Wawancara dengan Pemimpin MP-GAM Eropa dr Husaini HasanMeski Terbelah Dua Kubu,
Tujuan Sama: Merdeka
Pengantar :Konflik menahun antara pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
sudah berlangsung lebih seperempat abad. Operasi militer digelar sejak tahun
1977, dilanjutkan dengan Daerah Operasi Militer 1989-1998. Menjelang digelarnya
operasi terpadu Mei ini, aktivitas GAM belum juga surut. Di sisi lain, ribuan
mil dari Nanggroe Aceh Darussalam, di Swedia GAM terbelah menjadi dua kubu.
Pertama, kubu Malik Machmud dan Zaini Abdullah. Merekalah yang sekarang
berunding dengan pemerintah di Tokyo, Jepang. Kedua, GAM dengan pimpinan
Husaini Hasan. Menariknya, walaupun masing-masing memiliki sekretariat berbeda
di Norsborg, Swedia, mereka tetap mengakui Hasan Tiro sebagai pemimpin dan
menghendaki Aceh lepas dari Indonesia. Berikut ini wawancara tertulis wartawan
SH Murizal Hamzah dengan Pimpinan MP-GAM dr Husaini Hasan di tanah
pengasingannya, Swedia. Apa kaitan antara organisasi yang Anda dirikan ini
dengan aktivitas Hasan Tiro di Stockholm? Organisasi MP-GAM (Majelis
Pemerintahan Gerakan Aceh Merdeka) adalah organisasi penyelamat GAM dan
penyelamat cita-cita perjuangan Kemerdekaan Aceh. MB-GAM (Markas Besar GAM)
adalah Kantor Pusat GAM Eropa di Stockholm, Swedia. Baik MP-GAM dan MB- GAM
tidak ada hubungan sama sekali dengan Tengku Hasan Muhammad di Tiro. MP-GAM
didirikan atas inisiatif pejuang-pejuang tua GAM (senior-senior GAM-red)
termasuk saya sendiri, Teungku M.Daud Husin (Pasi), Teungku Abdullah Krueng
Samideuen, Teungku Idris Mahmud Peunaruen, Teungku Muhammad Mahmud Peureulak,
Teuku Jalil Krueng Sabé, Teungku Sulaeman Samalanga UR, dan beberapa orang
Teungku lagi. MP-GAM didirikan sebagai satu Badan Pimpinan kolektif
pejuang-pejuang senior GAM yang setia kepada cita-cita perjuangan GAM untuk
memerdekakan Aceh dan melepaskan Aceh dari Republik Indonesia. MP-GAM dibentuk
dengan alasan untuk mengisi kevakuman kepemimpinan Wali Negara yang telah tidak
berfungsi lagi sebagaimana sewajarnya setelah mengalami stroke. Pada mulanya
MP-GAM mempunyai sekretariat di Kuala Lumpur tetapi setelah pembunuhan terhadap
Teuku Don Zulfahri, maka sekretariat dipindahkan ke Stockholm dan dipimpin
langsung oleh Dr Husaini.Jumlah komunitas Aceh di Stockholm dan sekitarnya
sekitar 100 orang. Di Stockholm kami mempunyai sebuah ”Meunasah Atjèh” yang
berfungsi sebagai tempat pertemuan masjarakat Aceh, baik dalam arti politik dan
sosial. Di samping itu meunasah Atjèh berfungsi sebagai tempat anak-anak kami
belajar Al-Quran, belajar bahasa Aceh sebagai bahasa ibu, dan belajar bahasa
Melayu.Bagaimana kisah Anda sebagai seorang dokter kandungan bisa terlibat
dalam perjuangan GAM?Kisahnya panjang. Perlu satu penulisan khusus bagaimana
liku-liku perjuangan permulaan GAM, tidak cukup untuk saya uraikan di sini.
Secara singkat dari muda lagi saya sudah berkecimpung dalam organisasi mulai
dari Pandu HW (Hizbul Wathan) semasa sekolah dasar di SD Muhammadiyah Langsa.
