Refleksi: Apakah dengan kekyaan ini Aceh bisa menjadi seperti Bahrain dan Qatar dengan pembangunan serba canggih, ataukah rakyatnya akan hanya tetap gigit jari menunggu perbaikan yang tak kunjung datang seperti di Papua?
http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail&id=10001 Rabu, 13 Feb 2008, Pertamina dan Unocal Pernah Teliti Migas Raksasa Aceh JAKARTA - Publikasi penemuan potensi cadangan hidrokarbon oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Senin (11/2) langsung direspons Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Direktur Pengembangan Hulu Ditjen Migas R. Priyono mengatakan, pihaknya sudah mengontak BPPT terkait penemuan tersebut. "Kami siap memfasilitasi pengkajian lebih lanjut," ujar Priyono di Jakarta kemarin (12/2). Menurut Priyono, beberapa data yang disampaikan BPPT memang harus dilengkapi dan disinergikan dengan beberapa data yang sudah ada di Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Ditjen Migas. Terutama data-data sub surface (lapisan di bawah permukaan dasar lautan). "Itu sangat penting," katanya. Dia mengatakan, dari data itulah dapat dianalisis lebih lanjut keberadaan petroleum system. Yakni, empat komponen utama yang harus ditemukan untuk mengetahui lapangan migas. "Inilah yang akan kami teliti bersama," tuturnya. Menurut Priyono, jika penelitian berhasil mengidentifikasi data-data lengkap petroleum system, pemerintah akan segera mempersiapkan daerah tersebut untuk segera dipublikasikan sebagai wilayah kerja (WK) migas. "Setelah itu, siapa yang berminat bisa mengajukan melalui tender," terangnya. Seperti diwartakan kemarin, Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman memublikasikan penemuan potensi lapangan migas raksasa yang diperkirakan 107,5-320,79 miliar barel. Kandungan migas itu jauh lebih besar daripada yang terdapat di Banyu Urip, Jawa Timur, yang hanya 450 juta barel. Bahkan, itu lebih besar daripada kandungan migas di Arab Saudi Lapangan tersebut berada di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin di perairan timur laut Pulau Simeulue, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dalam paparannya, Yusuf mengatakan, salah satu indikasi awal kandungan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya carbonate build ups sebagai reservoir atau penampung minyak, serta bright spot yang merupakan indikasi adanya gas. Meski demikian, temuan BPPT tersebut perlu dicermati lebih dalam. Menurut sumber Jawa Pos, salah seorang ahli geokimia perminyakan di Indonesia yang keberatan disebut namanya, data-data yang dipaparkan BPPT masih terlalu dangkal. "Jadi, itu masih perlu didiskusikan lebih lanjut," ujarnya. Menurut dia, daerah busur muka atau fore arc basin yang membentang di sepanjang wilayah barat Pulau Sumatera hingga selatan Pulau Jawa sangat kecil kemungkinan mengandung cadangan migas dalam volume besar. "Sebab, karakter daerah itu dingin. Jika terdapat kandungan migas, pasti karakter geologinya panas," terangnya. Dia tidak menampik ditemukannya cadangan migas di daerah fore arc basin lain di dunia, seperti di Myanmar, Andaman, dan California. Tapi, lanjut dia, probabilitasnya sangat kecil. Dia mengatakan, sekitar 2001, BPPT juga pernah membahas potensi adanya hidrokarbon di daerah fore arc basin, yakni di selatan Pulau Jawa. Dasarnya, ditemukan banyak indikasi keberadaan kerang yang biasa hidup di daerah yang mengandung gas metana. "Tapi, kalau dasarnya hanya itu, jelas tidak kuat," ujarnya. Karena itu, setelah diadakan penelitian lanjutan, cadangan gas yang dikira tersebut tidak ditemukan. Dia melanjutkan, daerah fore arc basin yang dipaparkan BPPT sebenarnya juga pernah didata beberapa perusahaan migas, termasuk Pertamina. Namun, setelah dievaluasi lebih lanjut, belum ditemukan indikasi adanya cadangan migas. Dia menyebutkan, beberapa wilayah yang disebut berada segaris dengan cekungan yang dipublikasikan BPPT pernah pula diteliti beberapa perusahaan migas asing pada awal 1990-an. Mulai wilayah barat Bengkulu hingga selatan Pulau Jawa. Salah satu perusahaan migas tersebut adalah Unocal. Penelitian tersebut, lanjut dia, memang menemukan beberapa titik yang berpotensi memiliki kandungan gas. Namun, cadangannya sangat kecil sehingga tidak ekonomis dikembangkan. "Akhirnya tidak dilanjutkan," kata salah eksekutif Pertamina. Dia mengatakan, berdasarkan berpuluh tahun pengalamannya, hanya daerah cekungan busur belakang yang banyak memiliki potensi cadangan migas. Busur tersebut berada di bagian Pulau Sumatera hingga timur yang membentang hingga ke Jawa dan utara Pulau Jawa hingga Kalimantan. "Ini sudah terbukti," jelasnya. Sementara itu, Pemerintah Aceh menyambut gembira temuan potensi migas di timur laut Pulau Simeulue oleh BPPT. Ladang migas raksasa itu diharapkan bisa mengganti cadangan minyak Arun, Aceh Utara.(owi
