MONYET VERSI AL-QURAN
DAN
MONYET VERSI ACHEH
Streotipe monyet versi Al-Quran bisa dijumpai dalam kisah umat Nabi Musa
sebelum jadi monyet telah berjanji [bayah] memegang teguh isi The Ten
Commandments yang diterima Musa secara langsung dari Allah S.W.T di Bukit
Tursina. Mereka berjanji: beriman kepada Allah;
mematuhi ajaran yang dibawa
Musa;
tidak membunuh;
menunaikan shalat;
menghormati, mengasihi dan
menyayangi kedua orangtua;
menjalankan ibadah puasa;
membayar zakat;
tidak merampas harta orang lain;
menyantuni anak yatim dan fakir miskin;
berbudi pekerti terhadap sesama hamba Allah. Perjanjian monumental yang
bersejarah di Bukit Tursina, dikatakan: Dan ingatkah, ketika Kami mengambil
janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung Tursina di atasmu seraya Kami
berfirman: Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah
selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertaqwa (Q: 2 ayat 63)
Awalnya, kaum Yahudi taat, walaupun gaya hidup mereka serba wah, santapan
Manna dan Salwa didatangkan dari syurga. Yahudi, bangsa yang merasa diri
dimanjakan dan dilebihkan derajatnya oleh Allah, akibatnya kurang ajar. Pada
akhirnya nekad menentang isi The Ten Commandments. Mereka protes bhw Manna dan
Salwa monoton.
kami mau sayur-mayur, Timun, Bawang putih, Kacang Adas dan
Bawang merah
(Q: 2 ayat 61). Bahkan ngancam: Kami takkan beriman, sebelum
melihat wajah Allah yang terang (Q: 2 ayat 55.
Melanggar janji sudah menjadi rahasia umum di kalangan orang Yahudi, bukan
perkara tabu dan memalukan. Situasinya digambarkan sbb: Kemudian kamu
berpaling setelah perjanjian itu, maka kalau tidak karena karunia Allah dan
rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu tergolong orang yang rugi. (Q: 2 ayat 64).
Bahkan
mengganti perintah dengan mengerjakan yang tidak diperintahkan kepada
mereka
(Q: 2 ayat 59). Akhirnya, pada suatu hari, dimana orang Yahudi
biasanya shalat berjamaah. Pada hari Sabtu yang naas itu mereka tidak
menjalankan perintah Allah sebagaimana janji. Tentang ini, Allah berfirman:
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu
pada hari sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: Jadilah kamu monyet yang
hina (Q: 2 ayat 65)
Allah tidak mengutuk/menyifatkan mereka sebagai/jadi babi dan anjing,
melainkan monyet. Yang bisa dipahami, bahwa secara fisik memang monyet-lah
binatang yang paling menyerupai manusia. Moralitas monyet adalah simbol
moralitas pengkhianat yang mengingkari perjanjian Bukit Tursina. Monyet adalah
simbul kerakusan, racism dan kejumudan. Lagi pun, mana ada monyet yang
berpegang teguh kepada sumpah [bayah]?
Dengan meminjam gaya bahasa Al-Quran itu, disusun kalimat sbb: Ingatkah,
ketika engkau proklamasikan berjanji membebaskan Acheh dari penjajahan
Indonesia-Jawa di lereng Bukit Blang Pandrah. Ambil dan pegang teguh isi ikrar
itu, niscaya Acheh merdeka ( Isi pokok Proklamasi 4 Desember 1976) Dan
Ingatkah, ketika engkau berikrar menuntut referendum di depan Masjid
Baiturrahman. Ambil dan pegang isi ikrar itu, niscaya Acheh merdeka (Isi
pokok dari ikrar SIRA - 8 November 1998) Kemudian engkau berpaling dan
mengingkari ikrar itu, kalaulah bukan karena nasehat kami, niscaya Acheh akan
tetap dijajah.
Mudahnya berhkianat, semudah engkau taat-setia kepada perjuangan dan
pemimpin;
Mudahnya ingkar janji, semudah engkau melafadhkan bayah;
Mudahnya terima otonomi, semudah engkau ikrarkan kata referendum dan merdeka!
Kini sudah engkau kenal pasti siapa diantaramu yang mengkhiananti
perjuangan, menganggti ikrar setia dari Acheh Merdeka kepada Indonesiadi
Helsinki, pada 15 Agustus 2005. Maka jadilah engkau monyet yang hina itu.
Diantara binatang yang paling tajam naluari pendengaran, racism, cerdas
melirik peluang, pandai membaca situasi politik dan keamanan, lihai menguasai
situasi, hingga tahu persis lokasi kebun-kebun mana tengah panen yang lalai
dari penjagaan empunya ialah monyet. Gerombolan monyet-monyet inilah tengah
menjarah kebun BRR dan BRA, menggilas timun, buah rambutan, mangga, pisang,
dll. Yang memiliki hak korban Tsunami dan korban konflik masih ribuan jiwa
belum menikmati hasil kebun ini.
Monyet hanya berpikir untuk kepentingan pribadi dan clan-nya, makan
sekenyang-kenyangnya, bukan sekadarnya, aji mumpung falsafah hidupnya! Dengan
dalih tidak punya gudang menyimpan sembako, maka Ulama monyet, Parlemen monyet,
Kepala pemerintahan Provinsi Acheh monyet, Kepala-kepala Dinas monyet,
monyet-monyet kelaparan dari Eropah, aktivis sivil society monyet yang bekerja
di BRR monyet, BRA monyet dan KPA monyet, berkomplot menguras apa saja isi
kebun itu. Makan semen, kertas, batu, kayu dan pasir dll. Monyet-monyet ini
racism! Saat Kepala monyet bikin maklumat bhw monyet mana saja yang mencuri
kayu: tangkap, adili dan hukum. Sebaliknya, ketika monyet-monyet dari clan-nya
ditangkap mencuri kayu; monyet-monyet tersebut menyerbu kantor Polisi monyet,
agar monyet yang berasal dari clan-nya dilepas, bahkan Ketua monyet menjamin
monyet-monyet itu untuk tidak diadili.
