Semua pihak menolak ada penurunan bendera merah putih di Aceh, Ibrahim KBS,
jubir KPA, malah mengaku. Hebat......
raja rimba <[EMAIL PROTECTED]> skrev:
BARAHI KAP BUSOU, MALIK MAHMUD
DAN ZAKARIA BLANG MALO
18/08/2007 10:46 WIB
KPA Mengecam, Kapolda Janji Menindak
[ rubrik: Serambi | topik: Peristiwa ]
BANDA ACEH - Juru Bicara Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat, Ibrahim bin
Syamsuddin mengecam keras tindakan polisi terhadap masyarakat di Desa Tanjong
Beuridi, Kabupaten Bireuen. Seharusnya, kata dia, polisi sebagai penegak hukum
tidak mengedepankan kekerasan dalam menangani suatu perkara, termasuk dugaan
adanya aksi penurunan bendera Merah Putih di sejumlah kawasan.
Peristiwa bendera dalam minggu ini sangat mengganggu semua proses damai yang
sedang berlangsung. Kami mengecam semua tindakan pelanggaran hukum yang
menjurus rusaknya rasa aman di dalam masyarakat. Kami mengecam aksi penurunan
bendera Merah Putih, kami juga mengecam tindakan polisi yang mengedepankan
kekerasan dalam menangani perkara ini, kata Ibrahim dalam pernyataan
tertulisnya kepada wartawan, Kamis (16/8).
Menanggapi kasus pemukulan 12 warga oleh polisi di Desa Tanjung Beuridi,
Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Rabu (15/8), Kapolda Aceh Irjen Pol
Rismawan menyatakan berdasarkan laporan Kapolres Bireuen tak ada anggota polisi
yang memukul warga di Tanjung Beuridi. Cuma masyarakat dan media yang
melaporkan tentang adanya pemukulan itu.
Begitupun, kata Kapolda, untuk membuktikan laporan dan berita media itu,
pihaknya telah menurunkan tim khusus yang terdiri atas Propam dan Reskrim
Polda Aceh. Tim ini di bawah kendali Wakapolda Aceh. Bila dalam penylidikan
nanti ada polisi yang terbukti memukul warga dalam menjalankan tugasnya, ia
akan ditindak tegas dan diproses secara hukum. Begitu juga sebaliknya terhadap
warga masyarakat yang melakukan pelanggaran hukum, ujar Kapolda Aceh kepada
pers seusai upacara peringatan HUT Ke-62 RI di Blangpadang, Banda Aceh,
kemarin.
Menurut laporan masyarakat di sekitar lokasi kejadian kepada media cetak dan
elektronik, insiden pemukulan warga Tanjong Beuridi itu dipicu oleh kekecewaan
aparat polisi yang ingin mencari pelaku pencurian dan penurunan bendera Merah
Putih, namun belum kunjung didapat.
Masyarakat melaporkan, warga yang dipukul aparat polisi itu diduga kelompok
yang menurunkan dan mencuri bendera Merah Putih yang dipasang warga di
sepanjang jalan.
Menanggapi masalah ini, Kapolda Rismawan menegaskan pencurian dan penurunan
bendera Merah Putih yang dipasang penduduk di depan rumahnya atau di pinggir
jalan, merupakan tindakan melanggar hukum. Ia menilai, hal itu dilakukan
orang-orang pengecut dan pelakunya layak diposisikan sebagai musuh bersama.
Polisi sedang mengusut kasus ini dan pelakunya sudah mulai terindikasi,
ujarnya.
Jubir KPA Pusat yang kerap disapa Ibrahim KBS menyatakan sangat mendukung upaya
polisi mengusut pelaku yang mencuri dan merusak sejumlah bendera Merah Putih di
Aceh menjelang peringatan 17 Agustus itu.
