Alhamdulillah ustaz.  Saya lega sekali ketika membaca keterangan anda 
menyangkut keberadaan Partai GAM dan posisi Teungku Malek Mahmud al Haytar. 
Menyangkut keberadaan Partai GAM dan Teungku Malek Mahmud al Haytar, saya tidak 
akan mendengar suara sumbang pihak lain sebab sudah terbukti logika anda belum 
mampu  ditolak pihak manapun  menyangkut  politik  Acheh - Sumatra  vs  
Indonesia  Pura-pura.  Tinggal lagi  kami  bangsa Acheh  - Sumatra  perlu 
dukungan mayoritas rakyat  Acheh. Realitanya sampai detik ini  mayoritas rakyat 
Acheh - Sumatra masih setia kepada perjuangan GAM serta merekapun identik 
dengan GAM sendiri. Ini info yang saya peroleh baik dari orang Acheh yang 
pulang dari Norwegia ke Acheh -  Sumatra maupun dari  bangsa  Acheh - Sumatra  
yang ada di Acheh sendiri.

Kepada  Tarmizi  saya harapkan sangat  suapa  dapat  menahan  diri  daripada  
mencaci  pemimpin Acheh - Sumatra tersebut, apalagi  mencaci Ustaz Ahmad 
Sudirman  yang  sangatberjasa  membela Acheh -Sumatra  melalui  medan internet 
ini. Apapun  nama  samaran anda , pembaca di  medan internet tetap mengenal 
tulisan anda hingga terkesan anda tidak jentelment atau pengecut. Makin banyak 
anda berbicara untuk menghina pihak lain secara tidak wajar, makin nampak 
kekerdilan anda dimata orang-orang yang berhati nurani.  Sementara orang-orang 
yang tidak berhati nurani tidaklah menjadi perkiraan kita.   Justru itu kita 
perlu selectif dimana adakalanya kita takperlu menanggapi tulisan-tulisan yang 
tidak manusiawi.

Billahi fisabililhaq
Muhammad al Qubra
            di
Ujung Dunia




Ahmad Sudirman <[EMAIL PROTECTED]> skrev:        http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
  
 Stockholm, 24 November  2007
 
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr  wbr.
 
  
 
TEUNGKU MALIK MAHMUD MEMIMPIN PARTAI  POLITIK LOKAL GAM DI ACHEH TIDAK 
BERTENTANGAN DENGAN MOU HELSINKI 15 AGUSTUS  2005
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
 
  
 
PIHAK PEMERINTAH RI TIDAK MEMILIKI ALASAN HUKUM UNTUK MENOLAK TEUNGKU  MALIK 
MAHMUD SEBAGAI PIMPINAN PARTAI POLITIK LOKAL GAM DI ACHEH
  
 Sebagai salah satu hasil kesepakatan dalam perundingan di Helsinki yan  
dituangkan dalam MoU helsinki 15 Agustus 2005 adalah yang menyangkut  klausul:
  
 1.2.1 Sesegera mungkin, tetapi tidak lebih dari satu tahun sejak  
penandatanganan Nota Kesepahaman ini, Pemerintah RI menyepakati dan akan  
memfasilitasi pembentukan partai-partai politik yang berbasis di Aceh yang  
memenuhi persyaratan nasional. Memahami aspirasi rakyat Aceh untuk 
partai-partai  politik lokal, Pemerintah RI, dalam tempo satu tahun, atau 
paling lambat 18  bulan sejak penandatanganan Nota Kesepahaman ini, akan 
menciptakan kondisi  politik dan hukum untuk pendirian partai politik lokal di 
Aceh
  
 Nah, menyinggung siapa yang akan memimpin parta-partai politik lokal di  Acheh 
tidak disebutkan dalam MoU Helsinki 15 Agustus 2005 dan juga tidak  dibicarakan 
serta tidak dijadikan permasalahan utama oleh pihak mbah Susilo  Bambang 
Yudhoyono cs.
  
 Jadi, sekarang Teungku Malik Mahmud yang adalah juga pimpinan GAM dibawah  
Wali Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak melanggar MoU Helsinki apabila 
Teungku  Malik Mahmud juga memimpin partai politik lokal GAM di Acheh.
  
 Sampai detik sekarang ini pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono cs pada diam  
dan tidak ada komentar apapun tentang kepemimpinan Teungku Malik Mahmud dalam  
partai politik lokal GAM di Acheh.
  
 Mengapa pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono cs pada bungkam seribu bahasa  
dalam hal partai politik lokal GAM, karena memang tidak diatur dalam MoU  
Helsinki mengenai siapa yang menjadi pemimpin dalam partai politik lokal di  
Acheh.
  
