Omar Putéh menulis:
Asyik saja dengan sibuk berulangnya saudara Hussaini Daud Sp ini dalam
memaparkan hal Qabil dan Habil, mulai sejak masuk pintu gerbang Norwegia
sehingga sekarang ini, tidak pernah jenuh, sehingga air teh susupun berobah
warnanya menjadi keruh.
Begitu juga dengan masalah basyar dengan dhu'afa, tidak pernah berhenti macam
lokomotip tidak berstasiun.
Menyebutkan nama Saidina Ali as, Saidina Hussein As dan Saidina Hasan As
hampir 180 kali dalam setahun, sehingga penyebutan nama Nabi Besar Muhammad SAW
hampir-hampir hilang jejak suara dan kederangaran seperti orang bisu berbisik.
Bagi-bagilah sedikit peluang memaparkan keagungan Nabi Besar Muhammad SAW,
selain sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dan juga
termasuk yang diriwayatkan oleh Abu Huraira as.
Karena seperti tulisan anda dibawah ini yang erkutip dari sebuah saduran yang
ambaradul asal raba riwayatnya.
Muhammad al qubra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
KUTUB QABIL (Baca Kutub Basyar, macam Indonesia)
Sejak permulaan sejarah kemanusiaan, senantisa terdapat masyarakat yang
bergerak kedua arah atau kutub yang saling berlawanan, dua front yang saling
berkonfrontasi sesuai kondisi sosial dan historisnya. Perang dua kutub tersebut
mengambil berbagai bntuk dan gambarannya. Kutub pertama adalah kutub negatif
yang diwakli oleh mereka yang enghambat kemajuan dan evolusi dengan melakukan
aktivitas jahat, dekaden dan penyelewengan dengan jalan penindasan, perbudakan
dan pembodohan massa kemanusiaan, dengan jalan menegakkan tirani atas kaum
dhu'afa serta nerampok hak-hak dan keperluan-keperluan mereka serta menanamkan
benih-benih rasisme, radikalisme dan fanatisme buta dalam masyarakat, keluarga,
suku, ras dan lembaga-lembaga mereka. Mereka adalah pelopor-pelopor "kebajikan"
gelap, kebaikan yang berasal dari superfisi, kebaikan yang dirancang untuk
melestarikan kepentingan dan tujuan mereka sendiri, bukan kepentingan dan
tujuan massa manusia. Falsafah hidup dan tujuan persekongkolan
kolektif mereka adalah menghalangi kemajuan intelektual, ekonomi dan sosial
politik serta menghambat kemajuan massa. Keadilan universal, persatuan dan
persamaan senantiasa ditentang dan dimusuhi oleh filsafah sosial dari kutub
negatif ini, sebagaimana dapat disaksikan dalam catatan-catatan biografis
mereka.
KUTUB HABIL (Baca Kutub Manusia, macam RII)
Kutub kedua adalah kutub positif kemanusiaan yang selalu menentang tirani dan
ketidakadilan serta korupsi demi tegaknya perdamaian dan keadilan yang
membuahkan persaudaraan dimuka Bumi, terus-menerus berada dalam pertempuran
melawan kutub pertama tadi yang negatif. Kutub kedua senantiasa mengejawantah
sebagai kekuatan kolektif massa yang berjuang melawan kekuasaan dan hak-hak
istimewa dari kelas penguasa zalim. Bukan kekalahan dan bukan kemenangan, akan
tetapi suatu peperangan tiada henti, selalu berlangsung antara dua kutub yang
berlawanan tsb.
Anehnya senjata dari kedua front tersebut adalah agama. Agama Allah, Pemilik
Alam semesta, ditangan kedua kutub yang berbeda tersebut menjadi dua bagian
yang saling berbenturan satu-sama lainnya -- "agama" melawan agama. Persoalan
inilah yang membuat sebagian besar orang-orang yang menghuni planet Bumi ini
salah kaprah hingga mereka senantiasa mengagung-agungkan diri bahwa mereka itu
penganut agama Islam. Mereka tidak sadar sesungguhnya mereka masuk perangkap
agama Qabil, Muawiyah, Abu Hurairah cs, Yazid dan "Yazid-yazid" moderen.
