http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=325557

Senin, 11 Feb 2008,

PKS Dekati Partai GAM 




Tifatul: Parlok Aceh Bukan Ancaman
BANDA ACEH - Perdamaian Aceh yang terus kondusif membuka peluang bagi Partai 
Keadilan Sejahtera (PKS) untuk menggandeng Partai GAM (Gerakan Aceh Merdeka) 
sebagai mitra koalisi

Kemarin (10/2), misalnya, Presiden PKS Tifatul Sembiring melakukan pertemuan 
tertutup selama hampir dua jam dengan para tokoh GAM. "PKS terbuka untuk 
bekerja sama dengan pihak mana pun," ujar Tifatul setelah pertemuan di Hotel 
Grand Nanggroe Banda Aceh. 

Menurut Tifatul, salah satu alasan PKS membidik Partai GAM adalah dalam pilkada 
lalu, GAM meraup suara lebih 60 persen. 

Sayang, pertemuan tersebut berlangsung tertutup. Dari pihak PKS, ada Tifatul 
Sembiring dan sejumlah kader partai itu, termasuk politisi PKS M. Nasir Djamil. 
Pihak GAM diwakili Tgk Nasruddin. Karena pertemuan tertutup, tidak banyak hal 
yang bisa diketahui wartawan. 

PKS memiliki niat baik untuk menjalin kerja sama dengan pihak mana pun. 
Termasuk dengan semua partai lokal Aceh saat ini. Itu pertemuan pertama dan 
dimulai dengan Partai GAM. "Setelah ini ada pertemuan lanjutan dengan partai 
lokal lain di Aceh," tambah Tifatul.

Presiden PKS tersebut mengaku pihak GAM juga menanggapi baik pertemuan yang 
digagas PKS itu. Namun, terkait adanya komitmen partai untuk berkoalisi dengan 
partai GAM, Tifatul belum bisa memutuskan. 

Ditanya apakah sudah ada penjajakan koalisi yang lebih konkret, Tifatul 
menjawab tidak ada. Menurut dia, masalah koalisi masih dini untuk dibicarakan. 
Kalaupun kelak terwujud, itu harus melalui keputusan pimpinan partai. 

"Yang jelas, hasil pertemuan hari ini (kemarin, Red) akan dibicarakan lagi di 
pimpinan pusat partai," jelasnya. 

Selain isu penjajakan koalisi, PKS dan Partai GAM membicarakan eksistensi 
perwakilan GAM di legislatif Aceh. Menurut Tifatul, ke depan GAM semestinya 
harus memiliki perwakilan di DPR Aceh. Itu penting untuk mendukung kebijakan 
Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Irwandi Yusuf. 

Bila itu tidak mendapat perhatian, berbagai kebijakan politik eksekutif tidak 
memiliki kekuatan yang berarti di DPR Aceh. "Sekarang ini ada ketidakseimbangan 
antara eksekutif dan legislatif. Dalam arti, GAM belum memiliki perwakilannya 
di parlemen. Jadi, perlu ada upaya untuk mencairkan suasana ini," ungkapnya.

Sebelumnya, saat berkunjung ke redaksi Rakyat Aceh (Grup Jawa Pos) Tifatul 
meminta Irwandi membangun komunikasi dengan pihak legislatif agar ada 
keseimbangan antara legislatif dan eksekutif. Dengan begitu, pembangunan Aceh 
berjalan baik.

"Kami menangkap isyarat adanya ketidakseimbangan komunikasi antara legislatif 
dan eksekutif. Kalau komunikasi antara eksekutif dan legislatif tidak baik, 
yang jadi korban adalah rakyat Aceh karena pembangunan tersendat," ujar Tifatul.

Dia juga mengatakan PKS akan senantiasa membuat strategi pendekatan dengan GAM, 
terutama dalam perebutan suara rakyat pada Pemilu 2009. PKS akan terus membuka 
dialog, termasuk dengan Partai GAM. "Karena sejak dulu, niat PKS adalah 
memberdayakan dan membangun masyarakat Aceh," tambahnya. 

Tifatul mengatakan, partai lokal (parlok) di Aceh, termasuk GAM, bukan ancaman 
bagi PKS. "Kami tidak pernah merasa ada ancaman. Kami melihat politik itu 
sebagai ibadah," ujarnya.

Sementara itu, Tgk Nasruddin, ketua delegasi GAM dalam pertemuan tersebut, 
menolak berkomentar lebih jauh terkait adanya lobi-lobi politik yang 
dilancarkan PKS, termasuk rencana penjajakan koalisi pada Pemilu 2009. "Soal 
ini saya no comment," katanya. 

Nasruddin menyebutkan, pertemuan itu hanya sebuah forum silaturahmi biasa. 
"Tidak ada unsur politis, tidak ada sesuatu yang serius dibahas," ungkapnya. 

Apalagi saat ini Partai GAM masih berkonsentrasi pada persiapan menjelang 
verifikasi oleh Depkum HAM. (ans/mag-20

Attachment: 1202665000b
Description: Binary data

Kirim email ke