Refleksi: Apakah para penguasa dan petinggi NKRI menghendaki kehidupan rakyat menjadi lebih baik? Bukankah kalau mereka menghendaki maka sudah tentu dengan kemauan dan ketegasan politik telah dilakukan perubahan fundamental guna memperbaiki keadaan ekonomi, sosial dan kebudayaan untuk melenyapkan kemiskinan dan keterbelakangan demi perbaikan kehidupan memada bagi rakyat. Tetapi apa kenyataannya selama ini?
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=155226 Jumat, 4 April 2008 Menjadi Lebih Baik Oleh : Debi Heristian Setiap kita pastinya menginginkan hal yang baik. Entah itu pejabat, pedagang, petani, pelajar atau siapapun, tentunya tidak akan menginginkan keburukan yang terjadi dalam kehidupannya. Bahkan sering kita dengarkan, penjahat sekalipun sebenarnya ingin menjadi baik. Baik, baik dan baik, inilah impian setiap kita. Namun untuk menjadi baik, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dan tidaklah secepat mengedipkan kelopak mata. Begitu banyak aral melintang ketika kita mencoba untuk menjadi lebih baik. Tetapi satu hal yang perlu kita sadari, sebenarnya yang membuat kita sulit untuk menjadi lebih baik kebanyakan bukanlah faktor eksternal dari diri kita, melainkan faktor internal dirilah yang banyak memainkan peran. Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua hal yang harus dimiliki setiap kita ketika ingin lebih berkualitas dari hari ke hari. Pertama, niat untuk lebih baik. Tidak perlu penulis paparkan panjang lebar mengenai niat untuk lebih baik ini. Karena penulis yakin, setiap kita pasti memiliki niat untuk lebih baik seperti yang disampaikan diatas. Tetapi yang terkadang kontroversi adalah ketika niat timbul secara dadakan. Umumnya, niat dadakan ini timbul karena adanya peluang. Tidak masalah ketika niat dadakan tersebut untuk kebaikan. Sebaliknya, akan menjadi masalah ketika niat dadakan tersebut adalah untuk sebuah keburukan. Kedua, aplikasi atau pelaksanaan dari niat yang telah tertanam dalam hati untuk menjadi lebih baik. Aplikasi inilah yang lebih penting dari hanya sekedar niat. Dalam aplikasi ini, manajemen memainkan peranan penting. Yang terpenting dari manajemen ini adalah manajemen waktu. Hal ini jelas karena, kita hidup tidak lepas dari waktu. Kualitas hidup akan lebih baik apabila manajemen waktu dilaksanakan dengan baik, demikian pula sebaliknya. Mengenai manajemen waktu ini, ada sebuah cerita menarik. Beberapa waktu lalu, ada sebuah seminar mengenai manajemen waktu. Seorang pemateri yang memang cukup professional dalam manajemen waktu memberikan sebuah perumpamaan yang cukup unik. Dari balik meja yang ada di depan, pemateri tersebut mengeluarkan sebuah toples. Ketika mengeluarkan toples ini, peserta seminar terlihat penasaran dan mungkin dalam hati mereka bertanya, apa yang ingin dilakukan oleh si pemateri? Setelah mengeluarkan toples, si pemateri kemudian mengambil beberapa buah batu sebesar pergelangan tangan kemudian dimasukannya ke dalam toples. Setelah batu tersebut tidak muat lagi untuk dimasukkan, pemateri kemudian bertanya kepada peserta seminar: "Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu, apakah toples ini sudah penuh?" Dengan kompak peserta seminar menjawab: "Sudah". Selanjutnya si pemateri mengambil kerikil dari balik mejanya yang ada di depan peserta, kemudian kerikil tersebut perlahan ia masukkan ke dalam toples yang telah penuh dengan batu sebesar pergelangan tangan. Setelah kerikil tidak muat lagi untuk dimasukan ke dalam toples, si pemateri kembali bertanya kepada peserta: "Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu, apakah toples ini sudah penuh?". Dengan terlihat ragu beberapa pesarta menjawab: "Sudah". Setelah mendengar jawaban dari peserta seminar, kembali si pemateri mengambil sesuatu dari balik mejanya. Kali ini yang diambilnya adalah pasir. Perlahan pasir tersebut ia masukkan ke dalam toples tadi. Sambil menggoncang-goncangkan dengan perlahan toples yang sudah terlihat penuh dengan batu dan kerikil, si pemateri memasukan pasir secara perlahan pula hingga toples tidak muat lagi untuk dimasukan pasir di dalamnya. Pemateri kemudian menoleh kepada peserta seminar, bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama. Kali ini peserta seminar tidak menjawab sepatah katapun. Tanpa diminta, si pemateri kemudian mengambil air kemudian dimasukannya ke dalam toples yang sudah terlihat penuh dengan batu, kerikil dan pasir. Setelah toples terisi penuh dengan batu, kerikil, pasir dan air, si pemateri tidak lagi bertanya kepada peserta seminar. Si pemateri selanjutnya memberikan penjelasan dari apa yang telah dilakukannya terhadap toples. Perlahan ia berjalan ke arah peserta, ia kemudian berbicara dengan retorika yang menarik dengan sesekali membuat lelucon. Sesekali peserta mengangguk kagum dan sesekali pula tertawa karena uniknya si pemateri