 Nah sekarang, kalau ada orang baik di Acheh ataupun di RI yang  memperkatakan 
tentang kepemimpinan Teungku Malik Mahmud dalam partai politik  lokal GAM di 
Acheh karena beliau bukan warga negara RI, maka orang itu   tidak mengerti dan 
tidak memahami apa yang tertuang dalam MoU Helsinki 15  Agustus 2005.
  
 Jadi, karena memang pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono cs telah mengerti  dan 
menyadari bahwa partai politik lokal GAM di Acheh berdiri tidak bertentangan  
dengan MoU Helsinki, maka ketika Teungku Malik Mahmud tampil sebagai pimpinan  
partai politik lokal GAM di Acheh itu mbah Susilo Bambang Yudhoyono cs diam  
seribu bahasa.
  
 Pihak mbah Susilo Bambang Yudhoyono cs menyadari bahwa dengan diakuinya  
secara hukum partai politik lokal GAM di Acheh dan Teungku Malik Mahmud sebagai 
 pemimpinnya, maka pengekuan pihak RI tersebut merupakan suatu tanda komitmen  
mereka kepada MoU Helsinki 15 Agustus 2005 untuk menciptakan perdamaian yang  
menyeluruh di bumi Acheh.
  
 Terakhir, bagi siapa saja orang Acheh atau orang di RI yang menolak  kehadiran 
partai politik lokal GAM di Acheh dibawah kepemimpinan Teungku Malik  Mahmud 
maka orang tersebut adalah ingin merusakkan perdamaian yang menyeluruh di  bumi 
Acheh dan sekaligus ingin menghancurkan MoU Helsinki hasil kesepakatan  antara 
pihak GAM dan Pemerintah RI di Helsinki yang ditandatangani pada tanggal  15 
Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.
  
 Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada 
[EMAIL PROTECTED] agar supaya sampai  kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk 
membaca tulisan-tulisan saya yang  telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah 
Islam dan Undang Undang Madinah  silahkan lihat di kumpulan artikel di HP 
http://www.dataphone.se/~ahmad
  
 Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita  
memohon petunjuk, amin *.*
 
Wassalam.
 
Ahmad  Sudirman
 
http://www.dataphone.se/~ahmad
[EMAIL PROTECTED]
----------
  
 http://www.acehkita.com/?dir=news&file=detail&id=2184
  
 Jumat, 23 Nopember 2007, 17:26 WIB
Malik Mahmud Tetap Pimpin Partai  Gam
Reporter : W Zul
  
 Banda Aceh, acehkita.com. Mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM)  
Malik Mahmud Al Haytar bersikukuh akan memimpin Partai Gam, kendati dia masih  
berstatus warga negara Singapura.
  
 “Tidak ada persoalan, saya tetap maju untuk memimpin Partai Gam,” kata  Malik 
Mahmud saat dicegat reporter acehkita.com di Ruang VIP Bandar Udara Sultan  
Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar, Jumat (23/11) pagi.
  
 Di ruang VIP Bandara Sultan Iskandar Muda, sebelum bertolak ke Jakarta,  Malik 
Mahmud sempat mengadakan pertemuan dengan sejumlah aktivis sipil dan Forum  
Keadilan untuk Tahanan Politik dan Narapidana Politik, serta keluarga para  
tapol/napol yang masih mendekam dalam berbagai penjara di Pulau Sumatera dan  
Jawa.
  
 Malik menyebutkan, hingga saat ini Pemerintah Indonesia tidak mempersoalkan  
status kewarganegarannya dalam memimpin Partai Gam, partai lokal di Aceh yang  
didirikan pentolan GAM. Malik Mahmud merupakan pria berkebangsaan Singapura,  
yang saat ini bermukim di Swedia.
  
 Banyak pihak yang mempersoalkan kehadiran Partai Gam, termasuk soal status  
warga negara Malik Mahmud. Tak pelak, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Andi  
Mattalata sempat mengeluarkan pernyataan bahwa pemerintah akan menolak partai  
yang beratribut separatisme. Tak hanya pemerintah, kalangan nasionalis di  
Senayan (legislatif Indonesia) juga menyatakan keberatannya terhadap kehadiran  
partai yang berlambang bulan sabit dan bendera merah itu.
  
 Nasib Partai Gam masih menunggu hasil verifikasi yang akan dilakukan Kantor  
Wilayah Departemen Hukum dan HAM Aceh. Hingga kini, verifikasi partai lokal di  
Aceh masih belum dilaksanakan karena terganjal masalah dana. Pemerintah Pusat  
dan Pemerintah Aceh tidak mengucurkan dana untuk verifikasi partai lokal ini.  
[dzie]
----------



     
       
---------------------------------

Dårlig plass? Få Yahoo! Mail med 250 MB gratis 
lagringsplass.http://no.mail.yahoo.com

Kirim email ke