Kita dan Ladang Binatang
Oleh: Junus Laôt Bhè
“Komrad sekalian, sebagaimana telah kalian dengar, saya mendapat mimpi aneh
kemarin malam, yang nanti akan saya ungkapkan. Sebelum itu, ada sesuatu yang
lain untuk dibahas. Karena saya tidak mungkin hidup bersama kalian dalam waktu
yang lebih lama, maka adalah suatu kewajiban untuk menyalurkan pedoman hidup
dan kebijaksanaan yang saya dapat, karena saya telah diberi umur panjang dan
banyak waktu untuk berpikir. Di mana saya telah memahami hakikat dari kehidupan
di dunia dan kehidupan kita para binatang, dan karena itulah, saya hendak
kemukakan kepada kalian semua malam ini”.
Demikian si Major, seekor babi putih yang sudah lanjut usia dan dituakan,
membuka orasinya dengan suara, meskipun terdengar lemah, namun penuh semangat.
Pertemuan akbar para binatang tersebut bertempat di sebuah kandang besar di
Ladang Manor, ketika tuan Jones, si pemilik ladang tertidur. Semua hewan
piaraan yang terdiri dari ayam, itik, lembu, kuda, keledai dan lain sebagainya,
memenuhi ruang utama. Major memaparkan sebuah orasi politik, yang kemudian
menjadi pidato terakhirnya sebelum menjemput maut.
“Kenyataan hidup para binatang piaran adalah memprihatinkan, diperbudak dan
berumur pendek.” Lanjut Major. Ia, kemudian membahas panjang lebar tentang
perlakuan manusia terhadap bangsa-bangsa binatang, yang susunya diperas saban
hari, telurnya dijual, yang hidup mereka dipersingkat, yang tenaganya dipaksa,
dan setelah ianya lemah dan tidak diperlukan lagi, manusia akan memotongnya
dengan kejam untuk selanjutnya dimakan. Untuk mengakhiri kekejian itu, hanya
ada satu cara: manusia harus disingkirkan. “Lawan!” Pekik sang Major.
Oleh sebab suatu perjuangan tidak memadai dengan memberontak
semata, lalu tuntunan, aturan dan ikrar bersama perlu dibuat. Major menuturkan
beberapa perkara yang harus dipatuhi oleh bangsa-bangsa binatang yang antara
lain adalah: Selalu ingat akan permusuhan terhadap manusia dan berbagai cara
mereka; yang berkaki dua adalah musuh dan yang berkaki empat atau bersayap
adalah kawan; Dalam melawan manusia kalian tidak boleh meniru gaya manusia,
bahkan ketika kau berhasil mengalahkan dia; Jangan pernah meniru kebiasaan
manusia yang tidak bermoral; Di atas semua itu, tiada binatang yang bisa
menjadi tirani bagi binatang yang lain; Pandai atau tidak, lemah atau kuat,
semua bersaudara, dan tidak sekali-kali membunuh sesama binatang; Semua
binatang adalah sederajat.
Major lalu membuka tabir mimpinya. Dalam mimpi dia ternampak kehidupan para
binatang nan cerah ketika manusia hilang di muka bumi ini. Kemudian Major
mengajak semua hadirin menyanyikan bait-bait lagu revolusi, lagu pusaka yang
menurutnya sudah lama terlupakan. Dan akibat paduan suara mereka yang bergaung
keras dan menembus dinding, membuat tuan Jones terjaga. Dia seketika
memuntahkan peluru dari senapan panjangnya yang serta merta membubarkan acara
perkumpulan massal tersebut.
Berselang beberapa hari kemudian, Major meninggal dunia.
Tinggallah para binatang dengan rencana revolusi yang kini dipimpin oleh bangsa
babi lainnya. Snowball, seekor babi putih yang terbilang pandai mengambil alih
komando, dibantu oleh seekor babi hutan hitam yang licik bernama Napoleon.
