http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=47662&rubrik=1&kategori=1&topik=12

  
a.. 5/05/2008 09:03 WIB


Demonstran ALA Abas Terobos Istana Negara
* 10 Orang Ditangkap Polisi




JAKARTA - Nekat menerobos pagar Istana Negara, sepuluh demonstran yang 
memperjuangkan pemekaran provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) dan Aceh Barat 
Selatan (Abas), Rabu (14/5) siang ditangkap polisi dan diperiksa selama lima 
jam di Polsek Gambir, Jakarta Pusat, kemudian dilepas. Sementara itu, Ketua 
Komite Persiapan Pembentukan Provinsi ALA (KP3 ALA) Dr Rahmat Salam sesumbar 
akan meneruskan demo tersebut dan menyatakan massa ALA dan Abas kali ini bakal 
lebih memacetkan Jakarta.


Sepanjang siang kemarin, lebih dari seribu demonstran yang berasal dari 12 
kabupaten/kota yang tergabung dalam wilayah ALA dan Abas menggelar demonstrasi 
di depan Istana Negara. Mereka datang naik 22 buah bus besar dari markas 
sementara, Islamic Center Bekasi, Jawa Barat. 

Mereka mengenakan ikat kepala bertuliskan Aceh Leuser Antara dan Aceh Barat 
Selatan serta membentang beragam spanduk yang berisi tuntutan pemekaran. 

Sepuluh orang di antaranya coba menembus blokade polisi dan melompat ke halaman 
Istana Negara yang dibatasi pagar. Aparat kepolisian yang mengamankan jalan 
yang dilintasi demonstran itu otomatis tidak tinggal diam. Dengan sigap polisi 
menangkapi para pemuda yang berasal dari elemen Gerakan Pemuda Aceh Leuser 
Antara itu. Sempat terjadi aksi kejar kejaran sebelum kemudian para pemuda 
digelandang ke Polsek Gambir untuk diperiksa. Mereka adalah Zulfandiara Gayo, 
Salman Zemen, Win Arsadin Hakim, Zamzami, Sarbona, Yusra, Iskandar, Sabarudin, 
Dailami, dan Irvan Rasyid. 

Mereka ditangkap pukul 11.15 WIB. Setelah menjalani pemeriksaan kurang lebih 
lima jam, demonstran demonstran muda dari gunung Gayo itu akhirnya dilepaskan 
kemarin sore. 

Zulfandiara Gayo mengatakan mereka nekat menerobos Istana Negara untuk bertemu 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pada saat bersamaan sedang 
memimpin Sidang Kabinet Terbatas. Mereka hendak menyampaikan aspirasi pemekaran 
ALA dan Abas yang sudah diperjuangkan sejak sepuluh tahun silam. Mereka juga 
ingin Presiden SBY mendengar langsung tuntutan masyarakat yang berdiam di 
wilayah pedalaman Aceh itu. 

Risiko perjuangan 

Seorang demonstran, Irvan Rasyid, mengatakan penangkapan mereka merupakan 
bagian dari risiko perjuangan bagi terbentuknya provinsi ALA dan Abas. Selama 
ini ada kesan Presiden SBY tidak peduli dengan tuntan itu, karena hanya 
mendengar informasi dari pihak pihak yang menentang pemekaran. 

Sama sekali kami tidak pernah diberi ruang untuk menyampaikan aspirasi rakyat 
yang secara bulat menginginkan pemekaran Aceh, kata Irvan seusai menjalani 
pemeriksaan. 

Di sela sela gelora aksi, Ketua Komite Persiapan Pembentukan Provinsi ALA (KP3 
ALA) Dr Rahmat Salam dan Ketua KP3 Abas H Tjoet Agam bersama sama dengan ketua 
DPRK dari 12 kabupaten/kota diterima staf Sekretariat Presiden untuk 
menyampaikan berbagai bundel dokumen dukungan pemekaran dari Forum Komunikasi 
Kampung, DPRK, serta tanda tangan ribuan masyarakat. Dokumen itu intinya berisi 
dukungan penuh berbagai pihak di kawasan ALA dan Abas bagi terbentuknya kedua 
provinsi tersebut. 

Forum Bersama Pimpinan/Anggota DPRD Kabupaten/Kota se-ALA dan Abas itu dalam 
pernyataan sikapnya menolak Pemilihan Umum 2009 apabila RUU ALA dan Abas tidak 
disahkan. Presiden dan DPR RI didesak untuk segera menyetujui pemekaran sebagai 
solusi memperpendek rentang kendali dan mempercepat pembangunan pada kawasan 
yang selama ini dikenal sebagai Aceh marginal. 

Secara khusus DPRK wilayah Aceh Barat Selatan menyertakan dokumen yang berisi 
dukungan pembentukan provinsi Abas. Dokumen tersebut ditandatangani Pimpinan 
DPRK Aceh Barat Ramli SE, DPRK Aceh Selatan Abdul Salam, Simeulue M Hasbi, Aceh 
Jaya T Hamdani, Nagan Raya Mohd Alfatah, dan DPRK Aceh Barat Daya. Dokumen 
dukungan itu ditandatangani pada 29 Februari 2008, dengan No Surat: II/DPRK 
II/Abas/2008. Dukungan ini merupakan tindak lanjut dari dukungan sebelumnya 
yang dikeluarkan pada 22 Oktober 2003. 

Belum berhenti 

Aksi demonstrasi gabungan ALA-Abas ini belum akan berhenti. Bila Senin dan 
Selasa lalu, para demonstran menggelar aksi di depan Istana Wakil Presiden, 
Kantor Departemen Dalam Negeri (Depdagri), dan Gedung DPR/MPR, hari ini aksi 
akan dipusatkan di kawasan Patung Kuda Jalan HM Thamrin, Jakarta Pusat. Rahmat 
Salam sesumbar, kali ini massa ALA dan Abas akan (lebih) memacetkan Jakarta. (f

Kirim email ke