HARIAN ANALISA Edisi Sabtu, 3 November 2007 Tajukrencana Aceh dan Bahan Baku
SEBUAH pernyataan dari seorang pengusaha nasional yang patut menjadi perhatian, terutama mereka yang berada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia, Sofjan Wanandi mengatakan di Banda, Aceh hendaknya tidak lagi mengekspor bahan baku, tetapi mengolah agar menghasilkan barang jadi. Kekayaan alam di Aceh harus dimanfaatkan dan diolah, karena Aceh memiliki kemampuan untuk itu. Dari sisi lain, pembangunan harus digerakkan dengan cepat agar para pemuda dapat bekerja. Tidak usah terlalu banyak bicara tentang politik, tetapi laksanakan pembangunan yang benar-benar memihak pada rakyat. Mungkin para pejabat dan pengusaha di Aceh sudah mengetahui apa yang diutarakan tersebut. Kalau menghasilkan barang jadi tentu dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk kebutuhan dalam negeri dan jika pun di ekspor, harganya sudah makin tinggi. Namun, selama ini secara umum hasil sumber daya alam dari sektor perkebunan, pertanian, pertambangan dan sebagainya, cenderung untuk diekspor. Sebagai contoh, pinang, kelapa, ikan dan lain-lain, semuanya diekspor. Kini, sudah saatnya, semua pihak memikirkan dan segera menerapkan pengolahan bahan baku itu. Memang tidak mudah. Diperlukan dana seumpama untuk pembelian mesin pengolah yang mungkin harus pula diimpor. Tetapi, dengan situasi perekonomian dan harga minyak mentah di dunia yang terus melambung, tentu ungkapan itu patut dipertimbangkan dengan matang. Kekayaan sumber daya alam di Aceh cukup besar. Berbagai sektor memiliki bahan baku yang cukup besar potensial untuk diolah. Jika hal ini dapat diterapkan, tentu terbuka lapangan kerja baru yang akan menyerap angkatan kerja yang ada di Aceh dalam jumlah besar. Pengangguran akan dapat dikurangi dan lebih daripada itu aktivitas perdagangan juga makin meningkat. Sejalan dengan itu pula, suatu hal positif lain akan terjadi yaitu peningkatan ketrampilan di kalangan tenaga kerja lokal. Bahkan, keberadaan sejumlah pabrik pengolahan bahan baku, justru akan terjadi alih teknologi dalam praktek, bukan hanya teori. Ini merupakan manfaat besar untuk terus memberdayakan potensi dan tenaga kerja lokal. Pada tahap akhir, tentu hasil olahan tersebut sangat diharapkan sebagai produk berkualitas tinggi. Jadi, ada beberapa segi yang sangat positif, jika bahan baku itu mampu diolah di daerah Aceh. Pemikiran dari pengusaha atau pelaku bisnis, memang cenderung efisien, bermanfaat serta menghasilkan provit yang besar. Wajar saja. Pola pikir dan konsep dari pelaku bisnis semacam itu, patut diperhatikan. Tidak usah malu menerapkan ide dan/atau mencontoh sesuatu yang baik. Sebab tujuannya adalah untuk kepentingan pembangunan guna kesejahteraan masyarakat. Dari sejumlah gagasan yang diajukan ke Aceh, melalui berbagai forum, diskusi atau pertemuan khusus, kiranya sudah saatnya diterapkan pola untuk memacu derap pembangunan di Aceh. Artinya, geliat pembangunan dalam berbagai sektor mulai menjadi kenyataan, bukan sebatas konsep. Para pengusaha lokal Aceh yang berskala nasional, regional bahkan internasional, kiranya memberi alternatif yang tepat. Jika pola olah bahan baku itu memang dianggap tepat, kiranya dengan jiwa besar pula coba diterapkan. Sekali lagi, itu memang tidak gampang. Butuh dana, tenaga kerja yang trampil dan berbagai hal lain, untuk mengolah bahan baku sehingga lahir barang jadi. Namun, sepanjang ide tersebut dapat dilaksanakan, memberi manfaat dan keuntungan bagi daerah dan masyarakat Aceh, sebaiknya dipertimbangkan. sebab, ide kebijakan mengekspor bahan mentah berbeda dengan hasil dari menjual barang jadi yang dimanfaatkan di dalam negeri atau diekspor. Devisa negara akan bertambah, daerah dan masyarakat juga akan menikmati hasil dari barang jadi itu.
