Warga tolak ibokota Lhok Sukon
http://www.waspada.co.id/Berita/Aceh/Warga-Demo-Tolak-Ibukota-Di-Lhoksukon.html

ULAT LAM BATÈE NAMA ASLINA
ZULKIFLIRASID

Rabu, 31 Oktober 2007 03:00 WIB 
Ulat Lam Batei, Petinggi GAM
Yang Masih Bergerilya Di Hutan    
WASPADA Online

Ulat Lam Batei, nama sandi mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sampai 
sekarang masih betah tinggal di hutan. Ratusan pemuda dan orang tua masih tetap 
bersamanya 'bergerilya' di kawasan rimba Geureudong Pase, Aceh Utara. Tapi 
jangan salah, perjuangan mereka sekarang tidak memakai senjata api. 

Dengan cangkul, parang dan berbagai alat pertanian lainnya, Ulat lam batei 
bersama warga Gampong Dayah Seupeung memperjuangkan hidup di tengah-tengah 
keterpurukan ekonomi yang semakkin sulit pasca konflik bersenjata di Nanggroe 
Aceh Darussalam (NAD).

Mengapa dia masih betah di hutan? Apakah karena dia tidak mendapat tempat di 
pemerintahan seperti rekan-rekan seperjuangannya? Seperti Tgk.Ilyas A Hamid 
yang menjadi orang nomor satu di Kabupaten Aceh Utara. Atau Suadi Yahya, yang 
sekarang menjabat Wakil Walikota Lhokseumawe setelah memenangkan Pemilu 2006 
lalu. 

Padahal, jabatan Ulat lam Batei yang nama aslinya Zulkifli Rasyid sejajar 
dengan mereka dalam perjuangan GAM. Oleh sebab itu, Waspada tertarik 
mengunjungi langsung ke tempat tinnggal mantan kombatan GAM yang berada 32 
kilometer dari Kota Lhokseumawe.

Ketika pertama menginjak kaki di kawasan hutan Geureudong Pase, Minggu (28/10) 
berbagai pertanyaan muncul. Ketika itu jam menunjukkan pukul 12:24. Puluhan 
keluarga ke luar dari arah hutan menuju ke pinggir Sungai Krueng Pasei yang 
dipenuhi bebatuan. Orang tua, pemuda dan anak-anak mengarungi sungai sambil 
menjunjung kayu bakar dan beberapa ikat kedelai. 

Air sungai tidak terlalu dalam, hanya sebatas lutut orang dewasa. Menurut 
mereka, sudah terbiasa 
mengarungi sungai itu yang luasnya sekitar 30 meter.

Yang paling mengherankan, setelah kami ikut menyeberang dan tiba di pinggiran 
hutan. Ternyata sepanjang gugusan bukit terhampar kebun kedelai. Di antara 
kebun terbentang jalan yang terlihat seperti baru selesai dikerjakan. 
Pengalaman Waspada, saat ini belum ada proyek jalan baru di Aceh Utara selain 
yang telah dibuka di Kecamatan Langkahan dan Baktiya. Apakah karena proyek ini 
tidak dilakukan tender, sehingga tidak diekspos kepada masyarakat?

"Waalaikum Salam, Piyoh. Jroeh that Ka Neumeulangkah bak kamoe (sangat bagus 
telah sampai di tempat kami)," sambut Zulkifli, ketika Waspada memberi salam 
setelah tiba di depan gubuknya. Untuk sampai di gubuk yang berada di kaki 
gugusan bukit, kita harus mengarungi sungai.

Pria yang dikenal sebagai petani sukses selum konflik di NAD, juga memiliki 
rumah bagus di Keude Peuntet. Namun karena jiwa sebagai petani tidak pernah 
sirna, sehingga dia mengaku memilih menetap di gubuk tersebut. Setelah kami 
berhadap-hadapan, pertanyaan pertama langsung tertuju pada jalan yang dibangun 
tanpa papan nama proyek.

"Oh jalan ini memang bukan menggunakan uang pemerintah. Jadi tidak ada tender," 
jelasnya. Sepanjang 3,5 kilometer jalan utama dibangun dengan dana pribadi. 
Termasuk menyewa alat berat dan truk untuk mengangkut batu yang berada tidak 
jauh dari kaki bukit. Selain jalan utama, dia juga akan membangun jalan-jalan 
kecil untuk menjangkau kebun-kebun warganya yang berada jauh dari jalan utama.

Mustahil memang menggunakan uang pribadi untuk kepentingan umum. Sehingga perlu 
diteliti lebih dalam tentang pembangunan tersebut.

Setelah mendapatkan beberapa pertanyaan tentang alasan yang tersembunyi dari 
pembangunan jalan itu, dia langsung tertawa lebar. Memang menurutnya selama ini 
telah mendengar isi tentang tuduhan dia melakukan illegal loging. "Kalau memang 
saya mengambil kayu tidak sah, silakan tangkap," tegasnya. 

Polisi hutan dari Dinas Kehutan Kabupaten Aceh Utara telah turun langsung ke 
lokasi kebun. Ternyata tidak tebukti kayu-kayu di sekitar itu ikut ditebang. 
Yang dikeluarkan dari hutan ini beberapa hari lalu, hanya kayu-kayu yang 
ditebang di dalam kebun. Untuk mengeluarkan kayu-kayu tersebut, pihaknya telah 
menempuh jalur hukum. Yaitu mendapat persetujuan Pemerintah dan pihak 
kepolisian. 

"Walaupun kami masih tinggal di hutan. Tetapi tetap mematuhi hukum pemerintah," 
jelasnya.
Biaya yang telah dihabiskan untuk pembangunan jalan utama telah mencapai Rp 768 
juta. Pembangunan telah dilakukan sejak enam bulan lalu. Namun karena dananya 
terbatas, terpaksa dilakukan secara bertahap. Setelah uang terkumpul dari panen 
sawit, pinang dan padi, Zulkifli melanjutkan pembangunan itu. Untuk saat ini 
dia mengakui sedang mengalami kekurangan dana. 

Sehingga pembangunan akan dihentikan. Padahal, saat ini masyarakat sangat 
membutuhkan jalan karena sebagian kedelai bantuan Dinas Peretanian dan Tanaman 
Pangan Pemkab Aceh Utara, sedang masa panen.

Dia meminta pemerintah ikut mengevaluasi sendiri jalan itu yang dibangun dengan 
dana pribadi. "Kalau pemerintah daerah merasa perlu membantu masyarakat petani, 
silakan. Namun kaulau tidak, tidak apa-apa biar Allah saya yang membalas 
pekerjaan yang telah saya lakukan," ujar Zulkifli Rasyid. 

Dari 3,5 kilometer pembangun jalan utama, sejauh 2 km telah diberikan kerikil. 
Sedangkan sisanya terpaksa dihentikan sementara, akibat kekurangan dana. Selain 
jalan, pemerintah juga perlu membantu bibit sawit sebagai tanaman tua untuk 
masyarakat hutan Geuredon g Pase. 
Zainal Abidin (ags)

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke