http://www.banjarmasinpost.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=1549&Itemid=180
Generasi Tanpa Dendam
Jumat, 07-09-2007 03:14:37
PANGLIMA Kodam Iskandar Muda (IM), Mayjen TNI Supiadin AS, mengatakan
cukup sudah konflik bersenjata yang merenggut puluhan ribu nyawa dalam kurun
waktu 29 tahun. Kini saatnya memberikan perhatian dan pendidikan khusus kepada
anak-anak korban konflik di Aceh, agar mereka tidak menjadi generasi pendendam.
Menurut Pangdam, untuk mewujudkan itu, pemerintah dan seluruh elemen
masyarakat Aceh harus bahu-membahu. Setelah perdamaian terwujud di Aceh,
masyarakat Aceh harus mampu melupakan semua luka masa lalu dan memikirkan
bagaimana meraih masa depan yang lebih cerah, terutama bagi anak-anak bangsa.
"Mereka boleh kehilangan kasih sayang, mereka boleh kehilangan orangtua
dan saudaranya, tapi jangan sampai anak-anak yatim piatu korban konflik itu
kehilangan masa depannya, apalagi nanti akan menjadi generasi pendendam. Dan
ini adalah kewajiban serta tanggung jawab kita bersama," kata jenderal
berbintang dua ini.
Salah satu unsur masyarakat yang mampu menjalankan tugas tersebut adalah
para alim ulama yang senantiasa menyampaikan kebenaran kepada masyarakat. Peran
ulama terhadap pengembangan dan pendidikan anak-anak korban konflik dinilai
cukup besar. "Dalam kondisi damai seperti ini, ulama sangat berperan untuk
membina masyarakat, terutama moralnya. Harus kita sadari bahwa bangsa kita saat
ini sedang mengalami degradasi moral," katanya.
Lebih-lebih menjelang bulan Ramadhan, rehabilitasi mental para korban
konflik dan bencana alam memang harus menjadi agenda prioritas para ulama. Toh,
dalam perspektif dakwah, mereka itu adalah para objek dakwah yang harus segera
ditangani sejak dini melalui pendekatan yang tepat dan rasional.
Pendekatan dakwah yang dilakukan pascabencana dan pascakonflik ini
haruslah memperhatikan banyak hal. Antara lain. operasional dakwah harus
memiliki dimensi teologis, etis, dan integral. Dimensi teologis maksudnya bahwa
dakwah itu bertujuan menciptakan kehidupan yang islami seperti yang
diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian, dakwah sebagai medium pembebasan. Islam sebagai agama dakwah
menyerukan manusia agar membebaskan dirinya dari keterbelengguan terhadap alam,
materi, budaya atau tradisi. Manusia harus terbebas dari kebodohan, melepaskan
diri dari kebekuan berpikir, kemiskinan, kemalasan, dan lain-lain.
Islam sebagai rahmatan lil alamin hanya terbukti jika telah mampu
mengembangkan sayap pembebasan yang natural dan rasional. Ketika ke-musyrik-an
sangat dilarang, maka itu tidak lain agar manusia benar-benar menjadi makhluk
yang merdeka dari segala mitos.
Rekonstruksi dakwah di Aceh, tidak kalah beratnya dengan rekonstruksi
infrastruktur. Untuk keberhasilannya, selain membutuhkan adanya master plan
yang akurat, juga dukungan berbagai unsur penunjang baik yang bersifat materil
maupun immaterial.
Kepedulian umat serta kontribusinya yang nyata inilah yang akan membuat
optimisme bahwa jati diri kultural Aceh yang islami akan bisa dipertahankan.
Jika tidak, maka wajah Aceh pasca bencana dan konflik bisa jadi akan dipenuhi
oleh 'monster-monster' yang sangat menakutkan.
Oleh karena itu, bersamaan dengan akan masuknya bulan suci Ramadhan, maka
tema-tema dakwah kita harapkan diarahkan pada penyadaran sekaligus penciptaan
generasi muda muslim yang benar-benar Islami.