Akan tetapi, menurutnya, hal itu jangan sampai dijadikan alasan pembenaran bagi
polisi untuk menganiaya warga. Ia menilai tindakan polisi mengasari warga Desa
Tanjong Beuridi sungguh tak dapat diterima akal sehat, karena polisi dididik
dan dibiayai dari uang rakyat untuk menegakkan hukum, bukan sebaliknya menjadi
pelanggar hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tindakan main hakim sendiri seperti itu menggambarkan bahwa polisi tak siap
melepaskan diri dari gaya serbamiliter. Polisi dalam kasus ini telah
menampakkan wajah aslinya seperti saat konflik berkecamuk di Aceh, kata dia.
Karena itu, lanjut Ibrahim, KPA meminta kepada Kapolri dan Kapolda Aceh
mengusut kasus penganiayaan warga itu sampai ke pengadilan. Ia ingatkan agar
polisi jangan membangun antipati rakyat. Sampai kapan pun KPA tak dapat
menerima setiap pelanggaran HAM atas rakyat Aceh. Bagaimana mungkin kami
menyerukan penegakan hukum kalau polisi saja melakukan pelanggaran berat. Maka
kalau kemudian kasus ini tak diselesaikan di pengadilan, kami akan angkat ini
menjadi kasus internasional dengan melaporkan ke lembaga HAM internasional,
ujar Ibrahim KBS.
Investigasi KPA
Menurut KBS, berdasarkan investigasi yang dilakukan pihaknya, polisi masuk ke
kawasan desa tersebut dengan 12 kendaraan sekitar pukul 22.00 WIB. Aparat, kata
KBS, menanyakan isu penurunan bendera kepada warga. Salah satu warga yang
ditanya adalah Amad Kumis, tapi Amad menjawab setahu dia tidak ada penurunan
bendera di situ. Yang ada justru sebagian warga memang tidak menaikkan bendera,
sebagian lagi menurunkan bendera pada sore hari, karena takut dicuri. Namun,
polisi tetap menuduh warga setempat menurunkan bendera, sehingga terjadilah
aksi pemukulan tersebut, kata dia.
KBS mengatakan, di kampung-kampung memang ada instruksi untuk menaikkan bendera
24 jam. Ini terkesan ada konspirasi politik. Soalnya, kasus hilangnya bendera
di beberapa kawasan terjadi pada malam hari. Karena tak ingin benderanya dicuri
pada malam hari, maka sebagian warga Tanjong Beuridi memutuskan untuk
menurunkan bendera pada sore hari, tapi malah mereka dituduh sebagai pelaku
penurunan bendera, kata KBS.
Ingatkan bawahan
Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Bireuen mengharapkan masing-masing
pimpinan mengingatkan bawahan dan anggotanya agar kasus pemukulan seperti
terjadi di Tanjong Beuridi yang menyebabkan tujuh orang masuk rumah sakit,
tidak terjadi lagi.
Permintaan itu disampaikan M Fauzi, Ketua Komisi A DPRK Bireuen yang membidangi
pemerintahan dan keamanan kepada Serambi, Jumat (17/6). Kami atas nama DPRK
Bireuen menyesalkan insiden tersebut dan mengharapkan kepada masing-masing
pimpinan untuk mengingatkan anggota maupun bawahannya agar kasus serupa tidak
terjadi
lagi dan tidak ada rentetennya, kata Fauzi.
Sekarang, kata M Fauzi, merupakan tahap membangun kedamaian dan memupuk
semangat kedamaian. Asimilasi proses damai memerlukan waktu. Dalam rentang
waktu itu hendaknya jangan terjadi kekerasan. Kami harapkan aparat keamanan
menyelidiki kasus tersebut dan mencegah agar tak ada rentetan lainnya, tambah
politisi PKS ini.
Norman Ahmad, salah seorang anggota DPRK Bireuen menambahkan, kasus di Tanjong
Beuridi hendaknya diselesaikan secara adat dan saling memaafkan antara
kelompok pelaku dengan para korban. (her/nal/yus)
:: indeks Berita »
---------------------------------
Get the World's number 1 free email service. Find out more.
---------------------------------
Fly(g) från regnet - sök efter resor hos Yahoo! Shopping.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum:
http://shopping.yahoo.se/c-169901-resor-biljetter.html