ISLAM ITU TIDAK PERNAH BERTENTANGAN DENGAN PIKIRAN YANG WARAS

Muhammad al qubra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:             

  "Tidak pernah beriman kepadaku orang yang tidur kenyang sedangkan tetangganya 

kelaparan, dan jika penduduk sebuah desa tidur nyenyak sedangkan ada salah 

seorang dari mereka yang kelaparan, maka Allah tidak akan melihat kepada mereka 

pada hari kiamat".


   
  Kalau kita analisa Hadist Rasulullah yang berasal dari ahlulbayt diatas 
sungguh hadist yang di forward Atjeh Post lebih logis dibandingkan hadist yang 
di forward Asnawi Ali, kenapa?
   
  Hadist yang diforward Atjeh Post terfokus pada dimensi sosial sementara 
hadist yang diforward Asnawi Ali terfokus pada dimensi ritual.  Islam Idiology 
terdiri dari dimensi Sosial (baca hablum minannas) dan dimensi Ritual (baca 
hablum minallah), dimana Allah sendiri menempatkan dimensi sosial diatas 
dimensi Ritualnya. (lihat Hadist diatas)
   
  Jadi logis sekali kalau Allah tidak menerima shaum orang yang tidak baik 
hubungan dengan orangtuanya, suami-isterinya dan tetangganya, sementara hadist 
yang diforward Asnawi Ali melulu masalah ritual yang masih perlun kita 
pertanyakan tentang keabsahannya bila kita hubungkan dengan hadist yang 
mengutamakan ibadah sosial diatas ibadah ritual . Bagaimana mungkin kita 
memasukkan orang tua kita kedalam Syurga? (lihat point 3)
   
  Kalau kita mengambil trade marknya Bukhari - Muslim se
  bagai sahtidaknya suatu Hadist, hal tersebut masih dapat dipertanyakan. 
Soalnya banyak hadist di Bukhari dan Muslem yang bertentangan dengan pikiran 
yang waras. Misalnya hadist yang mengatakan malaikat pencabut nyawa pernah 
ditampar oleh Nabi Musa as, Allah meletakkan kakinya ke atas Neraka ketika 
Neraka meminta bahagiannya lagi, Nabi muhammad mengusung Aisyah diatas bahunya 
untuk dapat melihat suatu permainan. Dan masih banyak lagi hadist yang sangat 
memalukan dan tidak masuk akal tapi justru ada di Bukhari dan Muslim.
   
  Kalau belum jelas, insya Allah akan kita lanjutkan lebih lengkap lagi 
dihalaman mana kitab Bukhari dan Muslim memuat hadist-hadist yang aneh tapi 
nyata itu.
  (Al Qubra) 
   
  
Alauddin Ziyadovich Umarov <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Alhamdulillah, nyo keuh saboh bukti masyarakat Islami yang fungsional, mandum 
geutanyo galak ta bi koreksi ngen tujuan teutap peuteupat nyan haq, peujioh 
dari bateu dan kesalahan. 
   
  Alauddin
  

  ----- Original Message ----
From: Asnawi Ali <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 11, 2007 10:36:50 PM
Subject: Re: [IACSF] Meu`ah desja

      FYI.......copy dan paste dari milis sebelah.


  

  *****

  
  

  

  Pertanyaan:
  

  Assalamu'alaikum,
  

  Saya mau tanya bagaimana derajat hadits di bawah ini, yang biasanya
dijadikan dalil untuk berma'afan sebelum puasa Ramadhan.
 
Ketika Rasullullah sedang berhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan
Sya'ban),  beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat
begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan
mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah 
berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat jum'at, para
sahabat bertanya kepada Rasullullah,  kemudian beliau menjelaskan: "ketika aku 
sedang berhotbah, datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah
aamin-kan do'a ku ini," jawab Rasullullah.
   
Do'a Malaikat Zibril itu adalah sbb:
  

  "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan 
Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); 

  

  Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri;
Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasullahpun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.
  

  Terimakasih sebelumnya
 
  
Dari Ramadhan ke Ramadhan masalah ini sering sekali ditanyakan, dan
hadits yang anda tanyakan, saya dapatkan dalam kitab Sifat Puasa Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang ditulis oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaly 
dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.
 
  
Namun setelah saya perhatikan dengan apa yang anda tulis diatas, ternyata 
redaksi dan maksudnya jauh berbeda.
  

  

  Untuk lebih jelasnya, makna hadits tersebut bisa anda baca salinan dibawah 
ini.
 
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu juga, (bahwasanya) 
  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata 
: Amin, Amin, Amin"
  

  Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian 
mengucapkan Amin, Amin, Amin?"
  

  Beliau bersabda:
  

  Artinya : "Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata:
  

  "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka 
akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia,  katakan "Amin", maka akupun 
mengucapkan Amin...."
  

  [Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan Al-Baihaqi 
4/204 dari jalan Abu Hurairah.
  

  Hadits ini shahih, asalnya terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. 
  Dalam bab ini banyak hadits dari beberapa orang sahabat, lihatlah dalam 
Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin]
 
Disalin  dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, hal. 27-28, 
Pustaka Al-Haura.
 
Yang lebih lengkap lagi akan saya salinkan dari buku Birrul Walidain oleh 
Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam
 
  
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian 
berkata, "Amin, amin, amin". 
  

  Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya 
Rasulullah?"
  

  Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
  

  "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang 
yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan 
katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril  berkata lagi,
  

  'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan 
tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!',
  

  maka aku berkata : 'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
berkata lagi.
  

  'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari 
keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah 
amin!' maka kukatakan, 'Amin".
  
 
[Hadits Riwayat Bazzar dalama Majma'uz Zawaid 10/1675-166, Hakim 4/153 
dishahihkannya dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi dari Ka'ab bin Ujrah, 
diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 644 (Shahih 
Al-Adabul Mufrad No. 500 dari Jabir bin Abdillah)]
 
Dengan demikian, hadist diatas dan email dibawah tidak ada hubungan dengan 
keharusan bermaafan sebelum puasa Ramadhan.
  

  
Meminta maaf dan memaafkan seseorang dapat dilakukan kapan saja,
  dan tidak ada tuntunan syari'at harus dikumpulkan dulu dan menunggu sampai 
menjelang bulan Ramadhan.
 
Wallahu 'alam
 

  ------------ --------- --------- --------- --------- ---------


Atjeh Post <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:       
 
  Do'a malaikat Jibril menjelang Ramadhan
   
   “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki 
bulan Ramadhan dia tidak 
  Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);
 Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;
 Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.”

Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. 
  Dapatkah kita bayangkan, yang berdo'a adalah Malaikat 
  dan yang meng-amiinkan adalah Rasullullah dan para sahabat, 
  dan dilakukan pada hari Jumaat.
   
  
  Oleh itu Saya terlebih dahulu memohon maaf jika ada berbuat kesalahan dan 
terguris rasa,
  baik yang tidak di sengaja maupun yang di sengaja, 
  semoga kita dapat menjalani ibadah puasa dengan khusyuk,
   diberkati dan dirahmati Allah S.W.T, insyaallah.
   
  SELAMAT MENYAMBUT Ramadhan Al-Mubarak





    
---------------------------------
  
        Klaustrofobisk innboks? Få deg en Yahoo! Mail med 250 MB gratis 
lagringsplass http://no.mail.yahoo.com  

                         



       
---------------------------------
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 

Kirim email ke