Kisah Qabil dan Habil dalam Qur-an dan dalam berbagai kitab Islam Sejati
merupakan satu kisah yang sangat dalam maknanya dalam hubungan dengan arti
sejarah. Andaikata ditafsirkan secara symbolis, kisah-kisah tersebut dapat
menguak makna yang sangat penting dalam perspektif antropology dan sejarah.
Qabil dan Habil adalah anak-anak Nabi Adam. Apa yang terjadi diantara keduanya
merupakan suatu kisah penting yang mengandung arti symbolic mendalam tentang
awal sejarah manusia. Qabil dan Habil adalah tokoh-tokoh penting dalam kisah
kemanusiaan. Sumber konflik adalah ketidak taatan Qabil terhadap aturan
perkawinan yang ditetapkan Allah sebagai aturan yang disesuaikan kondisi
manusia kala itu dimana hanya baru satu keluarga saja yang eksis di Bumi ini
yang terdiri dari Adam + Siti Hawa serta anak-anak mereka, Qabil, Labuda, Habil
dan Iklima. Komplik yang dicetuskan Qabil dari perebutan Iklima yang telah
ditunangkan dengan Habil, hubungan persaudaraan berobah menjadi permusuhan.
Perang atau konfrontasi antara Qabil dan Habil merupakan awal sejarah
kemanusiaan yang dipertanyakan para Malaikat pada Allah, kenapa Dia menjdikan
manusia sebagai wakilNya yang menurut para Malaikat, mereka lebih layak untuk
kedudukan tersebut. Ketika Adam bernegosiasi dengan para Malaikat, ternyata
Adam (baca Manusia) lebih unggul daripada Malaikat walau yang mukarrabin
sekalipun tetap suju kepada Adam , sebagai penghormatan kepadaWakil Tuhan di
Bumi.
Persoalan keunggulan Manusia atas para Malaikat saja yang demikian jelasnya
menurut Al Qur-an, surah Al Baqarah ayat 30 sampai ayat 39 mendapat
pertentangan dari mereka-mereka yang menganut agama versi Qabil, konon pula
untuk memahami agama yang memiliki dua kutub yang saling bertentangan
satusamalainnya. Justru itu saya serukan kepada Bangsa- bangsa terjajah seperti
Acheh- Sumatra, West Papua dan sebagainya agar kisah Habil dan Qabil dapat
diambil i'tibar dalam melawan penjajahan Indonesia Zalim dan Hipokrit, mengaku
diri penganut Islam tapi sesungguhnya mereka itu tidak beragama dengan agama
Nabi Adam, Habil, Ibrahim, Musa dan Harun, I'sa bin Maryam, Muhammad, Ali,Hasan
dan Hussein tapi mereka beragama dengan agama Qabil, Namrud, Firaun, Hamman dan
Ulama Bal'am, Kaisar-kaisar diroma, Abu sofyan, abu Lahab, abu Jahal, Muawiyah,
Abu Hurairah, Yazid, Sukarno, Suharto, B.J Habibie, Gusdur, Megawati, Yudhoyono
dan antek-anteknya yang bertebaran di seluruh kepulauan Melanesia.
Agama Qabil juga dianut oleh Saddam dan antek-anteknya di hampir seluruh Asia
dan Afrika.
