http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=45102&rubrik=1&kategori=1&topik=45

  
a.. 31/03/2008 08:23 WIB


Ribuan Warga Ancam Duduki BRR Pusat

* Pendemo Mulai Sakit



MEULABOH - Sebuah aksi solidaritas antarwarga korban gempa dan tsunami di 
pantai barat-selatan Aceh saat ini sedang digalang. Mereka dalam jumlah yang 
diklaim ribuan orang, akan bergerak ke Banda Aceh melancarkan aksi dan 
menduduki Kantor Pusat BRR, apabila tuntutan mereka agar dana rehab rumah 
dinaikkan dari Rp 2,5 juta menjadi Rp 15 juta/unit tidak diindahkan oleh 
pengambil keputusan di BRR. Sudah bulat tekad kami, untuk segera berkonvoi ke 
Banda Aceh menuntut hak. Jika tuntutan warga tak dipenuhi, kemungkinan besar 
seluruh korban gempa dan tsunami di pantai barat-selatan Aceh akan menduduki 
Kantor Pusat BRR Pusat sampai tuntutan warga dipenuhi, kata Rahmat Hidayat, 
Juru Bicara Aksi Gerakan Pejuang Nasib (Gepena) Korban Gempa dan Tsunami Aceh 
kepada Serambi, Minggu (30/3) mengenai rencana mereka menduduki Kantor Pusat 
BRR NAD Nias di Luengbata, Banda Aceh, mengingat hingga kemarin belum ada 
respons yang memuaskan dari pihak BRR.


Rahmat Hidayat mengklaim, ribuan warga korban gempa dan tsunami yang akan 
mendatangani Kantor Pusat BRA itu berasal dari Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan 
Raya, Abdya, Aceh Selatan, serta Aceh Singkil. 

Menurutnya, ribuan korban gempa dan tsunami di sejumlah kabupaten di pantai 
barat-selatan Aceh itu, telah dikoordinasikan oleh beberapa perwakilan Gepena 
dan telah menyatakan positif untuk berangkat ke Banda Aceh. Namun, kapan ribuan 
korban gempa dan tsunami itu akan bergerak ke Banda Aceh hingga kini masih 
dirahasiakan. Intinya kami tetap akan menduduki Kantor Pusat BBR untuk 
menyampaikan aspirasi kami, sesuai janji BRR beberapa waktu lalu yang 
menyatakan akan memberikan dana rehab rumah Rp 15 juta/KK, tegasnya. 

Rahmat menyatakan, aksi pendudukan Kantor Pusat BRR itu terpaksa ditempuh, 
karena belum ada respons positif dari pihak BRR untuk memenuhi tuntutan mereka. 
Keinginan untuk datang ke Banda Aceh itu merupakan usulan dan inisiatif dari 
ratusan korban tsunami yang kini masih menguasai BRR Distrik Meulaboh, 
ungkapnya. 

Sebagaimana diberitakan Serambi sebelumnya, sejak empat hari lalu ratusan 
korban gempa dan tsunami telah menduduki BRR Distrik Meulaboh. Mereka menuntut 
dana rehab sebesar Rp 15 juta/KK dan menolak dana rehab Rp 2,5 juta yang 
dijanjikan BRR, sebagaimana sudah dipublikasi melalui sejumlah media massa. 

Jatuh sakit 

Kecuali itu, Rahmat juga melaporkan, beberapa warga korban gempa dan tsunami 
yang sejak empat hari lalu menduduki Kantor BRR Distrik Meulaboh, dilaporkan 
sakit, namun telah ditangani pihak PMI setempat. Sebagian besar warga yang 
sakit itu disebabkan minimnya bahan makanan yang dimiliki warga serta makanan 
yang dikonsumsi sehari hari hanyalah mi instan dan ikan asin. 

Sedangkan para pengunjuk rasa yang sakit itu umumnya flu, demam, sakit kepala, 
dan sakit perut. 

Begitupun, ia tak bersedia menjelaskan berapa jumlah pasti warga yang jatuh 
sakit tersebut. Ia hanya menjelaskan, setelah ditangani pihak Palang Merah 
Indonesia (PMI) setempat, warga yang sakit itu kondisinya mulai membaik, namun 
harus mengonsumsi obat obatan yang diberikan tenaga medis. 

