----- Original Message ----- 
From: Mounaward bin Ismail 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, December 04, 2007 7:08 AM
Subject: Re: [pantau-komunitas] Bisnis Serdadu


Salam, 

Saya ingin menuangkan sedikit uneg-uneg soal
'kerakusan' serdadu di Aceh. Semoga tak ada yang
mereka dalam ranah maya ini ya, hehehe

Ini memang sudah menjadi rahasia umum di Aceh. Setiap
lahan kosong, selalu 'dirampok' kaum berseragam.
Setiap tanah 'negara' misalnya, kalau hari ini kita
lihat, dua pekan kemudian balik lagi, sudah ada
pamplet yang bunyinya kira-kira begini; "Tanah Ini
Milik TNI". 

Itu satu persoalan. Yang lebih konyol lagi adalah
Blang Padang di pusat kota Banda Aceh, yang
luasnya--saya kira sebesar Stadion Gelora Bung Karno.
Nah ini pun sudah diklaim milik mereka. Pampletnya
memang dipasang pada masa darurat militer dulu. 

Blang Padang, tanah milik Pemerintah Aceh ini
sebenarnya diperuntukkan sebagai area publik yang
dipakai warga saban sore, baik untuk olahraga, jogging
dan aktivitas olahraga lainnya. Ini pun sudah mulai
dibatasi.

Menurut leluhur Aceh, Blang Padang itu zaman dulu
dipakai untuk tempat parkir seribuan gajah milik
Sultan Iskandar Muda. yang dipakai sebagai kenderaan
perang. "Komadan para gajah" itu tak lain
Biramsantani, atau Gajah Putih yang ditunggangi
Meukuta Alam, Iskandar Muda. 

Lain lagi, di Lhokseumawe, saya juga mendapat kabar,
Gedung KNPI yang dipinjam pakai militer pada masa DOM
itu, kini malah sudah dilegalkan milik serdadu. 

"Konflik-konflik" ini memang kerap mewarnai antara
warga dengan kaum bersenjata. Sepanjang jalan Banda
Aceh Medan, dari Seulimum, Aceh Besar hingga kaki
Seulawah masuk ke kabupaten Pidie, di beberapa titik
malah sudah berhasil "diduduki" serdadu. 

Dan, saya pikir masih banyak kasus-kasus lain yang
belum mencuat kepermukaan. Atas nama negara mereka
merampas hak ulayat dan tanah rakyat. Atas nama milik
negara, sudah biasa serdadu menggangu rakyat jelata. 

Di Sabang, kabarnya lebih parah lagi. Daerah kepulauan
yang luasnya tidak seberapa itu malah dikuasai tiga
angkatan sekaligus; laut, udara dan darat. Darat
awalnya tidak begitu dominan. Namun setelah MoU
Helsinki, mereka merambah ke kawasan hutan lindung di
yang berdekatan dengan objek wisata Iboih, Gapang.
Sebuah kompleks militer setingkat Kompi pun dibangun
di sana.

Di kawasan Balohan, Sabang. Malahan, serdadu di sana
langsung main serobot. Kepada kepala setempat mereka
hanya bilang, "kami ingin mendirikan perumahan di
sini". Tanpa bisa dibantah. Pekan depan langsung sudah
ada pondasi. 

Gara-gara, banyak kasus semacam itu di Aceh,
smpai-sampai sebagaian warga Aceh memplesetkan nama
"Nanggroe Aceh Darussalam" menjadi Nanggroe Angkatan
Darat. Kenaa begitu, ya, karena faktnya memang seperti
itu. 

