http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=37383&rubrik=1&kategori=1&topik=45
a.. 6/11/2007 03:58 WIB


Lamban Membangun Jalan Pantai Barat
BRR Kecewakan Rakyat
* Ruas Tengah Sedang dalam Proses Tender 

[ rubrik: Serambi | topik: Rekontruksi & Rehabilitasi Aceh ]



BANDA ACEH - Politisi Aceh menilai, program kelanjutan pembangunan jalan tengah 
alternatif Keumala-Tangse-Geumpang-Tutut-Meulaboh dan pantai barat-selatan 
sampai batas Sumut yang diserahkan kepada BRR NAD-Nias, sangat mengecewakan 
rakyat. Terutama karena, setiap terjadi peristiwa tanah longsor dan jembatan 
putus, penanganan daruratnya berjalan sangat lamban. Politisi Partai Golkar, 
Sulaiman Abda yang memberikan penilaian tersebut juga mencontohkan, ketika 
Jembatan Meudang Ghon, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, ambruk seminggu menjelang 
Hari Raya Idul Fitri 1428 Hijriah, baru berhasil diatasi pada akhir Oktober 
2007. "Ini kan sangat lamban penanganannya, sehingga usai Lebaran pun masih 
banyak warga yang terjebak di kawasan itu," ujarnya kepada Serambi, Senin 
(5/11).


Kritikan hampir serupa dilontarkan Basrun Yusuf, politisi Partai Persatuan 
Pembangunan. Menurut Wakil Ketua Komisi D ini, memasuki tahun ketiga pascagempa 
dan tsunami, seharusnya penanganan pembangunan jalan tengah alternatif dan 
pantai barat-selatan sampai batas Sumatera Utara (Sumut), sudah tuntas 30-50 
persen. Tapi fakta di lapangan sampai tahun ketiga pascatsunami, BRR masih 
mengumbar program dan janji. 

Buktinya, ungkap Basrun, pembangunan kembali ruas jalan tengah (alternatif), 
Keumala-Tangse-Geumpang-Tutut-Meulaboh, berjalan sangat lamban. Menurut Dinas 
Prasarana Wilayah (Praswil) Aceh, kata Basrun, pelaksanaan rehab dan rekonnya 
sudah diserahkan kepada Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias. 
Tapi anehnya, ketika terjadi peristiwa tanah longsor pada Minggu malam di Km 
41, Bayben, Geumpang-Tutut, penanganannya justru berjalan lamban. Akibatnya, 
masyarakat yang melintas di jalur itu harus bermalam di lokasi kejadian. 
Kecuali itu, untuk melewati bekas tanah longsor tersebut, pengendara harus 
mengeluarkan uang Rp 20.000-Rp 50.000/unit kendaraan. 

Peristiwa yang serupa juga sering dialami penduduk Aceh Jaya. Di kawasan ini, 
pembangunan kembali ruas jalan Calang-Banda Aceh, ditangani USAID (lembaga 
donor Amerika Serikat). Dalam amatan Serambi, sebagian ruas jalan dan jembatan 
yang rusak akibat tsunami, kini sedang dalam pembangunan kembali. Tapi ketika 
ada ruas jalan yang longsor atau jembatan yang putus pada ruas jalan yang belum 
ada kontraktor pelaksananya itu, seperti jalan Lamno-Calang, BRR tergolong 
lamban mengatasi penanganan daruratnya. Contoh terbaru adalah ketika jembatan 
Meudang Ghon, ambruk menjelang seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri lalu. 

Kasus tanah longsor dan jembatan rusak serta ambruk, ungkap politisi dari 
Partai Amanat Nasional, Almanar, sudah sering terjadi pada kedua ruas jalan 
yang menjadi tanggung jawab BRR. Ketika DPR Aceh mempertanyakan hal itu kepada 
BRR, dikatakan untuk ruas tengah Geumpang-Tutut, proyeknya sedang ditender. 
Sedangkan untuk ruas jalan Calang-Banda Aceh, sebagiannya sudah dikerjakan PT 
Wijaya Karya, terutama untuk ruas Lhoknga-Lamno. 