Sebelum jadi monyet, puluhan ribu phytecantropus Erectus (monyet Jawa) datang
ke Acheh, menggerangayai kebun-kebun mereka: hasil kebun, emas-perak, rumah,
talam, piring-belanga, mangkok, toko dirampok, anak-anak gadis diperkosa oleh
monyet-monyet itu. Setelah damai di Helsinki, antara phytecantropus Erectus dan
phytecantropus Achehtus (monyet Acheh) bersama-sama menggerayangi kebun milik
korban Tsunami dan korban konflik.
Sebelum jadi monyet, mereka tinggal di hutan sbg pejuang, disantuni orang
kampung agar tak lapar dan mati busung, diberi uang dengan dalih beli senjata.
Setelah jadi monyet, phytecantropus Achehtus serahkan senjata dipotong-potong
oleh AMM-phytecantropus Erectus. Sekarang, phytecantropus Erectus tengah
mengajar menatah monyet-monyet Acheh berjalan-jalan di kota metropolitan
Jakarta, membubukan di atas kasur berbusa di Hotel-hotel berbintang lima,
mengajar monyet-monyet Acheh mamakai sepatu harga ribuan US dollar.
Monyet-monyet ini masih canggung menyesuaikan diri di tengah-tengah masyarakat
kampung dan gaya hidup di kota, canggung makan di restoran-restoran megah dan
terbuka pakai sendok, pisau dan garpu. Itu sebabnya, kalau masuk restoran,
monyet monyet ini bergerombolan, tak berani sendirian. Dan, makanan dipesan
dari restoran terkemuka dan makan bersama di kerangkang tertutup. Sesekali
lewat dengan Kijang Inova-nya, orang ramai tersentak melihat wajah monyet-monyet
yang tak pernah merasa bahagia hidup sebelum ini. Tangan mereka sudah lembut
diraba, dicuci dengan parfum, hingga gadis-gadis geram untuk menjadi isteri ke
dua, ketiga, ke-empat dan ke lima. Tidur bersama monyet-monyet ini lebih terasa
hangat dan pulas.
Monyet, tidak pernah berpikir soal listrik. Tiada hari tanpa listrik mati di
Acheh. Di kantor-kantor monyet ini ada Disel, sementara jutaan rumah penduduk
merana kegelapan. Nalar monyet ini setarap dengan monyet Saré, yang selamanya
bergantung kepada sisa makanan yang dilempar penumpang kenderaan. Listrik Acheh
bergantung kepada pembangkit listrik Sigura-gura. Mati listrik di medan, mati
lampu di Acheh; bubar rapat monyet di Medan, bubar pula rapat monyet Acheh.
Bagaimana Kepala monyet mengajak George Soros masuk rumah Acheh yang listriknya
padam lima atau tujuh kali sehari? Bagaimana perusahaan melakukan aktivitas,
tanpa aliran listrik yang cukup? Bagaimana investor asing mau datang ke Acheh,
sementara main road tidak bisa dilewati jentera berat? Lain dengan monyet
asing, yang memakai tanker untuk mengangkut barang-barang curian dari Acheh.
Masih juga monyet-monyet ini melompat dari ranting ke ranting, dari cabang ke
cabang: ke beberapa negara di Asia, Amerika latén dan Eropah. Jika ditanya:
Kemana Ketua monyet kita? Ke luar negeri, cari investor asing! Kemana Ketua
monyet kita? Ke Medan dan Jakarta, cari investor! Lagi pun, kalau mau investor
asing, monyet Acheh kan wajib lapor dan mendapat persetujuan lebih dahulu dari
phytecantropus Erectus di Jawa. (baca: Mou Helsinki, UU No. 11/2006 dan PP
No.20/2007).
Orang tahu, bhw falsafah kerja monyet adalah cekik-banting dan kuras habis.
Monyet tidak punya plan jangka panjang. Issu perumahan contohnya. Monyet baru
sadar dan menggelar rapat mendadak membangun rumah, apabila langit sudah
diselubungi awan mendung dan segera turun hujan. Ketua monyet, mengundang
pelbagai faksi, fraksi, kepala suku dan clan untuk urun-rembuk membangun rumah
masa depan. Begitu rapat dibuka, hujan deras mengguyur, rapat bubar dan buyar,
monyet-monyet ini menyelamatkan diri masing-masing. Anggota sidang monyet kabur
dari ruang rapat tanpa permisi, berkeliaran di warung-warung, sampai Ketua
monyet menangkapnya baru bersatu kembali. Anehnya, ketika hujan sudah reda,
tidak se-monyet-pun yang membangkitkan issu pokok tadi. Semua lapisan komunitas
monyet ini lupa dan sibuk mencari rezeki untuk hari ini, bukan untuk esok hari
dan bukan pula untuk generasi esok. Inilah kultur dan management monyet!
Akhirul qalam, kalau monyet dilatih menurunkan buah kelapa, itu biasa. Tapi,
jika manusia dilatih oleh monyet untuk berpikir dan berkarya seperti monyet,
itu luar biasa. Monyet-monyet yang ingkar perjanjian Bukit Tursina sudah tiada,
kini wujud monyet-monyet yang ingkar kepada proklamasi Blang Pandrah 4 Desember
1976, yang merangkak dan berjingkrak-jingkrak di arena politik Acheh. Oo Acheh,
Ooo Monyet
Muda Barona
f
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com