pengacara ini dimaksudkan untuk 
menakut-nakuti atau menggoyahkan 12 jaksa senior yang sudah ditugaskan 
Kejaksaan Agung untuk menangani kasus penyelewengan dana yayasan ini. Ketiga, 
bahwa Soeharto,walaupun sudah “lengser” dari jabatannya, tetapi masih punya 
“kekuatan” yang tidak kecil.
Pengerahan 100 pengacara itu juga menunjukkan bahwa Soeharto (dan keluarganya) 
masih mempunyai cadangan dana yang besar sekali, yang bisa digunakan untuk 
menangkis atau mematahkan segala tuntutan terhadapnya. Walaupun bisa diduga 
bahwa sudah banyak sekali “beaya” yang sudah dikeluarkan  (sejak ia turun dari 
jabatannya) guna “menyelamatkan diri” dari segala macam tuntutan dan juga untuk 
mempertahankan “nama baiknya”, tetapi karena harta haram yang pernah 
dikumpulkannya adalah besar sekali, maka ia (dan keluarganya) masih bisa 
berbuat macam-macam dengan mudahnya.
Dari  dana haram yang besar sekali.itulah keluarga Soeharto  bisa membayar para 
pengacara “besar” atau para pembela yang “mahal” , “membeli”  para polisi atau 
jaksa, menyuap para hakim atau pejabat-pejabat penting di berbagai eselon dan  
bidang, termasuk personalia di bidang opini publik atau komunikasi.  Itulah 
sebabnya, mengapa berbagai usaha untuk mengadili Soeharto masih tetap belum 
berhasil sampai sekarang.
Soeharto kelihatan segar-bugar
Dari sudut inilah nampak bahwa aksi Aliansi Masyarakat Adili Soeharto dan 
Kroniya mempunyai arti yang penting. Apalagi, dengan kenyataan bahwa Soeharto 
(pada tanggal 26 Juli 2007 ) telah bisa menerima kunjungan mantan PM Singapura 
Lee Kwan Yu, dan bicara-bicara selama setengah jam di rumahnya di Jalan 
Cendana, maka dalih diajukan oleh para dokter bahwa ia tidak bisa disidangkan 
karena kesehatannya, sekarang alasan itu bisa dipertanyakan kebenarannya. 
Sebab, dalam fotonya bersama Lee Kwan Yu nampak sekali bahwa Soeharto tersenyum 
lebar-lebar yang menunjukkan bahwa ia dalam keadaan segar-bugar.
Dalam kaitan ini, adalah menarik sekali pendapat pengacara terkenal Adnan 
Buyung Nasution yang menurut Suara Merdeka (17 Juli 2007) menyatakan sebagai 
berikut : “ Keterangan dokter mengenai kesehatan mantan presiden Soeharto yang 
menyatakan tidak cakap atau sakit, harus dibandingkan dengan keterangan dari 
dokter luar negeri. "Apa betul catatan kesehatan dari dokter Indonesia sudah 
betul-betul akurat. Kenapa tidak diambil pandangan dokter dari luar negeri," 
kata praktisi hukum dan anggota Pertimbangan Presiden bidang hukum Adnan Buyung 
Nasution, di Jakarta, Senin (16/7).
Walau Soeharto dinyatakan sakit permanen oleh dokter, kata dia, bukan berarti 
kasusnya dihentikan begitu saja. Namun, hanya hakim yang berhak memutuskan 
apakah dengan penyakitnya itu tidak bisa dituntut lagi."Saya tidak mengerti 
siapa yang memutuskan disini, langsung saja sakit permanen itu dianggap tidak 
bisa dituntut. Saya tidak sependapat dengan itu," ujar Adnan Buyung. (kutipan 
selesai)
Tentang banyaknya penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Soeharto, ada baiknya 
diulangi lagi data-data yang diajukan oleh Aliansi Masyarakat Adili Soeharto 
dan Kroninya yang berbunyi sebagai berikut : “Mantan presiden Soeharto telah 
menerbitkan 528 keppres (keputusan presiden) sejak 1993-1998, dan 79 keppres di 
antaranya adalah keppres bermasalah. Dari 79 keppres itu, ada 30 keppres yang 