Disebutkan juga bahwa untuk ruas jalan Lamno-Calang, USAID sudah mengontrakkan 
pekerjaannya pada Juni 2007 kepada S Samyong, perusahaan dari Korea dan PT 
Hutama Karya. "Tapi kenyataannya, sampai kini kedua perusahaan itu belum 
melakukan kegiatan konstruksi di lapangan," ujar Almanar yang juga Sekretaris 
Komisi D DPRA. 

Surati USAID 

Untuk memacu pembangunan kedua ruas jalan strategis itu, ketiga anggota DPR 
Aceh tadi, meminta Kepala BRR NAD-Nias, Kuntoro Mangkusubroto dan Gubernur 
Aceh, Irwandi Yusuf, sebagai Wakil Kepala BRR NAD-Nias, menyurati USAID untuk 
mempertanyakan kenapa kontraktor yang telah menandatangi kontrak kerja itu 
belum juga bekerja maksimal. Sebab, makin lama ruas jalan Calang-Banda Aceh, 
diselesaikan, maka beban ekonomi yang harus dipikul rakyat semakin besar. 
Padahal, dana untuk pembangunannya sudah tersedia, yakni dari USAID dan MDF 
(Bank Dunia). 

"Tapi kenapa sampai kini belum juga selesai? Kondisi ini mengindikasikan 
kinerja dan koordinasi yang dilaksanakan pemerintah provinsi, kabupaten dengan 
BRR dan USAID, masih lemah," timpal Ketua Komisi D, Sulaiman Abda. 

Ia mengemukakan bukti bahwa menurut keterangan pihak USAID, sampai kini masih 
ada 179 persil tanah lagi yang belum selesai dibebaskan di lintas Banda 
Aceh-Meulaboh. Padahal, Gubernur Irwandi Yusuf, pernah berjanji akan 
menyelesaikannya dalam waktu yang singkat. Akibat dari belum tuntasnya masalah 
pembebasan tanah tersebut, kini pembangunan jalan tahap I Lhoknga-Lamno yang 
dikerjakan PT Wika, berupa paket pelebaran dan penimbunan badan jalan, jadi 
terputus-putus. Ini disebabkan, ada bagian ruas jalan yang tanahnya belum 
selesai dibebaskan. 

Diserahkan ke BRR 

Kadis Praswil Aceh, Ir Ridwan Husin mengatakan, ruas jalan yang pembangunannya 
telah diserahkan kepada BRR itu, jika terjadi kerusakan sebelum pembangunan 
permanen dilakukan, maka sepenuhnya menjadi tanggung jawab BRR. Pemerintah Aceh 
atau kabupaten tidak boleh mengusulkan anggaran tanggap daruratnya. "Jadi, jika 
terjadi bencana tanah longsor dan jembatan putus pada ruas jalan itu, untuk 
penanganan dan perbaikan daruratnya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab BRR," 
timpal Ridwan Husin. 

Deputi Infrastruktur BRR NAD-Nias, Bastian S Sihombing mengatakan, pembangunan 
kembali ruas jalan Meulaboh-Banda Aceh, telah diserahkan kepada BRR. Untuk ruas 
Meulaboh-Calang, sepanjang 100 km pembangunannya sudah selesai pada Juni 2007. 
Dananya bersumber dari bantuan Jepang (JICS). Sedangkan untuk ruas 
Calang-Lhoknga sepanjang 140 km, pembangunan kembali ruas jalan itu akan 
dibiayai USAID. Sepanjang 41 km sudah dikontrakkan kepada PT Wika dan kini 
sedang dalam pengerjaan. Untuk ruas Lamno-Calang, juga sudah dikontrakkan 
kepada perusahaan S Samyong dari Korea plus PT Hutama Karya. 

Untuk ruas tengah Keumala-Tangse-Geumpang-Tutut-Meulaboh, kata Bastian, 
pembangunan dan pelebaran badan jalannya secara permanen sudah menjadi tanggung 
jawab BRR. Pembangunan ruas jalan itu dibiayai dari bantuan MDF/Bank Dunia dan 
kini sedang dalam proses tender internasional. "Diharapkan, bulan depan sudah 
ada kontraktor pelaksananya," ujar Bastian. 

