Refleksi: Politik begini ini bermaksud menciptakan gubernur sesuai keinginan 
"menjilat keatas menginjak ke bawah", jadi seleranya lain dari aspirasi 
penduduk lokal. Sejarah kekuasaan kerajaan-kerajaan kuno mengilustrasikan bahwa 
 daerah-daerah ditalukkan harus tunduk sembah sejut serta taat dengan kewajiban 
harus membayar upeti kepada pusat. 

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/3/31/p1.htm


Parpol Gurem pun tak Berdaya dengan Pusat

Bali benar-benar ditentukan Jakarta dalam menentukan pemimpinnya. PDI-P, 
misalnya, harus menyetor semua nama yang mendaftar untuk calon gubernur Bali. 
Golkar juga menyetor paket setelah diputuskan dalam rakerdasus. Dan, yang 
paling parah adalah partai gurem. Mereka sudah menentukan pilihannya dan telah 
mendapat persetujuan dari pusat, namun mendadak dianulir. Entah apa yang 
terjadi mendadak pusat langsung menunjuk paket yang disukai. Bahkan, harus ada 
yang dipecat gara-gara tak setuju dengan paket yang ''nyantol'' ke atas itu. 

RIAK-RIAK pencalonan gubernur nyaris mendekati final. Golkar telah 
mendeklarasikan Koalisi Rakyat Bali bersama sejumlah partai gurem yang berasal 
dari Koalisi Bali Dwipa (KBD). PDI-P menakhodai sendiri kendaraannya. Sementara 
Koalisi Kebangkitan Bali (KKB) lahir setelah KBD retak. Ternyata andil elite 
partai gurem di Bali dalam mewarnai pemunculan kandidat gubernur sangat kecil. 
Bahkan, muncul sikap inkonsistensi politisi parpol gurem dalam menjaga komitmen 
politiknya. Ketika sikap politik berubah, masih bisakah diharapkan komitmennya 
dalam menjaga ajeg Bali?

Inkosistensi sikap politisi elite partai gurem amat kentara ketika menjatuhkan 
pilihan. Sebut PNBK, PKPI dan Partai Pelopor. Awalnya bergabung ke KBD. 
Belakangan melirik KKB. Elite PKPI dan Partai Pelopor di Bali membantah 
berubahnya aspirasi itu karena daya tawar ekonomi yang lebih menarik. Kalau 
bukan ekonomi lantas apa? Semua mengaku tak berdaya melawan kehendak Jakarta. 
Sikap elite parpol gurem itu mengingatkan ketika Rakerdasus PDI-P. Para elite 
PDI-P menyerahkan sepenuhnya aspirasi kepada elite Jakarta.

Luh Kertianing, Ketua DPD Partai Pelopor, mengatakan itu semua atas instruksi 
DPP. ''Saya kaget 13 Maret lalu turun instruksi dari DPP agar bergabung KKB,'' 
katanya. Padahal ketua sementara Partai Pelopor Bali Putrayasa menyerahkan 
rekomendasi untuk bergabung dengan KBD. 

Sikap Ketua PKPI Bali Made Sukada juga bergabung ke KBD. Namun, Sukada akhirnya 
dipecat karena melawan perintah atasan. Ketua PKPI Bali Drs. Ketut Budiasa juga 
menyatakan perubahan aspirasi itu karena ada instruksi Ketua Umum DPP Muthia 
Hatta. Tampaknya elite politik di daerah begitu tak berdaya menghadapi tekanan 
dari pusat.

Bagaimana komitmennya terhadap Bali? Kertianing mengakui memang saat deklarasi 
hanya diminta hadir bergabung dalam KKB. Tak ada komitmen awal apa pun. Baru 
ditanya ajeg Bali, dia teringat dengan tanah Bali dan orang Bali. Lantas banyak 
bercerita ajeg Bali.

Dia banyak bercerita makin banyaknya tanah Bali berpindah tangan kepada orang 
luar. Karenanya para calon pemimpin Bali diingatkan agar tanah-tanah Bali 
jangan lagi dikuasai oleh investor. ''Boleh saja orang luar berinvestasi di 
Bali namun tanah-tanah Bali jangan sampai berpindah tangan,'' katanya. 
Kehilangan tanah Bali, orang Bali akan kehilangan segala-galanya, adat, budaya 
dan terakhir nilai yang paling hakiki; agamanya. Hanya dengan mempertahankan 
tanah-tanah Bali, kelestarian adat dan budaya bisa dijaga dengan baik.

Namun pentolan PKPI dan PPIB tetap konsiten sejak awal mengusung KBD. Hal itu 
disampaikan Ketua PKPI A.A. Sumari Agung, S.H dan Ketua PPIB Ir. Ngurah Edy 
Suryaningrat. Dalam perjalanannya, diakui adanya gesekan kepentingan internal 
pendukung koalisi. ''Saya tak bisa menghalangi kepentingan politis parpol lain 
yang akhirnya mendirikan koalisi baru. Keretakan itu sulit kami hindarkan,'' 
tegas Sumari Agung, anggota DPRD Denpasar ini. Namun, Sumari Agung menepis 
retaknya koalisi ini akibat transaksi politik. Padahal awalnya semua berangkat 
dari keinginan melahirkan figur terbaik untuk Bali. 

Ngurah Edy Suryaningrat juga mengingatkan akan komitmen awal para pemimpin 
memfokuskan pada SDM Bali demi tetap ajegnya adat dan sosial budaya. Perhatian 
pada SDM lokal amat penting mengingat adanya kekhawatiran SDM Bali makin 
terdesak oleh naker luar.

Komitmen ini mesti terus diingatkan karena dalam perjalanannya pertimbangan 
kepentingan politik sering mengalahkan komitmen tersebut. (029/04

Kirim email ke