Refleksi: Agaknya masalah Dede ini mencerminkan bagaimana situasi politik dan sistem pelayanan kesehatan NKRI terhadap rakyat, sebab kalau politik kesehatan diutamakan untuk pemeliharan kesehatan rakyat, maka sudah sudah tentu terdapat kemungkinan guna dilakukan pemeriksaan dan pengobatan pada stadium permulaan muncul penyakitnya. Dede berdiam di Jawa Barat, dekat dengan pusat pemerintahan dan tempat timbunan kekayaan dari berbagai pelosok, jadi Anda dapat bayangkan sendiri bagaimana pelayanan kesehatan dan kemungkin mendapat pengobatan di daerah-daerah di luar pulau Jawa. Puja-pujilah NKRI kalau Anda jujur. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/27/0205.htm Dede Mulai Diperiksa Tim Dokter Organ Dalam dan Jaringan Tulangnya Normal BANDUNG, (PR).- Tim dokter RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung mulai melakukan tindakan medis terhadap Dede (38), penderita penyakit kutil (Epidermodysplasia verruciformis/EV) dengan giant cutaneous horn, Senin (26/11). Tahap awal yang dilakukan di antaranya pemeriksaan organ dalam, kekebalan tubuh, foto rontgen, dan CT-Scan. Ketua Tim penanganan Dede, Dr. Rachmatdinata, Sp.K.K. (K), mengungkapkan itu di ruang kerjanya, Jln. Pasteur Bandung, Senin (26/11). "Hasil pemeriksaan dulu (1996), organ dalam dan jaringan tulangnya normal. Kami lakukan pemeriksaan ulang untuk melihat apa ada yang berubah selama 10 tahun terakhir," katanya. Hasil pemeriksaan awal akan menjadi dasar tindakan selanjutnya. Tim dokter pun terbuka terhadap kemungkinan digunakannya hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan Prof. Anthony Gaspary dari University Maryland terhadap Dede sehingga bisa menambah data penanganan kasus tersebut. Pemeriksaan DNA (Deoxyribose Nucleic Acid) akan dilakukan RS Kanker Dharmais lewat pemeriksaan jaringan kulit yang terkena kutil yang hasilnya satu minggu ke depan. Tes dilakukan untuk memeriksa varian Human Papilloma Virus (HPV) yang menjadi penyebab kutil pada tubuh Dede. Saat ini, terdeteksi 88 varian HPV di seluruh dunia. Penyakit kutil pada umumnya terserang HPV jenis 2, 5, 8, dan 10. "Kutil tidak menular, meski terjadi sehebat pada Dede, namun keluarganya tidak ada yang mengalami hal serupa," katanya. Sel tanduk yang memanjang dan berkembang tidak terkendali di bagian ujung tangan dan kakinya akan dipotong menggunakan gergaji mesin berukuran kecil oleh dokter spesialis ortopedi dan bedah plastik. Saat dirawat di RSHS pada 1996, sel tanduk di tubuh Dede, warga RT 1 RW 6 Kampung Bunder Desa Tanjung Jaya Kec. Cihampelas Kab. Bandung Barat itu, dipotong menggunakan tang. "Karena lapisan sel tanduk itu bukan jaringan hidup, saat dipotong tidak sakit dan tidak mengeluarkan cairan," ujarnya. Sejauh ini belum diberikan treatment obat-obatan kepada Dede. Namun, diutamakan asupan gizi yang sempurna melalui makanan untuk menaikkan berat tubuhnya yang sekitar 45 kg. Obat Acetretin yang diberikan hanya dapat menghambat pembentukan sel tanduk dan tidak menghilangkannya sehingga harus terus dikonsumsi. Dibatasi Orang yang berinteraksi dengan Dede mulai dibatasi, termasuk wartawan yang hendak meliput. Kaca pada pintu kamar Dede di Ruang Bedah Bawah (RBB) Bougenvile kamar 11 pun ditutup lapisan putih. "Daya tahan tubuh Dede lemah. Kalau banyak dikunjungi orang, bisa tertular penyakit lain. Kalau tertular flu, jadi repot," ujar Rachmat. Dede sudah mengurangi kebiasaan merokok. Biasanya, Dede menggunakan alat khusus berupa pipa panjang disematkan di antara jari yang dipenuhi sel tanduk dan kutil. Untuk memberi hiburan, diusulkan melengkapi kamar Dede dengan televisi. Ditemui di ruangan Dede, ayahnya, Ateng, mengaku senang penyakit yang diderita Dede sampai mengundang perhatian Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono, dan Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari. "Saya bangga, sampai Menteri datang menjenguk Dede. Semoga pengobatan ini bisa sembuhkan Dede," ujarnya. Karena kakinya sedang sakit, Ateng datang ke RSHS menggunakan tongkat. Mengenai kontrak dengan stasiun televisi asing untuk penayangan derita Dede, Ateng mengaku tidak tahu-menahu. "Ah, enggak tahu soal kontrak-kontrak saya mah," ucapnya. Ketika ditanya mengenai usianya, Ateng mengaku berumur 72 tahun. "Loh, bukannya 50 tahun kata Bapak? celetuk seorang wartawan,"Wah, soalnya sudah tua, jadi rada pikun dan lupa umur sendiri," ujarnya. (A
<<utama-27112007-02.jpg>>