Kepada bangsa West Papua dan Acheh - Sumtra takusah membeberkan Islam atau
Kristiannya yang kemungkinan besar hal itu akan dimanfaatkan oleh talibarut
penjajah Indonesia yang hipokrit itu untuk "mengdu domba" antar penganut Islam
dan Kristian hingga musuh kita yang sebenarnya berhasil membuat kita lupa
kepada mereka dan bahkan kemungkinan besar andaikata sempat terjadi konflik
antara Islam dan Kristian, diantara orang-orang yang tidak jeli melihat
persoalan dengan kacamata idiolgy, akan memihak kepada pihak penjajah itu
sendiri. Apa gunanya kita berbicara tentang gubernur di West Papua yang
beragama Islam? Apakah gubernur tsb memperjuangkan kemerdekaan West Papua atau
malau bersama Ulama gadongan, tambah mempererat hubungan dengan Penjajah
Indonesia. Hati-hatilah kalau ada pihak yang membangga-banggakan West Papua
dengan sejarah Islamnya kecuali mereka yang mengaku Islam itu memperjuangkan
kemerdekaannya, demikian jugalah dengan penganut Kristiannya.
Jadi bukan sejarah Islam atau Kristen yang perlu kita angkat di negara yang
berada dalam cengkraman penjajah tapi sejarah Habil, mewakili kaum dhu'afa
dimana-mana diseluruh Dunia yang tidak pernah sunyi untuk saling bertempur
bukan saling berdamai. Kita berdamai antara pengikut Habil bukan antara
pengikut Habil dan Qabil. Inilah jawaban Allah kepada para Malaikat bahwa Dia
mengetahui apa yang tidak diketahui para Malaikat (Inni 'a'lamu ma la
ta'lamun-- QS. 2. 30), ketika mereka mengkhawatiri Manusia yang diwakili Adam,
akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah dipermukaan Bumi.
Apabila penjajahan berhasil kita halau dari bumi West Papua dan West Sumatra,
bergegaslah memberdayakan ekonomi kaum dhu'afa sebagai amanah Alla , pemilik
Dunia ini. Dengan cara demikianlah kita masuk Syurga kelak bukan dengan hanya
Ibadah Ritual semata, sementara disekeliling kita manusia hiruk pikuk meminta
bantuan dari perlakuan semena-mena oleh "manusia- manusia Qabil". Lihatlah
kenapa diantara penganut Islam dan Kristian di Republik Islam Iran dan juga di
Eropa umumnya tidak pernah bentrok kecuali letupan-letupan kecil seperti
karikatur jahat yang dilakukan memang oleh segelintir manusia-manusia yang
fanatik buta. Ini adalah pelajaran yang paling penting bagi pejuang Acheh -
Sumatra dan West Papua. Andaikata terjadi bentrok antara penganut Islam dan
Kristian, antara mazhab - mazhab Islam sendiripun sering dipacu konflik, tapi
sadarlah hal ini lazim terjadi di negara-negara yang finansialnya tidak
terjamin. Kenapa finansialnya tidak nterjamin? Sebabnya penguasa negara
tersebut dapat dipastikan terdiri daripada manusia-manusia Qabil yang serakah
dan hanya menjaga finansial kelompoknya saja. Justru itu finansial seluruh
penduduk West Papua dan West Sumatra adalah yang pertama harus diupayakan
ketika mereka sempat meraih kemerdekaan. Apabila finansial seluruh penduduk
berhasil diupayakan, saat itulah kita baru bisa mendiskusikan antar agama
dengan aman yang bertujuan untuk mencari kebenaran bukan untuk mencari egois
asal menang sendiri.
Kalau sumber komplik antara Qabil dan Habil adalah teman hiudupnya dan harta,
maka dengan pencapaian finansialnya manusia dipermukaan planet Bumi ini dapat
meraih teman hidupnya sebagai nikmat utamanya Dunia. Dengan kata lain yang
dapat kawin 2, 3 dan 4 orang isteri bukan saja penguasa (group Firaun),
pengusaha (group Hamman) dan pendakwah sejuta ummat (group Bal'am) sebagaimana
dapat dipastikan terjadi di negara yang dikuasai manusia Qabil, tapi juga
seluruh rakyat mendapat keadilan diberbagai bidang, andaikata negara dikuasai
manusia-manusia Habil.
Billahi fi sabililhaq
Muhammad Al Qubra
Di
Ujung Dunia
---------------------------------
Alt i ett. Få Yahoo! Mail med adressekartotek, kalender og notisblokk.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.