http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=9725

Kamis, 20 Des 2007,



Punya 20 Koleksi Jilbab meski Rajin ke Gereja 


Para Kowad "Korp Jilbab Hitam" di Kodam Iskandar Muda 
Pemakaian jilbab di kalangan wanita TNI masih dikaji. Namun, di Nanggroe Aceh 
Darussalam, anggota Korp Wanita Angkatan Darat (Kowad) sudah tiga tahun lebih 
menjadikan jilbab bagian seragam sehari-hari. Tak melulu prajurit muslim, 
prajurit nonmuslim pun mengenakannya.

M. SYUKUR HASBI, Banda Aceh

MENGENAKAN jilbab hitam, Senin (17/12) sekitar pukul 09.15 Lusia tampak rajin 
berlatih di lapangan Kodam Iskandar Muda. Pagi itu dia 
bersama ratusan prajurit TNI lain menjalani gladi bersih untuk persiapan HUT 
Infantri dan Hari Kartika.

Lusia tidak sendiri. Di lapangan ada 52 anggota Kowad lain yang juga berlatih. 
Dengan jilbab hitam yang menutupi telinga, rambut kepala, serta leher, para 
wanita itu tetap cekatan seperti anggota militer umumnya. Mereka tetap gagah 
dengan seragam loreng hijau bercampur cokelat dan sepatu PDL hitam. 

"Saya merasa nyaman-nyaman saja. Sedikit pun tidak ada kendala selama 
bertugas," kata Sersan Dua Lusia kepada Rakyat Aceh (Grup Jawa Pos). Lusia yang 
ditemani rekan-rekannya sesama Kowad tampak asyik menyantap kudapan bersama air 
kemasan saat rehat gladi resik itu.

Lusia yang bertugas di Aceh sejak empat bulan lalu sebetulnya nonmuslim. Namun, 
Lusia tetap diharuskan mengenakan jilbab. Aturan itu berdasar Skep Panglima TNI 
No 346/X/2004 tertanggal 5 Oktober 2004. Peraturan itu mengatur pakaian yang 
dikenakan Kowad, Angkatan Laut (Kowal), dan Wanita Angkatan Udara (Wara) yang 
bertugas di Aceh. 

Awalnya, Lusia yang mengaku dibesarkan dalam keluarga Katolik taat di Jawa 
Tengah itu deg-degan saat ditugaskan ke Aceh. Wanita berusia 21 tahun yang 
mendapat pelatihan khusus (PK-14 Tahun 2002) di Bandung selama 10 bulan itu 
membayangkan bumi Serambi Makkah sebagai daerah konflik. 

Setiap bulan Lusia selalu berkomunikasi dengan keluarga di Jawa Tengah. Bahkan, 
ibunya selalu menasihati agar dirinya dapat menyesuaikan diri dengan daerah 
Aceh yang bersyariat Islam. "Ibu mengingatkan saya agar menggunakan jilbab, 
layaknya orang lain," katanya.

Kebiasaan mengenakan jilbab itu tidak hanya dilakukan Lusia saat berdinas. Juga 
di luar dinas. Setiap hari, ketika keluar rumah -untuk urusan dinas maupun 
pribadi- dia selalu mengenakannya. Saking terbiasanya, ketika pergi ke Gereja 
Hati Kudus yang berlokasi di pusat Kota Banda Aceh, depan toko swalayan Pante 
Pirak, Lusia juga mengenakan jilbab.

"Kalau pergi dengan mobil sih tidak pakai. Tapi, kalau dengan motor, saya tutup 
rambut saya dengan helm. Saya buka kembali (jilbabnya) saat di gereja," kata 
Lusia. 

Karena sudah menjadi aksesori pakaian sehari-hari, anggota Kowad berpangkat 
sersan dua itu memiliki koleksi jilbab yang lumayan banyak. "Kalau 20 lembar 
sih lebih," katanya.

Koordinator Kowad Kodam Iskandar Muda Mayor CAJ (K) Nini Thoriany mengatakan, 
jilbab tidak menjadi kendala bagi para wanita prajurit saat bertugas atau 
sedang berlatih. Gerakan Kowad malah lebih leluasa dan gesit karena memakai 
celana panjang. "Malah kita merasa nyaman," katanya.

Jilbab bagi perempuan tentara yang bertugas di Aceh ternyata tetap dikenakan 
jika yang bersangkutan ditugasi ke luar Aceh. Mereka bangga saat pertemuan atau 
pendidikan bertemu delegasi wanita TNI di luar Aceh. "Hanya kami yang pakai 
seragam seperti itu," ujar Nini dengan nada bangga.

Seperti Lusia, anggota Kowad lain, Sersan Dua Rohana Br. Barus, yang berasal 
dari keluarga Protestan, tidak merasa terganggu dengan jilbab. Tidak berbeda 
dengan Lusia, perempuan kelahiran Tanah Karo, Sumatera Utara, 1 Januari 1982, 
itu awalnya takut kali pertama menginjakkan kaki di Aceh pada 22 Agustus 2002. 
Apalagi, Aceh sebagai daerah otonomi khusus memang menetapkan syariat Islam. 
"Saat ditanya (komandan), saya bilang siap, karena TNI harus selalu siap. Tapi, 
ternyata saya merasa nyaman saja dengan jilbab," katanya. 

Setiba di Aceh, hati Rohana makin lega setelah bertemu Dian Susilo, kakak 
kelasnya di SMA Medan dulu. Selama di Aceh, pria yang kini menjadi suaminya itu 
selalu setia mengantar Rohana pergi ke mana saja. 

"Saat pacaran, saya setiap Minggu diantar Dian ke gereja. Itu berjalan hampir 
dua tahun," kata alumnus Pusdik Kowad 2002 yang kini dikaruniai seorang anak, 
Fitriafita Ramadani, 2. 

Pada September 2004 Rohana memutuskan ikut suaminya dengan masuk Islam. Menurut 
dia, pindah agama tidak semata-mata karena kebiasaannya mengenakan jilbab sejak 
bertugas di Aceh. Sebab, sejak masa kecil di Medan dia sudah tertarik belajar 
tentang Islam. Namun, saat itu keinginannya tidak direstui orang tuanya yang 
beragama Kristen Protestan. "Saat SD saya sering ke pengajian di masjid di 
Medan. Tapi, waktu minta untuk masuk Islam, orang tua saya melarang keras," 
katanya. 

Ada kisah lain yang membuat Rohana makin tertarik dengan Islam. Yaitu, saat dia 
membeli bros untuk baju beberapa tahun silam. Tapi, kala itu barang yang 
terbeli keliru. Sebab, bros itu ternyata untuk penjepit jilbab.

"Ini bukan disengaja. Saya meyakini itu sebagai isyarat, sehingga saya 
mendapatkan anugerah menjadi muslim," kisahnya. 

Sejak itu Rohana terus mendalami Islam dengan mengikuti pengajian di 
waktu-waktu luang dari tugas militernya. "Sekarang saya sudah bisa mengaji 
Alquran, tapi belum begitu lancar," ujarnya bangga. (

Kirim email ke