Kemudian Pelajar Islam Indonesia (PII) semasa SMP, SMA di Jl. Purwo Medan.
Mengikuti Workshop HMI di Indrapuri 1963, dan aktivis, dan pengurus HMI selama
mahasiswa Fakultas Kedokteran USU Medan. Aktivitas dan pengurus PERKASA
(Persatuan Kasih Sayang Aceh) bersama-sama dengan almarhum Dr Mukhtar Yahya
Hasbi.Tugas dokter tanpa gaji di Pusat BKIA Muhammadiyah Punge di Banda Aceh,
dan tugas dokter tanpa pengangkatan di RSUP Banda Aceh 1974-1975. Dokter Mobil
Oil di Lhok Sukon Landing 1975-1976. Pengalaman-pengalaman memperlihatkan
bagaimana penderitaan rakjat jelata Aceh dan bagaimana kepincangan pemerintahan
Republik Indonesia yang menghidupkan koruptor-koruptor silih berganti di segala
lapangan membuka mata saya Indonesia ini bukanlah negara dari satu Bangsa.
Tidak ada perasaan kesamaan dalam Republik ini. Orang-orang berebut mencari
kesempatan memperkaya diri tanpa ada tanggung jawab terhadap generasi
mendatang. Karena tidak ada perasaan kebangsaan terhadap bangsanya, anak
cucunya kelak. Masing-masing berpikir untuk ”suku bangsa”nja sendiri, `Jawa
berpikir untuk Jawanya, Batak untuk Bataknya, dan sebagainya. Bhinneka Tunggal
Ika, Pancasila, Sumpah pemuda semuanya semboyan-semboyan dan slogan-slogan yang
dibuat-buat yang tidak ada dasarnya, tidak ada kesan yang mendalam di hati
sanubari anak bangsa. Negara seperti ini tidak akan dapat berdiri tegak
berkepanjangan, karena dasarnya sangat rapuh, fragile. Mulai 1945 sampai
sekarang, Indonesia dapat berdiri karena pemerintahan militer. Bukan atas
pemerintahan hukum yang dihormati oleh warganya. Indonesia masih bertahan
sampai sekarang karena dukungan negara luar yang menginginkan bahan baku obral
dan senang memegang jenderal-jenderal Indonesia untuk kepentingan bahan baku
dan konsumen/pemasaran mereka. Kalau kedua faktor ini tidak ada Indonesia sudah
lama ambruk. Dari kesimpulan di atas menimbulkan sifat nasionalisme Aceh yang
sangat kuat dalam diri saya. Hal ini membangkitkan semangat Nasionalisme Aceh
dan solusi satu-satu nya untuk Aceh adalah merdeka dan melepaskan dirinya dari
Republik Indonesia dan membangun negerinya sendiri.Apakah Anda membentuk MB-GAM
karena kecewa dengan pengikut Hasan Tiro? Bukan. Kami memikirkan kelanjutan
perjuangan kemerdekaan Aceh. Perjuangan Kemerdekaan Aceh bukanlah hanya milik
Tengku Hasan di Tiro seorang, bukan pula milik Malek Mahmud atau Zaini
Abdullah, tetapi perjuangan kemerdekaan Aceh adalah milik semua bangsa Aceh.
Semua kita harus sama-sama bertanggung jawab terhadap mundur majunya perjuangan
sampai merdeka. Adalah biasa pergantian pimpinan dalam organisasi atau dalam
pemerintahan. Pada masa Wali Negara Tengku Hasan di Tiro sakit, kami senior GAM
merasa perlu untuk membentuk satu badan pimpinan kolektif untuk bersama-sama
menjalankan roda pemerintahan GAM termasuklah para menteri GAM yang masih
tinggal. Tetapi sayangnya maksud baik para senior MP-GAM tersebut tidak
disetujui oleh Malek, Zaini dan memusuhi MP-GAM.Karena mendirikan organisasi
ini, apakah Anda tidak dicap sebagai pengkhianat oleh kelompok Hasan Tiro?
