http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=45103&rubrik=1&kategori=7&topik=42
a.. 31/03/2008 08:27 WIB


Tak Kunjung Diperbaiki 
Warga Bongkar Paksa Jembatan 

* Ribuan Warga Bubon Terkurung



MEULABOH - Akibat tak kunjung diperbaiki oleh Pemkab Aceh Barat, jembatan 
penghubung di lintasan Kecamatan Bubon dengan Gunong Meuh, Kecamatan Kaway XVI, 
kabupaten setempat, Minggu (30/3) sekitar pukul 02.00 WIB dibongkar paksa oleh 
warga. Buntutnya, ribuan warga di tujuh desa dalam kecamatan itu terkurung, 
karena jembatan tersebut tak bisa lagi dilintasi. Sementara itu, akibat 
ambruknya kepala (abudment) Jembatan Pasi Ara yang menghubungkan Kecamatan 
Woyla ke Kecamatan Woyla Timur di Kabupaten Aceh Barat, Sabtu (29/3) sekitar 
pukul 15.30 WIB, ratusan warga di wilayah tersebut juga tak bisa lagi melintas. 
Pangkal jembatan yang terbuat dari kayu itu ambruk, setelah sebuah truk 
pengangkut batu bata terperosok. 


Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, Sabtu (30/3) pagi, pembongkaran 
paksa jembatan penghubung antar-Kecamatan Bubon dengan Gunong Meuh, Kecamatan 
Kaway XVI oleh sejumlah warga itu, disebut sebut karena warga setempat kecewa 
pada Pemkab Aceh Barat lantaran hingga kini belum juga menunjukkan keseriusan 
menangani jembatan tersebut, meski kerusakannya sudah satu tahun lebih. 

Jembatan yang dibongkar itu berkonstruksi kayu, berukuran 15 meter x 5 meter. 
Puluhan warga dari kawasan Kuala Plieng Seumuleueng, Kecamatan Bubon, 
mengeksekusi jembatan tersebut antara pukul 02.00 hingga pukul 03.00 WIB. 

Sebagian warga yang bepergian sebelum pukul 01.00 WIB masih bisa melintasi 
jembatan dimaksud. Namun, di atas pukul 02.00 dini hari badan jembatan itu sama 
sekali tak bisa lagi dilewati, karena semua papan lantainya dicopot. Akibat 
pembongkaran jembatan tersebut, ribuan warga di tujuh desa dalam Kecamatan 
Bubon terkurung, meliputi warga Desa Liceh, Seuneubok Trap, Cot Keumuneng, Suak 
Pangkat, Ulee Blang, Cot Lada, Peulanteu, dan Desa Blang Sibitong. 

Kepala Desa (Geuchik) Kuala Plieng, Kecamatan Bubon, Sarbini 

yang ditanyai Serambi membenarkan bahwa jembatan itu telah dibongkar paksa oleh 
sejumlah warga, namun ia mengaku tak tahu siapa saja yang ikut mengeksekusi 
jembatan tersebut. 

Saya baru tahu kejadian ini pagi tadi (kemarin -red), setelah dilaporkan warga 
bahwa ada jembatan yang telah hilang semua papan lantainya, ungkap Sarbini. 

Ia juga mendapat informasi bahwa pembongkaran dilakukan warga, mengingat 
jembatan yang rusak sejak setahun lalu itu telah banyak memakan korban. 
Sejumlah pengguna jalan dan anak anak pernah jatuh ke sungai itu bersama 
sepedanya, karena lantai jembatan banyak yang bolong. Untuk mengakhiri 
keresahan itu, sebagian warga akhirnya nekat membongkar semua lantai jembatan 
demi menghindari jatuhnya korban lain. 

Menurut Geuchik Sarbini, jembatan lintas kecamatan yang terletak di desanya itu 
telah lama rusak, meski kondisinya belum begitu parah. Namun, karena sering 
dilintasi truk bermuatan pasir saat berlangsung pembangunan jalan Meulaboh 
Calang beberapa waktu lalu, sehingga jembatan berkontruksi kayu itu kian parah 
rusaknya. 

Yang dia sesalkan, tahun lalu Bupati Ramli dan Wabup Fuadri telah berjanji akan 
memperbaiki jembatan tersebut ketika berlangsung dialog penjaringan aspirasi 
warga. Namun, hingga kini belum terlihat penanganan yang serius. 

Sarbini kini sangat berharap kerusakan badan jembatan itu segera diatasi oleh 
Pemkab Aceh Barat, sehingga ribuan warga di wilayah itu tidak lagi terisolasi. 