Singkat cerita, lewat suatu rencana yang tersusun rapi, bangsa-bangsa binatang
di ladang tersebut bersatu padu melancarkan pemberontakan terhadap pemilik
ladang, si manusia penjajah yang serakah itu telah dikalahkan dan angkat kaki
dari ladangnya. Beberapa agresi manusia berikutnya dapat dipukul mundur. Semua
penghuni ladang berpikir kini saatnya bagi seluruh para bintang untuk menikmati
kemerdekaan yang dijanjikan.
Namun sebelum hasrat itu menjadi kenyataan, bahaya lain datang menghadang.
Petaka yang lahir akibat kerakusan oleh pengkhianat dari bangsa binatang itu
sendiri. Tatkala Snowball sedang terus merancang pembangunan ladang yang
sekarang telah berganti nama menjadi Ladang Binatang, Napoleon si babi licik,
juga sibuk mengatur strategi untuk merebut kekuasaan yang selanjutnya
mengkhianati sumpah bersama dengan menjadi tiran atas binatang yang lain.
Siasat didapat. Napoleon berhasil menyembunyikan beberapa ekor
anak anjing yang selanjutnya dilatih menjadi serdadu atau polisi rahasia yang
buas, untuk membunuh lawan politik dan menakuti rakyatnya. Sasaran pertamanya
adalah Snowball. Si pemikir berpengaruh yang bekerja untuk kepentingan seluruh
binatang itu telah dibunuh dengan keji, pasukan anjing milik Napolean mengoyak
tubuhnya. Untuk membenarkan tindak kejahatannya, Napoleon lantas menuduh
Snowball sebagai pengkhianat yang harus dihukum, dan semuanya dianggap selesai
tanpa ada suatu penyiasatan terbuka.
Di bawah tirani sang diktator Napoleon, satu persatu amanat
perjuangan dan Undang-Undang Dasar Ladang Binatang dihapus dan dirubah. Bangsa
babi kini menjadi bagian oligarkhi yang baru. Mereka telah mulai mendiami rumah
manusia, tidur di atas katil dan makan makanan lezat, sementara binatang lain
yang bekerja keras setiap hari hanya makan lhök dan rumput kering. Sewaktu
mereka protes, Squealer si babi gemuk dan ahli bersilat lidah bertindak
laksana Harmoko di jaman Soeharto, atau Oom Pasikom di BRA, atau Ustad Musyrik
dan Toke KutuBuSuk di tubuh GAM oligarkhi, atau kiranya seperti pegawai
hubungan masyarakat di BRR. Yaitu mengusung pembelaan dengan segunung alasan
yang ‘sahih’. Katanya, kaum babi memerlukan sedikit kemewahan untuk terus
berpikir bagi kemajuan Ladang Binatang. Di lain masa, Squealer rajin melakukan
propaganda lewat aneka pesan bersahaja, baik secara langsung atau lewat media.
Seperti pemutaran film bapak “pembangunan” Napoleon dan lain sebagainya. Ia
pula tak lupa merubah pengertian Undang-Undang kaum binatang.
Pelanggaran terhadap komunike Ladang Binatang semakin terlihat
jelas apabila Napoleon telah membuka hubungan dagang dengan manusia. Ia menjual
telur bangsa ayam—yang seharusnya illegal--untuk ditukar dengan arak, cerutu
dan komoditi yang dilarang oleh perundangan Ladang Binatang. Ketika para ayam
melakukan protes, maka hukuman mati telah dijatuhkan. Pasukan anjing Napoleon
bertindak sebagai eksekutor.
Meskipun pada akhirnya tahta Napoleon jatuh akibat keserakahan dirinya sendiri,
tetapi penderitaan yang panjang telah menindas para binatang penghuni ladang
yang berjuang bersamanya, dan sekali lagi mereka perlu bangkit untuk menentang
kezaliman.
***
Cerita di atas adalah ringkasan dari satire Animal Farm (Ladang Binatang) yang
ditulis Eric Blair alias George Orwell, dan diterbitkan pada tahun yang sama
dengan kelahiran Ladang Binatang yang bernama Indonesia, pada 1945.