Diminta batalkan 

Pada bagian lain, Rahmat Hidayat meminta pihak kepolisian, khususnya Kapolres 
Aceh Barat, AKBP Linggo Wijanarko, membatalkan rencana aksi pembubaran massa 
yang kini masih menduduki BRR Distrik Meulaboh. Alasannya, pendudukan oleh 
mayoritas ibu rumah tangga dan wanita lanjut usia itu semata-mata untuk 
memperjuangkan aspirasi mereka terhadap dana rehab rumah dari BRR. 

Lagi pula, menurutnya, hingga kini pengunjuk rasa tidak sekali pun melakukan 
aksi anarkis serta perbuatan yang melanggar hukum. 

Ia juga mengisyaratkan, apabila pejabat BRR pusat datang ke Meulaboh hanya 
untuk berdialog dengan warga dan tak ada keputusan pasti terhadap tuntutan 
sebesar Rp 15 juta/KK, ia sarankan lebih baik utusan tersebut tak usah datang, 
karena hal itu hanya akan membuat masyarakat kecewa. 

Bantah bupati 

Secara terpisah, juru bicara mahasiswa Gepena, Azhar melalui Serambi membantah 
pernyataan Bupati Aceh Barat, Ramli MS, yang mengatakan tidak menolak atau 
menyentuh kepala seorang mahasiswa saat dilakukan penjajakan penyelesaian 
masalah di halaman BRR Distrik Meulaboh, Jumat (28/3) sore lalu, sehingga 
memicu kemarahan mahasiswa. 

Kami siap memberikan bukti bahwa kepala seorang mahasiswa memang sengja ditolak 
Bupati Ramli di hadapan ratusan pengunjuk rasa. Menurut kami, tindakan ini 
telah menginjak-injak harga diri mahasiswa Aceh Barat, tegasnya. 

Menurut Azhar, bukti yang akan diperlihatkan mahasiswa mengenai sikap tidak 
menyenangkan yang dilakukan Bupati Ramli itu adalah kaset video compact disk 
(VCD) yang mereka rekam pada saat aksi berlangsung. 

Pihak mahasiswa tetap menuntut orang nomor satu di Aceh Barat itu meminta maaf 
kepada mahasiswa melalui media atas perbuatan dan sikapnya yang tidak 
menyenangkan mahasiswa tiga hari lalu. 

Di kolong meunasah 

Sementara itu, korban tsunami di Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh 
Utara, dilaporkan masih tinggal di kolong meunasah setempat dan ratusan KK 
lainnya masih menempati rumah darurat. 

Ketua Komite Rehab-Rekon Korban Tsunami Kuala Cangkoi, Zulkifli, Minggu (30/3) 
menyatakan, kondisi korban tsunami hingga kini memasuki masa kritis. Sudah dua 
tahun lebih empat KK di kawasan itu tinggal di kolong meunasah, sedangkan 
sisanya 281 KK lainnya tinggal di rumah darurat dan sebagian kecil masih 
menumpang di rumah familinya. 

Menurutnya, saat ini belum tersedia jatah rumah bagi 26 KK warga Kuala Cangkoi, 
sedangkan sisanya sekitar 259 KK belum menempati rumah bantuan, karena sebagian 
pembangunan rumah ditelantarkan pihak kontraktor. 

Menurut Zulkifli, 98 rumah bantuan dari Hongkong Red Cross dengan tingkat 
kesiapan 50-60% ditelantarkan kontraktor sejak beberapa bulan lalu. Lokasinya 
di Kaki (blok) Lima 49 unit dan Kaki Delapan sebanyak 49 unit. 

Persoalan lain, pembangunan 40 unit rumah tipe 45 plus sumbangan RCTI Peduli, 
meskipun sudah rampung 100%, tapi belum bisa ditempati. Saat kami tanya ke 
pihak RCTI Peduli, alasannya MoU antara pihak donatur dengan Pemkab Aceh Utara 
belum semuanya terpenuhi, jadi belum bisa dilakukan serah terima, ujar 
Zulkifli. 

Pernyataan Zulkifli dibenarkan Pengawas Lapangan Bantuan RCTI Peduli, Munir 
Noer. Menurutnya, beberapa hal yang belum diselesaikan Pemkab Aceh Utara sesuai 
MoU, di antaranya parit, penyediaan air minum, pengerasan jalan masuk, dan 
pengerasan jalan lingkungan. Bila itu semua belum dipenuhi, maka tidak akan 
bisa dilakukan serah terima. Ini sesuai dengan MoU, katanya. (di/bah) 

Kirim email ke