http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaopini&opinid=1584

a.. 08/05/2008 09:55 WIB


Kenapa Aceh Miskin?

[ penulis: M Jais Rambong | topik: Ekonomi ]


Kemiskinan berkait erat dengan tingginya angka pengangguran, minimnya lapangan 
pekerjaan, dan kurangnya sumberdaya manusia (SDM) dan sumberdaya alam (SDA). 
Bisa dipastikan, bila suatu daerah tidak memiliki SDM/SDA memadai, maka akan 
banyak warganya berstatus sebagai penganggur alias berlabel miskin. 

Adakah itu di Aceh? Saat ini masyarakatnya masih miskin, bahkan daerah nomor 
lima besar termiskin di Indonesia. Dirincikan, dari 2.677.900 penduduk Aceh 
usia kerja, 331.949 orang pengangguran terbuka yang tersebar di 21 
kabupaten/kota. Dengan pengangguran terbanyak di Kabupaten Pidie, mencapai 
50.754 (15,28 persen) orang, disusul Aceh Utara 49.116 (14,79 persen) orang dan 
Bireuen,37.697 orang. Disamping itu pengangguran terkecil terdapat di kota 
Sabang 1.568 orang, Gayo Lues 2.043 orang dan Bener Meriah 4.794 orang. 
Sedangkan selebihnya tersebar di Simeulue, Aceh Timur, Banda Aceh dan 
Lhokseumawe. (Analisa, 26 Maret 2007). Diperkirakan sekitar 331.949 rakyat Aceh 
sekarang sedang mencari pekerjaan 

Seperti diketahui, sejak musibah tsunami lapangan pekerjaan di Aceh terbuka 
lebar, khususnya selama rehab-rekon Aceh. Di sinilah sebenarnya pemerintah 
harus mengambil langkah-langkah antisipasi, jika ke depan Aceh bisa clear dari 
pengangguran dan kemiskinan. 

Pascatsunami, dana yang singgah di Aceh sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk 
membangun lapangan pekerjaan. Penerimaan anggaran (APBA), sejak tahun 1999 Aceh 
sebagai salah satu provinsi paling banyak menerima santunan dana dari pusat, 
setelah Kalimantan dan Papua. Pada tahun tahun 2007, berdasarkan realese 
Departement keuangan No.01/HMS/2007, Aceh memperoleh alokasi dana sektoral 
sebesar 11,7 triliun. Urutan keempat setelah Jakarta, Jawa timur, dan Jawa 
barat. (hukmas.depkeu.go.id ). 

Bahkan untuk tahun berjalan 2008 Aceh diusulkan menerima dana segar sebesar 1,8 
ditambah lagi dana tambahan otonomi khusus dan Migas untuk setiap kabupaten. 
Tapi kenapa Aceh masih saja tidak berubah. 

Tentu, persoalan yang dihadappi tidak mungkin hilang begitu saja. Perlu waktu 
secara bertahap. Apalagi setiap tahun jumlah penduduk Aceh semakin meningkat. 
Setiap tahunnya jumlah usia pendidikan semakin bertambah setelah menyelesaikan 
studi. Itu artinya angka pengangguran akan bertambah bila lapangan kerja tidak 
mampu diupayakan. 

Dalam kontek itu, sudah patutnya pemerintah memikirkan strategi agar masalah 
angkatan kerja tidak menjadi bumerang bagi Aceh ke depan. Harus ada 
langkah-langkah konkrit membantu meminimalisir pengangguran dan kemiskinan itu. 
Apakah dengan cara memberikan bantuan modal maupun mempromosikan sumberdaya 
manusia dan alam ke investor luar. 

Minimnya usaha-usaha produktif telah membuat pergerakan arus kemiskinan semakin 
berpotensi, dan membuat orang Aceh hidup kelimpungan. Apalagi lapangan kerja 
yang saat ini disediakan, kebanyakan memperkerjakan orang-orang dari luar Aceh. 
Belum lagi 

adanya monopoli alat-alat produksi oleh kalangan tertentu semakin membuat 
kemiskinan di Aceh meningkat. Sementara, pemerintah tampaknya tidak menjadikan 
kesejahteraan rakyat sebagai agenda utama dalam program strategis pemerintahan 
ke depan. 