Untuk ruas jalan itu, lanjut Bastian, pemeliharannya menjadi tanggung jawab 
BRR. Untuk itu, BRR telah mengalokasikan dana penanganan darurat ketika terjadi 
bencana tanah longsor dan jembatan putus. Misalnya, untuk penanganan tanah 
longsor yang terjadi di Km 41 Geumpang-Tutut. 

Kasatker dan PPK jalan itu, menurutnya, sudah melakukan persiapan penanganan 
dan Rabu besok kondisi jalan tersebut diharapkan bisa kembali normal. Begitu 
juga dengan Jembatan Meudang Ghon yang ambruk saat dilintasi truk tronton, 
sudah dibangun kembali dengan jembatan balley yang baru pada bulan ini. (her)

++++

 
http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=37390&rubrik=1&kategori=2&topik=45
a.. 06/11/2007 09:10 WIB


Jubir Kaukus Pantai Barat-Selatan: Pemerintah dan BRR tak Serius

[ rubrik: Serambi | topik: Rekontruksi & Rehabilitasi Aceh ]



BANDA ACEH - Pemerintah dinilai tak begitu serius menangani pembangunan kembali 
jalan Banda Aceh-Meulaboh yang luluh lantak akibat bencana tsunami akhir tahun 
2004. Buktinya, sudah hampir tiga tahun jalan yang menjadi urat nadi masyarakat 
pantai barat-selatan Aceh itu belum juga rampung dikerjakan. Bahkan, soal 
pembebasan tanahnya saja pun sampai hari ini belum tuntas dilakukan.


"Saya melihat pemerintah, baik Pemerintah Aceh maupun pemerintah pusat melalui 
BRR, seperti tak memiliki rasa kepedulian terhadap masyarakat pantai 
barat-selatan," ujar Juru Bicara (Jubir) Kaukus Pantai Barat-Selatan, TAF 
Haikal kepada Serambi, Senin (5/11) ketika ditanyai pendapatnya soal 
pembangunan jalan Banda Aceh-Meulaboh yang prosesnya belum begitu 
menggembirakan. 

Menurut Haikal, kalau pemerintah serius menangani proses pembangunan kembali 
sarana perhubungan darat ini, mungkin proses pembebasan tanah sudah tuntas 
dilakukan sejak dulu. "Tapi kenyataannya sampai hari ini belum selesai. Mana 
janji Kepala Pemerintahan Aceh yang mengatakan akan mempercepat proses 
pembebasan tanah itu," ujarnya. 

Di sisi lain Haikal mengakui, untuk pembebasan tanah bagi pembangunan jalan 
tersebut tidak harus Gubernur Irwandi Yusuf yang turun langsung, karena sudah 
ada tim yang dibentuk. "Bila tak mampu bekerja ya ganti saja tim itu, jangan 
biarkan rakyat terus menderita. Buat apa jadi beban pemerintah memberi jabatan 
dengan tunjangan fungsional bagi orang yang tidak becus kerja," timpalnya. 

Haikal bahkan menilai, tindakan ini dilakukan sebagai upaya menjadikan kawasan 
pantai barat-selatan untuk terus terisolasi. "Kalau tidak, kenapa proses jalan 
ini tidak serius ditangani? Padahal, dana saat ini sangat melimpah. Kan tidak 
ada alasan untuk terus mengulur waktu," tukasnya. 

Ia juga menyarankan agar pemerintah belajar dari pengalaman empirik pada masa 
lalu bahwa wilayah barat-selatan selalu termarginalkan dalam proses 
pembangunan. Padahal, wilayah tersebut seperti diketahui sudah sangat hancur 
akibat bencana alam dan konflik bersenjata. "Prioritas pembangunan untuk 
membuka isolasi wilayah barat-selatan seharusnya menjadi agenda penting 
pemerintah provinsi dan khususnya BRR yang memegang mandat bekerja untuk 
rehab-rekons Aceh pascatsunami," demikian TAF Haikal yang juga mantan 
koordinator Forum LSM Aceh. 

Kirim email ke