salam
Mouna 
Jurnalis di Banda Aceh
Mantan Peserta JS Pantau

Andreas Harsono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Pantau 03 Dec 2007 | 1.871 kata
> 
> 
> Bisnis Serdadu
> 
> Oleh Hairul Anwar
> 
> 
> �DILARANG masuk. Kolam sedang direnovasi. Pasal
551
> KUHP.�
> 
> Tulisan ini tercetak tebal dengan cat merah di pagar
> depan kolam Mata Ie.
> Larangan senada juga terlihat di seng yang memagari
> kawasan kolam.
> 
> Kedai-kedai yang dulu berdiri dekat pintu masuk
> tidak ada lagi. Beberapa
> orang tentara berbaju loreng terlihat merapikan
> bekas bongkaran bangunan.
> 
> Tetapi ada tiga kedai yang masih tegak. Letaknya
> berimpitan dan berada
> sebelah barat kolam. Dibanding yang lain, lahan
> ketiganya lebih luas.
> 
> �Pemiliknya menolak pembongkaran,� ujar seorang
> perempuan yang tengah
> menengok situasi kolam.
> 
> Kabar pembongkaran ini memantik pertanyaan dari
> kalangan aktivis di Banda
> Aceh.
> 
> �Kenapa tentara yang harus membongkar. Kenapa
bukan
> aparat Pemda (Pemerintah
> Daerah)?� kata Asiah, koordinator Komisi untuk
Orang
> Hilang dan Korban
> Tindak Kekerasan (Kontras) Aceh.
> 
> Pada Kamis, 8 November 2007, Asiah bersama aktivis
> Lembaga Bantuan Hukum
> Aceh dan Sentra Informasi untuk Referendum Aceh
> membeberkan kisah
> pembongkaran itu kepada wartawan.
> 
> �Kami curiga ini ada kaitannya dengan upaya
tentara
> untuk berbisnis.
> Mestinya lahan itu dikelola Pemda. Bukan tentara,�
> lanjut Asiah.
> 
> Mata Ie, dalam bahasa Indonesia berarti mata air. Ia
> terletak di desa Leu
> Ue, kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.
> Pascatsunami, Mata Ie dijadikan
> tempat pengungsian penduduk karena letaknya yang
> lebih tinggi dibanding
> dataran sekitarnya.
> 
> Setiap akhir pekan Mata Ie ramai didatangi warga
> yang ingin menikmati udara
> sejuk, berenang, atau menonton monyet-monyet yang
> berjumpalitan di
> pohon-pohon besar nan rindang.
> 
> Ada dua kolam renang di situ, di bagian atas dan 
> bawah. Jika musim hujan
> tiba airnya berubah keruh kecoklatan. Kecuali hari
> libur, kolam itu kerap
> digunakan untuk latihan tentara.
> 
> Maklum, kawasan wisata Mata Ie bersebelahan dengan
> kompleks Resimen Induk
> Daerah Militer (Rindam) Iskandar Muda. Ini sebuah
> sekolah militer tingkat
> tamtama (Secata) Komando Daerah Militer Iskandar
> Muda.
> 
> �Kami tidak menolak renovasi tapi menolak
> penggusuran kedai pedagang. Karena
> kamilah yang telah berjasa memperbaiki, membersihkan
> lokasi kolam sejak
> awal,� kata Abdullah Risyad.
> 
> Ditemani Markinio dari Kontras Aceh, saya menemui
> Risyad di rumahnya pada
> Minggu, 10 November 2007 lalu. Sore itu dia sedang
> menyapu halaman rumahnya,
> persis di depan markas Rindam.
> 
> Selang beberapa menit, muncul Kamaruzzaman dan Sami
> Sanif. Lelaki dan
> perempuan ini juga menolak kedainya dibongkar.
> 
> �Saya tidak punya aktivitas lain selain berjualan.
> Sejak penutupan kedai
> saya tidak punya penghasilan lain,� kata Risyad.
> 
> Risyad berusia 68 tahun. Sejak pensiun dari
> ketentaraan pada 1988, dia
> membantu istrinya berjualan makanan di lokasi kolam
> renang Mata Ie.
> 
> Ketiga pedagang ini melayangkan surat penolakan
> pembongkaran ke pemerintah
> kabupaten Aceh Besar. Beberapa kali pertemuan untuk
> mencari jalan tengah
