http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacasalam&salamid=952

a.. 15/05/2008 10:27 WIB

Suasana Pemilu di Aceh Masih dalam Tanda Tanya
 


Secara resmi, masyarakat sudah diajak untuk menyiapkan diri menyambut pemilihan 
umum (Pemilu) 2009. Dalam seruan resmi melalui harian ini kemarin, Gubernur 
Irwandi Yusuf meminta masyarakat supaya mengurus atau mengganti kartu tanda 
penduduk (KTP) Merah Putih dengan KTP nasional yang berlaku umum di semua 
daerah. 

Persiapan menghadapi pesta demokrasi itu memang terkait dua hal. Pertama 
persiapan administratif dan kedua tentu saja persiapan mental atau pemetangan 
politik masyarakat. Yang berhubungan adminitrasi mungkin gampang dibereskan. 
Akan tetapi, yang terkait dengan pematangan politik masyarakatlah yang selalu 
bikin repot. 

Dan, yang menakutkan, karena hal itu sangat potensial menjadi konflik dalam 
masyarakat. Hal ini akan sangat jelas terlihat dalam masa-masa menjelang 
kampanye. Jadi, pada masa itu biasanya bukan hanya terjadi konflik internal 
partai dan antar partai, tapi juga dalam masyarakat. 

Khusus untuk Aceh, pemilu kali ini bisa jadi sangat riskan. Aceh akan berbeda 
dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Dalam pemilu kali ini, Aceh akan 
diramaikan oleh partai lokal. Meskipun kita belum tahu berapa banyak, tapi 
untuk sementara sudah lebih 10 partai lokal mendaftarkan diri. 

Jadi, momentum pemilu kali ini sekaligus menjadi catatan sejarah baru demokrasi 
di Aceh. Kita belum dapat memprediksikan apa yang terjadi nantinya. Terutama 
ketika partai lokal harus berhadap-hadapan dengan partai nasional dalam 
menjaring simpati massa pemilih. 

Untuk membayangkan bagaimana pemilu di Aceh nantinya, mungkin bisa kita lihat 
masa lalu sebagai variabel banding. Dalam Pemilu 1977, misalnya, akibat 
monopoli efektif atas hirarki birokrasi sipil dan militer, pada gilirannya 
berakibat ganda. Di satu sisi, membuat jelas para pemilih terhadap pemerintahan 
Orde Baru; dan di sisi lain, doktrin monoloyalitas yang mewajibkan seluruh 
pegawai negeri loyal terhadap pemerintah, mengakibatkan tercabutnya politikus 
sipil dari basis utamanya, yakni partai politik. Itu masih ditambah dengan 
dukungan pengusaha, tokoh agama, dan pemimpin tradisional; semuanya mendorong 
Golkar memenangi sejarah panjang pemilu-pemilu Orde Baru. 

Di luar itu, masih ada kondisi psikologis yang ikut menentukan kemenangannya di 
awal-awal orde baru. Kondisi psikologis itu antara lain, masyarakat Indonesia 
baru saja terbebas dari tragedi berdarah 1965. 

Kilasan sejarah itu hendaknya menjadi bahan renungan bagi elit politik di Aceh 
saat ini. Yang jelas, sekarang masyarakat Aceh merindukan kehadiran partai 
politik yang tidak saja menjadi pemersatu kepentingan pendukungnya, tetapi 
lebih dari itu, juga bisa mengartikulasikan kepentingan masyarakat luas. 

Memang, harapan itu masih membutuhkan waktu panjang, mengingat konflik elite 
politik atau parpol-parpol saat ini masih tetap berkutat pada perebutan kapling 
kekuasaan. Makanya, suasana pemilu di Aceh nantinya masih dalam tanda tanya. 

Di pihak lain, kita juga melihat pluralisme politik kini sedang berkembang 
hebat. Dan, pluralisme politik bisa dianggap potensi bagi terbukanya kehidupan 
bangsa yang makin demokratis. Sebaliknya, ia pun bisa menjadi potensi bagi 
terbitnya konflik dan disintegrasi. 

Karena itulah, secara jujur kita masyarakat Aceh ini masih mengalami double 
trauma. Yakni trauma konflik dan trauma tsunami. Dan, kita semua pastilah tak 
ingin menambah trauma baru. Untuk mengantisipasinya, terpulang pada kita semua. 
Yakni, seberapa jauh kita mampu membangun budaya demokratis yang sejati. Siapa 
pun dan kelompok manapun yang berkuasa, tidak soal. Yang penting bagaimana cara 
dan untuk apa dia berkuasa nantinya.

Kirim email ke