Meskipun cerita tersebut adalah refleksi dari revolusi Bolshevik yang
melahirkan kuasa tirani atau totalitarian baru, Uni Soviet, serta kritikan
Orwell terhadap Joseph Stalin yang menyingkirkan Leon Trotsky--lawan politik
beraliran social democrat itu, akan tetapi tak dapat disanggah bahwa alur
cerita tersebut sesungguhnya melukiskan perjalanan sejarah bangsa Acheh. Suatu
bangsa yang terlibat dalam setidaknya tiga kali revolusi dengan maksud
membangun Ladang Binatang yang merdeka, makmur dan sejahtera, yang kesemuanya
berakhir dengan penderitaan. Akibat dari penjajahan baru oleh sekelompok
binatang yang berlagak menjadi tuan baru ke atas bangsa kita.
Pada revolusi pertama, para pemimpin kita telah diperdaya oleh
sekelompok para chauvanis jawa-majapahit agar bersatu mendirikan Ladang
Binatang Indonesia. Setelah penjajah lari--seumpama Napoleon dan kerabat
babinya yang mengkhianati amanat bersama para binatang lain--maka Soekarno dan
nasionalis jawa-nya telah membuat bermacam deal politik dan ekonomi dengan
Belanda untuk kemewahan pribadi dan kemakmuran kaumnya sendiri, dan
mempertahankan basis ekonomi penjajah di Nusantara terutama di Sumatra.
Sementara itu, pasukan anjingnya Soekarno di kirim ke Acheh dan wilayah lain di
Sumatra untuk menakutkan rakyat di sana. Pada saat yang sama ia menghamburkan
uang untuk berbagai projek besar di pulau Jawa, di samping mengawini sejumlah
perempuan serta memelihara para gundik.
Sikap licik dan gaya babi hitam Napoleon juga tercermin dalam
diri dan rejim Soeharto. Ketika seluruh sanak keluarga, kerabat dan bangsa
jawanya menikmati kekayaan dari hasil alam Nusantara, yang seharusnya digunakan
bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Seperti bangsa babi yang menikmati hasil
perjuangan dan kerja keras binatang lain, maka kaum jawa telah menikmati
pelbagai kemudahan mulai dari jabatan di sektor pemerintahan sivil dan militer
sampai kepada transmigrasi yang rumah, lahan dan makanan disediakan.
Sebaliknya, sebagai hadiah untuk Acheh, si koruptor mengirimkan pasukan anjing
untuk membunuh mereka yang berusaha menyuarakan keadilan, terutama di masa DOM.
Para pemimpin serdadu anjing, yang mampu membunuh banyak nyawa, akan mendapat
kenaikan pangkat, jabatan, dan limpahan kekayaan. Begitu pula kemudahan yang
didapat oleh para penurut dan kolobrator dari jenis bangsa Acheh sendiri.
Jika kisah para binatang yang menghuni Ladang Binatang hanya
menghadapi sekali pengkhianatan, bangsa kita telah mengalami serangkaian
pengkhianatan. Mulai dari zaman Soekarno sampai ke Yudhoyono. Pasukan anjing
telah berkali-kali dikirim untuk memangsa rakyat kita. Lalu bangsa kita sendiri
bangkit dan mengajak untuk kembali berjuang, dan setelah itu rakyat kembali
dikhianati. Bukti itu terpampang mulai dari revolusi Tgk Daud sampai ke Tgk
Hasan, di mana pengkhianatan terus berjalan.
Masih terekam di setiap benak rakyat Acheh ketika aktivis seperti M. Nazar
berkoar dengan air ludah yang berbuih sewaktu berlakon tentang perjuangan demi
keadilan, kebebasan, demokrasi dan bersumpah memperjuangkan semua hak bangsa
Acheh. Namun hanya beberapa tahun berselang, ketika kuasa berada di tangannya,
maka dari mulut yang sama telah terdengar kata-kata yang begitu mudah
menjadikan bangsanya sebagai pelaku kriminal tanpa keinginan untuk meneliti
penyebab di balik aksi tersebut.