Keadaan itu sepertinya ada pembiaran kesengajaan. Misal, ketika aset-aset/alat 
produksi yang sepatutnya diperuntukkan untuk orang lokal (daerah), malah masih 
dikuasai oleh cukong-cukong tertentu. Hal itu mengakibatkan sulitnya bagi 
rakyat untuk bisa mendapatkan pekerjaan apalagi sejahtera. 

Pascabencana, Aceh ditimbun uang. Namun uang yang mengalir itu tidak semunya 
berputara di Aceh. Aceh tak ubahnya sebagai paralon tempat melintasnya arus, 
yang didapatnya hanya panasnya saja. Dan ini sungguh memprihatikan, karena 
begitu banyaknya uang mengalir namun menguap ke daerah lain. 

Dari sekitar 13 Triliun yang diperuntukkan bagi proyek-proyek pembangunan, 
penelitian dan lain sebagainya di Aceh, diperkirakan hanya sekitar 30 persen 
uang/bantuan yang masuk ke Aceh berdiam di sini. Selebihnya (70 persen) 
mengalir ke Jawa, Jakarta atau Medan dan dinikmati daerah lain. Apalagi dalam 
tender proyek kebanyakan diberikan pada kontraktor luar Aceh. Dan dari jumlah 
30 persen yang mengendap di Aceh itu pun, tidak semuanya mengalir deras ke 
bawah, langsung menyentu kebutuhan rakyat kecil, terutama dalam peningkatan 
kapasitas maupun peningkatan kesejahtraan hidup rakyat yang selayaknya menjadi 
penerima azas manfaat. 

Itu dalam soal proyek. Belum lagi soal tenaga kerja. Selama rehab-rekon Aceh, 
ternyata yang banyak dilibatkan justru bukan orang daerah. Misal, sebuah kantor 
mulai tenaga clearing servis sampai staf, semuanya diimpor dari luar Aceh. 
Padahal bila mau jujur tingkat kompetensi dengan putra daerah tidaklah terlalu 
kalah saing. Hanya saja akses untuk masuk dalam lapangan pekerjaan sepertinya 
ditutup. Maka benarlah kata indatu Aceh buya krueng mate teudeng, buya tameng 
ulak reseuki (buaya sungai/orang Aceh cuma bisa melihat, orang luar terus 
mengeruk keuntungan). Para pekerja dari luar itu seperti ombak pantai yang 
surut menyurut secara bergerombolan datang ke Aceh. 

Sejatinya, pemerintah memiliki kepekaan dalam mengatasi permasalahan ini. 
Setidaknya, ada pemikiran bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan dalam bentuk 
pembuatan padat karya. Selain itu, perlunya upaya meningkatan skill education 
(pelatihan kemampuan diri). Hal yang saya pikir urgen adalah bagaimana 
mencanangkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan dan sektor 
riil lainnya. Sehingga banyak tenaga kerja di serap di bidang ini. 

Pemerintah Aceh perlu meminimalisir ketergantungan barang-barang impor dari 
luar daerah. Tentu di sini harus memperkuat jaringan pengusaha Aceh dalam 
membuka peluang menciptakan pasar dengan stok bahan produksi di daerah. Minimal 
jangan lagi ketergantungan dari Medan. Perlu mencari peluang-peluang atau 
adanya masterplan pencegahan pengangguran dan meminimalisir kemiskinan yang 
sudah akut ini. 

Dalam pengembangan usaha masyarakat kecil, pemerintah tidak sekedar mensupport 
tapi membuka akses masyarakat terutama dalam perolehan modal usaha. 
Selanjutnya, memberikan peluang bagi pengusaha-pengusaha lokal dalam 
mendominasi usahanya di setiap daerahnya, dengan memberi peinjaman modal bagi 
pengusaha-pangusaha yang banyak memperkerjakan orang-orang lokal. Jika masalah 
yang sebut mampu dilakukan, maka angka pengangguran bisa diminimalisasikan. 
Jika tidak maka Aceh ke depan akan bisa masuk rekor MURI sebagai daerah paling 
banyak manusia nganggur yang gilirannya angka kemiskinan semakin membengkak. 



*) Penulis adalah mahasiswa FE Unsyiah, staf biro riset LSM YICM 

Kirim email ke