> juga gagal. Mereka bersikeras kedainya tidak
> dibongkar.
> 
> �Kami bertiga termasuk yang pertama membuka kedai
di
> kolam Mata Ie. Dulu
> masih banyak semak-belukar. Kami yang susah-payah
> merapikan batu-batu
> sekitar kolam. Tentara-tentara itu mana ada yang
> bantu,� kata Kamaruzzaman.
> 
> �Kedai kami akan dipindahkan ke kolam bagian atas.
> Lokasi yang lama akan
> dibangun taman bunga, di sekitar kolam bawah,�
kata
> Risyad.
> 
> �Pemindahan kedai ke lokasi atas tidak layak,
karena
> sempit untuk meletakkan
> meja dan kursi,� lanjut Risyad, apalagi,
> �pembongkaran itu mestinya
> dilakukan oleh Pemda karena saya mengantongi surat
> izin tempat usaha dari
> Pemda.�
> 
> Surat itu ditandatangani Mohamad Dahlan, sekretaris
> daerah kabupaten Aceh
> Besar, pada 12 Januari 2007. Di dalamnya disebutkan
> tempat usaha Risyad
> bernama Mitra Razeki dengan luas 11 x 25 meter
> persegi. Izin usahanya selama
> tiga tahun dan harus didaftarkan lagi tahun depan.
> 
> Selain itu Risyad, Kamaruzzaman dan Sami mengantongi
> surat keterangan usaha
> dari kepala desa dan camat setempat.
> 
> Dari surat itu bisa ditarik logika sederhana,
> mestinya pembongkaran
> dilakukan oleh aparat Pemda mengingat merekalah yang
> memberi izin.
> 
> �Kami menganggap lokasi wisata Mata Ie adalah aset
> Pemda,� kata
> Kamaruzzaman.
> 
> Namun ibarat kata pepatah, di mana ada gula di situ
> ada semut. Mata Ie yang
> kian ramai pengunjung tiba-tiba dilihat sebagai aset
> pencetak rupiah. Pihak
> Rindam perlahan ingin dominan dalam mengelola
> kawasan wisata Mata Ie.
> 
> Ini terlihat dari penggantian papan nama yang sudah
> dilakukan tiga kali.
> Pertama, �Kawasan Wisata Mata Ie Desa Leu Ue�,
lalu
> diganti �Kolam Wisata
> Secata�, terakhir tertulis �Komplek Wisata Alam
> Rindam.�
> 
> Perubahan lain adalah tiket masuk pengunjung dan
> uang kebersihan para
> pedagang. Pada 1987 pengunjung dikenakan uang tiket
> sebesar Rp 300, naik
> lagi jadi Rp 1000, dan setelah tsunami menjadi Rp
> 1500. Untuk uang
> kebersihan, tadinya tiap pedagang ditarik iuran
> sebesar Rp 50 ribu per
> bulan. Tetapi sudah tiga bulan ini iuran itu naik
> jadi Rp 60 ribu.
> 
> �Penarikan retribusi pedagang dan tiket masuk
sudah
> berjalan sejak Rindam
> berdiri di Mata Ie. Awalnya bercap Pemda, setelah
> tsunami berubah jadi cap
> Primkopad Rindam,� kata Risyad.
> 
> Primkopad singkatan dari Primer Koperasi Angkatan
> Darat. Ini sebutan untuk
> badan usaha koperasi tentara di tingkat resor atau
> distrik militer.
> 
> 
> BUPATI Aceh Besar, Tengku Buchari Daud tidak
> mempermasalahkan pembongkaran
> kedai-kedai di Mata Ie oleh tentara. Bagi dia, yang
> penting kawasan wisata
> Mata Ie bisa tertata dan mengundang banyak
> pengunjung.
> 
> Itu sebabnya Buchari tidak perlu berlama-lama
> membubuhkan tanda tangan
> ketika Rindam menyodorkan blue print penataan
> kawasan Mata Ie. Ini sejalan
> dengan rencana Pemda memperbaiki jalan lain menuju
> Mata Ie.
> 
=== message truncated ===

__________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals? 
Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping


 


--------------------------------------------------------------------------------


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.16.13/1169 - Release Date: 12/3/2007 
10:56 PM

Kirim email ke