dalam menyampaikan materinya. Pesan yang ingin disampaikan si pemateri dari perumpamaan yang ia lakukan yaitu bahwasanya waktu yang kita miliki itu adalah ibarat sebuah toples kosong yang hampa. Batu sebesar pergelangan tangan yang dimasukkan pertama dalam toples tersebut adalah ibarat agenda-agenda besar dalam hidup kita. Kerikil, adalah ibaratkan agenda-agenda kecil. Sedangkan pasir dan air diibaratkan sebagai rutinitas kita sehari-hari. Beruntunglah orang yang teratur dan profesional dalam menyusun agenda-agenda dalam hidupnya. Ia akan membuat skala prioritas terhadap apa yang harus disusun terlebih dahulu dalam agenda tersebut. Agenda-agenda besar akan disusun terlebih dahulu. Setelah itu, agenda-agenda kecil menyusul. Kemudian dilanjutkan dengan hal-hal kecil yang mungkin kita butuhkan. Bayangkan seandainya toples kosong hanya kita isi dengan pasir dan air, apa yang akan terjadi? Tentunya batu tidak akan bisa masuk ke dalam toples tersebut. Demikian pula seandainya kita hanya memasukkan batu-batu besar ke dalam toples kosong, maka kita juga telah membiarkan masih tersisanya ruang hampa dari toples tersebut. Padahal semestinya toples masih bisa untuk dimasukkan kerikil, pasir dan air. Sekali lagi, pesan yang ingin disampaikan si pemateri di atas dalam memanajemen waktu bahwa kita dituntut untuk professional. Disamping benar dan professional dalam memanajemen waktu, untuk menjadi lebih baik, kita juga dituntut untuk mengolah empat hal dalam hidup kita. Empat hal yang harus diolah ini, penulis dapatkan resepnya dari tausiah/ceramah seorang dosen di kampus tempat penulis menimba ilmu saat ini. Apa saja empat hal yang harus diolah dalam hidup agar menjadi lebih baik? Berikut penulis paparkan: (1) Olah Pikir. Manusia dikaruniai otak oleh Tuhan untuk berpikir. Sayangnya, tidak semua orang mau mencoba untuk mengolah pikiranya menjadi lebih baik. Bagaimana cara olah pikir? caranya ialah belajar, belajar dan belajar. Jika anda adalah kaum intelektual (mahasiswa), mungkin anda tahu cara olah pikir ala intelektual yang sering kita dengungkan yaitu membaca, menulis dan diskusi. Orang yang senantiasa mengolah pikirannya, akan terlihat kemajuan dalam hidupnya. Ia tidak akan menjadi manusia yang biasa-biasa saja. Orang yang senantiasa mengolah pikirannya, juga akan selalu membuat gebrakan-gebrakan baru. Akan ada kejutan-kejutan yang dihadirkannya. (2) Olah Hati. Hati disini bukanlah hati secara fisik, tetapi hati yang dimaksud disini adalah potensi rohani yang dimiliki setiap kita. Dalam bahasa Arab hati disebut dengan Qolbu. Qalbu ini salah satu makna/arti dari asal katanya adalah "membolak-balik". Dari asal kata "membolak-balik" inilah sehingga ulama sufi mengatakan bahwa pendirian hati akan senantiasa bisa berubah setiap saat. Hati manusia bisa menjadi baik dan juga bisa menjadi buruk. Orang yang senantiasa melakukan olah hati dengan benar, adalah orang yang senantiasa mendekatkan diri dengan Tuhan. Ia akan merasa selalu diawasi oleh Tuhan di setiap tempat dan keadaan. (3) Olah Rasa. Sering kita dengar atau kita baca, dikatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk hidup yang saling membutuhkan satu sama lain. Kita sebagai manusia, dibekali oleh Tuhan kepekaan atau empati sosial. Orang yang melakukan olah rasa dengan baik, adalah mereka yang paling peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya, seperti membantu orang yang memerlukan bantuan. Disamping dengan sesama manusia, orang yang melakukan olah rasa dengan baik juga akan peduli dengan lingkungan sekitarnya. Kebersihan adalah salah satu ciri orang yang peduli terhadap lingkungan. (4) Olah Raga. Nah, yang terakhir inilah yang sering kita abaikan. Padahal sudah jelas dikatakan bahwa, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Bagaimana mungkin kita dapat menuntut ilmu, beribadah kepada Tuhan, dan berbuat untuk sesama seandainya kita sakit. Kalaupun kita dapat berbuat, mungkin hasilnya tidak sebaik dan semaksimal ketika kita sehat. Olah raga ini juga penting. Riset membuktikan, mereka yang melakukan olah raga secara teratur lebih memiliki sikap optimis ketimbang mereka yang tidak melakukan olahraga secara teratur. Disamping itu, tingkat kecerdasan mereka yang melakukan olah raga secara teratur juga akan lebih daripada yang kurang melakukan olah raga. Olah Pikir, Olah Hati, Olah Rasa, Olah Raga, silahkan anda sinergiskan keempat hal ini. Selama hayat masih dikandung badan, tidak ada kata terlambat. Siapa sih yang tidak ingin menjadi lebih baik dari waktu ke waktu?. Mudah-mudahan kita semua menjadi orang yang beruntung karena menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin dan menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini. ** * Penulis adalah Men. Inkam BEM STAIN Pontianak dan Trainer Insan Cerdas Training Center Kalimantan Barat.