bertujuan menguntungkan dirinya, keluarganya dan kroninya. Apalagi jika 
dihitung keppres sebelum tahun 1993, maka akan lebih banyak lagi keppres 
bermasalah dan menguntungkan dia, keluarganya dan kroninya. Contohnya, keppres 
cengkeh dan Timor (mobil nasional),"
Mengingat itu semua nyatalah dengan jelas sekali  bagi orang-orang yang 
bersikap jujur atau berfikiran waras (!)  bahwa Soeharto memang betul-betul 
adalah seorang yang telah mencuri kekayaan rakyat dan negara, secara rakus dan 
besar-besaran, dan dalam waktu yang panjang sekali, yaitu lebih dari 30 tahun!  
Begitu hebatnya dan banyaknya pelanggaran-pelanggarannya di bidang HAM , 
politik, sosial dan ekonomi sehingga ia terkenal menjadi presiden diktator yang 
paling korup dan juga paling kejam di dunia. 
Jihad terhadap kejahatan-kejahatan Soeharto
Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah atau, bahkan, sudah seharusnyalah(!) 
bahwa Soeharto dan keluarganya menjadi sasaran gerakan moral “jihad melawan 
koruptor” yang baru-baru ini dideklarasikan oleh 14 ormas Islam dan didukung 
oleh puluhan ormas lainnya. Kejahatan  Soeharto di bidang HAM, politik, 
ekonomi, sosial terhadap rakyat Indonesia adalah besar sekali. Dan sebagian 
terbesar dari rakyat Indonesia adalah orang-orang Muslim. Karena itu, kejahatan 
atau dosa Soeharto terhadap Islam juga besar sekali !
Jadi, jihad melawan koruptor tidak cukup kalau hanya ditujukan kepada koruptor 
BLBI saja, tetapi juga terhadap Soeharto dan keluarganya. Jihad terhadap 
berbagai kejahatan Soeharto di bidang HAM dan terhadap kejahatannya di bidang 
korupsi ekonomi dan politik akan merupakan jihad yang mempunyai arti yang 
menjangkau jauh bagi perbaikan moral dan persatuan bangsa.
Sejarah akan membuktikan di kemudian hari bahwa menghujat berbagai kejahatan 
Soeharto dan menuntut pertanggungan jawabnya adalah tindakan yang benar, sah, 
adil dan luhur. Sebab, banyak kejahatannya yang telah menyebabkan  berbagai 
penderitaan terhadap  begitu banyak orang (sekali lagi, yang sebagian terbesar 
beragama Islam pula!)  telah menunjukkan dengan jelas bahwa ia telah berdosa 
besar terhadap Islam.
Dari sudut ini pulalah kita bisa melihat pentingnya tindakan Aliansi Masyarakat 
Adili Soeharto dan Kroninya dengan melaporkan kejahatannya kepada Bareskrim 
Polri, di samping gerakan moral “Jihad melawan koruptor” yang baru-baru ini 
dideklarasikan oleh berbagai ormas Islam. Jihad melawan korupsi yang 
dilancarkan oleh ormas-ormas Islam itu akan mencapai hasil-hasil yang 
betul-betul berarti bagi perbaikan moral bangsa kalau mencakup juga Soeharto 
(dan keluarganya, antara lain:  Tutut, Sigit, Bambang dan Tommy) juga  
Sebab, puncak dari segala korupsi (atau pengumpulan kekayaan secara haram dan 
bathil)dan puncak dari segala pelanggaran HAM adalah apa yang dilakukan selama 
ini oleh Soeharto beserta keluarganya.
Paris,  30 Juli  2007
. 




Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games. 




Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos more. 



       
____________________________________________________________________________________
Get the free Yahoo! toolbar and rest assured with the added security of spyware 
protection.
http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/norton/index.php

Kirim email ke