Anggota KPA Pidie Merampok di Aceh Barat.
http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=42164&rubrik=1&kategori=1&topik=2



Topik: MASYARAKAT MENOLAK KEBERADAAN PANGLIMA SAGO DAN PANGLIMA WILAYAH
28 Januari 2008 dari Nektu 
Setelah kami mencermati perkembangan idiologi di Aceh yang saat ini sudah 
hampir mencapai puncaknya, KPA sudah mulai mengemas sedemikian rupa sehingga 
idiologi ini dapat diperjuangkan melalui perjuangan politik melalui Partai 
Lokal yang sudah dipersiapkan yang dapat menggiring masyarakat untuk masuk 
kedalamnya.

Kami Masyarakat merasa diperalat oleh GAM hingga bertahun-tahun dengan 
pengorbanan yang sangat luar biasa hingga kehilangan keluarga yang menjadi 
kebanggaannya. Sebagai bukti nyata setelah KPA duduk menjadi pejabat tidak 
satupun teringat kepada masyarakat pendukungnya bahkan sudah berupaya 
menghianati disisi lain masyarakat hidup serba kekurangan. Hampir sepanjang 
tahun diselimuti rasa ketakutan akibat tekanan, ancaman yang sangat menakutkan 
dan ini baru berakhir setelah nota kesepakatan damai (MoU) yang telah 
ditandatangani antara pemerintah RI-GAM pada tanggal 15 Agustus 2005 di 
Helsinki, yang isinya antara lain adalah GAM dibubarkan dan kembali menjadi 
masyarakat biasa melalui wadah KPA, ini sangat disambut gembira oleh lapisan 
masyarakat dari berbagai lapisan dengan harapan perjanjian damai yang 
berlangsung ini dapat kedamaian masyarakat sepanjang masa. Namun baru saja 
perdamaian mulai berlangsung harapan ini mulai hilang sedikit demi sedikit 
karena
 damai yang telah tercipta tersebut tidak dapat merubah prilaku KPA (Eks GAM). 
GAM yang sudah berganti nama KPA berpura-pura berbuat baik dengan memberikan 
santunan kepada anak yatim untuk menutupi prilaku yang tidak beda dengan GAM, 
masyarakat sudah mengetahui KPA mempunyai tujuan yang sama dengan GAM dengan 
berupaya membentuk Parlok GAM, Hal ini memberikan isyarat yang jelas bahwa GAM 
tidak surut untuk menuntut Aceh Merdeka walaupun sudah berubah menjadi warga 
masyarakat biasa. Tuntutan KPA ini akan diperkuat oleh KPA yang ada didaerah 
yang telah diorganisir dan siap dimobilisasi oleh para Panglima Sago yang ada 
diseluruh Aceh. 
Oleh karena itu kami atas nama masyarakat tidak menginginkan adanya Panglima 
Sago yang ada diseluruh Aceh termasuk Panglima Wilayah, Panglima Daerah maupun 
Panglima tertinggi KPA yang dapat memperkuat KPA untuk memenangkan Parlok GAM 
dan sejenisnya yang mempunyai tujuan yang sama yang dapat merusak tatanan 
kehidupan masyarakat dan keutuhan wilayah NKRI. Masyarakat sudah sangat merasa 
trauma akan peristiwa konflik yang lalu oleh sebab itu kami meminta kepada 
aparat keamanan untuk meniadakan istilah Panglima, baik Panglima Sago, Panglima 
Wilayah, Panglima Daerah maupun Panglima tertinggi GAM termasuk pejabatnya yang 
nyata-nyata jabatan tersebut illegal dan harus dihilangkan dengan alasan 
jabatan tersebut digunakan untuk mengorganisir dan memobilisasi KPA yang dapat 
memperkuat dan memperbesar KPA yang dapat mengancam keselamatan bila aparat 
keamanan tidak dapat memenuhi permintaan kami, kami akan melakukan dengan 
caranya sendiri, masyarakat telah sepakat
 untuk meniadakan mereka, kami mengetahui aparat banyak terikat dengan aturan 
tapi kami sebagai masyarakat sudah tidak tahan lagi dijadikan sapi perahan yang 
setiap saat diperas, diancam, diteror yang membuat hidup serba salah dan jangan 
salahkan kami bila kami berbuat, apabila aparat tidak segera bertindak. Kami 
atas nama masyarakat sudah tidak merasa takut menghadapi mereka soal mati hidup 
sudah ada yang menentukan dari pada hidup dalam tekanan.


      Ask a question on any topic and get answers from real people. Go to 
Yahoo! Answers and share what you know at http://ca.answers.yahoo.com

Kirim email ke