Jalur alternatif 

Sarbini membenarkan bahwa akibat pembongkaran jembatan itu, ribuan warga di 
tujuh desa dalam Kecamatan Bubon kini terisolasi. Kalau ingin bepergian ke ibu 
kota kecamatan atau ke ibu kota kabupaten, warga terpaksa menggunakan jalur 
alternatif, melalui Gunong Meuh, Kecamatan Kaway XVI. Artinya, harus berputar 
dan jaraknya lebih jauh, mencapai puluhan kilometer (km). 

Sedangkan jika dibandingkan dengan jarak normal sebelum jembatan itu dibongkar 
paksa, hanya berjarak 10 km ke ibu kota kecamatan dan 30 km menuju Meulaboh, 
ibu kota Kabupaten Aceh Barat. 

Geuchik Sarbini juga menerangkan, dua titik badan jalan di Desa Kuala Plieng, 
Kecamatan Bubon, juga nyaris putus total, karena dihantam banjir beberapa waktu 
lalu dan hingga kini belum diperbaiki. Dampak dari putusnya badan jalan itu 
banyak pengguna jalan yang terkilir bahkan ada yang patah kaki, karena 
terperosk ke badan jalan yang putus tersebut. 

Camat Bubon Nyakman BA mengaku telah beberapa kali menyampaikan kondisi 
jembatan dan jalan yang rusak tersebut ke Pemkab Aceh Barat, namun hingga kini 
belum juga terlihat tanda tanda bakal diperbaiki. 

Sangat prihatin 

Secara terpisah, Ketua Umum Forum Peduli Masyarakat Bubon (FPMB), H Zainuddin 
didampingi Sekretaris Mahbud, kepada Serambi kemarin menyatakan sangat prihatin 
dengan pembongkaran paksa lantai jembatan itu oleh warga. Mereka menilai 
pembongkaran itu sebagai puncak kekecewaan warga pada Pemkab setempat yang 
sangat lambat merespons aspirasi warga. 

Kami mendesak pemkab segera mengatasi masalah ini, karena hal ini menyangkut 
hajat hidup orang banyak, tegas H Zainuddin. 

Dia ingatkan bahwa akibat kerusakan yang berujung pada pembongkaran lantai 
jembatan di Desa Kuala Plieng Seumuleueng, Kecamatan Bubon itu telah menghambat 
perekonomian masyarakat dan menghambat aktivitas warga. Setiap harinya ratusan 
anak sekolah melintasi jembatan itu untuk menuju sekolah mereka. Jika tak 
segera ditangani, maka kemungkinan besar aktivitas warga akan lumpuh total, 
tukas Zainuddin. 

Sementara itu, Kadis Praswil Kabupaten Aceh Barat, Ir Shah Triza Putra Utama 
yang coba dihubungi Serambi via telepon selular dalam waktu yang berbeda-beda 
kemarin, tak kunjung tersambung. Handphone-nya tak aktif dan hanya voice mail 
yang berfungsi. 

Hingga berita ini dilaporkan kemarin sore dari Meulaboh, aktivitas ribuan warga 
di Kecamatan Bubon masih terhenti menyusul telah dibongkarnya secara paksa 
lantai jembatan di wilayah itu. 

Abudment rusak 

Dari Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat, dilaporkan pula sebuah jembatan 
kayu berukuran 12 m x 5 m yang terletak di Desa Pasi Ara yang menghubungkan 
Woyla ke Kecamatan Woyla Timur mengalami rusak parah. Kepala jembatan 
(abudment) di tanjakan jembatan itu ambruk akibat terperosoknya sebuah truk 
pengangkut batu bata, Sabtu (29/3) sekitar pukul 15.30 WIB. 

Akibatnya, ribuan pengguna jalan yang hendak melintas di badan jalan tersebut 
kesulitan melintasinya, sedangkan kendaraan roda empat sama sekali tak bisa 
lagi melintas. Warga kemudian menggunakan jalur alternatif menuju Woyla Timur 
atau sebaliknya ke Kecamatan Woyla, yakni dengan melintasi jalur pegunungan 
yang memakan waktu lebih lama. 

Adi, staf Humas Setdakab Aceh Barat kepada Serambi mengatakan akibat rusaknya 
kepala jembatan, sejumlah pengguna jalan yang naik sepeda motor terpaksa 
mendorong kendaraannya ketika melintas di jembatan yang rusak itu. (di)

Kirim email ke