Di lain pihak, para petinggi GAM oligarkhi yang hidup dari
darah dan keringat rakyat di masa perjuangan, kini persis seperti babi hitam
Napoleon yang ditulis Orwell, bermewah dan berfoya-foya dan bekerja sama dengan
golongan penindas. Sementara rakyat biasa dan bekas rekan seperjuangan hanya
memakan angin dan mimpi. Malah tiada pembelaan yang didapat sekiranya mereka
diterkam oleh pasukan anjing dan milisi, seperti apa yang terjadi di Atu
Lintang.
Ketika mereka (bekas gerilyawan) mengambil jalan pintas akibat kecewa dan putus
asa, para petinggi GAM oligarkhi telah menuduh mereka sebagai anti perdamaian,
perampok dan penjahat. Sedangkan kesalahan atas kebijakan yang dibuat oleh para
petinggi Oligarkhi, seperti takluk di Helsinki dan perkara dana reintegrasi
yang sumbat, dengan mudah terlupakan.
Lantas Squealer, atau Harmoko-Harmoko yang bekerja untuk Pimpinan GAM
oligarkhi, masih terus menipu tanpa rasa malu, bahkan mereka masih mengaku
memperjuangkan rakyat banyak dan kemerdekaan Acheh, sekalipun mereka telah
menjadi budak penjajah.
***
Hikmah lain dari kisah Ladang Binatang ini menjelaskan bahwa pada hakikatnya
kekuasaan itu sangat berbahaya, apatah lagi jika ianya tidak terkawal. Hukum
dan pelaksana hukum tidak berarti jika ia tidak diawasi. Kita memerlukan hukum,
pelaksana, pengawal serta rakyat yang memantau hukum dan keseluruhan dari
sistem kekuasaan. Unsur-unsur itulah yang alpa dalam kehidupan di Ladang
Binatang maupun di ladang perjuang kita. Akibatnya, seperti apa yang terjadi
terhadap penubuhan Ladang Indonesia, atau ketika Gerakan Acheh Merdeka
mempunyai kuasa di Acheh, semuanya menjadi tidak terkontrol. Kesempatan itu
telah dimanfaatkan oleh para tokoh licik seperti babi hitam Napoleon, untuk
merebut kekuasaan dan menyingkirkan lawan politiknya, terutama yang jujur dan
berpihak rakyat.
Demikian pula yang terjadi ketika kudeta sunyi di puncak organisasi GAM. Semasa
para tokoh yang telah bersama Dr. Hasan Tiro sejak awal gerakan itu, harus
tersingkir oleh konspirasi ala babi hitam Napoleon, yang melibatkan Zaini dan
Malik sebagai otak konspirator. Lalu kepemimpinan beralih pada kebijakan yang
mengutamakan perkauman di atas kebersamaan. Dari perjuangan rakyat menjadi
perjuangan kelompok dan keturunan. Mengambil gaya klasik Napoleon, dan Soeharto
di masa kudeta 1965, para konspirator itu telah menuduh pengikut setia Dr.
Hasan sebagai pengkhianat-MP. Langkah itu diikuti pada tingkat yang lebih
rendah di Malaysia, dan di Acheh, yang membuat beratus nyawa bangsa kita
melayang. Di bunuh oleh bangsanya sendiri secara menyedihkan akibat propaganda
para konspirator dan pengikutnya.
Begitulah…Suatu perjuangan akan berakhir tragik apabila tidak
diperkuat dengan ketulusan dan pengawasan bersama. Perjuangan memang senantiasa
susah dan berat, tetapi bagi kita yang berhasrat untuk memberi yang terbaik
kepada kehidupan kita sendiri dan generasi nanti, roda perjuangan tak boleh
terhenti. Hanya ada dua patah kata untuk penindasan dan penjajahan: lawan dan
lawan!
_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all