Tentu saya sudah banyak melihat dan mendengar begitu banyak fitnah dan tuduhan
terhadap diri saya, keluarga saya, dan kawan-saudara saya dan atas MP-GAM.
Tidak hanya sekadar fitnah tetapi hingga pembunuhan antara lain Teuku Don
Zulfaahri, Teungku Hj.Usman, Teungku Wahab dan lain-lain di Aceh. Rujuk
kembali? Saya rasa susah sebab sudah korban darah. Bagaimana perasaan Anda
kalau ayah Anda dibunuh tanpa bersalah oleh orang yang dulunya pernah ditolong
oleh ayah Anda?Apakah dua kubu GAM di Stocholm tidak memperlemah perjuangan GAM
di Aceh dan dunia internasional?Tentu saja memperlemah. Kami sendiri tidak
menghendaki demikian. Tetapi takdir telah menimpa diri kami dan nasib bangsa
Aceh. Kami difitnah dan dianiaya oleh kawan dan bangsa sendiri. Fitnah harus
dijelaskan tidak boleh didiamkan, rusaknya akan lebih besar dan berkepanjangan.
Orang yang mendiamkan fitnah sama dengan membenarkan dan menyebarkannya,
dosanya adalah dosa besar. Apakah Anda masih memperjuangkan Aceh untuk lepas
dari Indonesia? Masih seperti semula. Tidak pernah berubah. Kami mempunyai
program bertingkat-tingkat. Perjuangan ini dilanjutkan turun temurun dari
generasi ke generasi. Yang sangat perlu kita lakukan pada masa ini adalah
konsolidasi dan perpaduan kekuatan dari segenap lapisan masyarakat Aceh di
dalam dan di luar negeri. Apakah Anda masih menganggap Hasan Tiro sebagai
pemimpin GAM? Bagaimanapun Tengku Hasan di Tiro adalah Pemimpin Besar GAM.
Proklamator GAM, membuka mata Aceh sebagai suatu bangsa. Tulisannya ”Aceh bak
Mata Donja” adalah salah satu pedoman ciri-ciri Nasionalisme Aceh. Bukunya yang
bertajuk The Legal Status of Acheh in the International Law baik dibaca untuk
dasar-dasar Hukum Kemerdekaan Aceh. Tetapi yang saya sesalkan banyak orang kita
yang terlalu fanatik terhadap sosok atau figur. Taqlid buta, fanatik, inilah
sifat-sifat kita yang membutakan mata kita sehingga tidak dapat berpikir cerah.
Perjuangan hancur bila sosok atau figur tersebut hilang. Yang lebih penting
bukanlah figur tetapi ideologi. Ideologi yang sudah tertanam dalam masyarakat
akan tinggal meskipun figur-figur pemimpin hilang silih berganti. Ideologi
merdeka yang saya tanamkan ke dada setiap bangsa Aceh selama saya menjabat
Menteri Pendidikan dan Penerangan GAM akan tetap menyala di dalam dada orang
Aceh, selama mereka masih menyadari dirinya sebagai bangsa Aceh bukan sebagai
bangsa Indonesia. Amri bin Abdul, anggota juru runding GAM di Aceh menyerahkan
dirikepada Indonesia dengan alasan perjuangan GAM itu mustahil merdeka, apakah
Anda menilai, peristiwa ini bisa melemahkan perjuangan GAM di lapangan? Amri
bukan orang pertama yang menyerahkan diri kepada musuh. Perjuangan masa kami
tahun 1976-1979 lebih pahit. Lapar berhari-hari. Kekurangan makanan kekurangan
senjata, tetapi perjuangan ini telah berjalan 27 tahun. Telah banyak kemajuan
yang dicapai. Tujuan perjuangan semua orang Aceh sudah maklum dibandingkan
dengan masa kita mula-mula bergerak 1976. Perjuangan diplomasi jauh ke depan
dibandingkan dengan perjuang DI-TII. Perlengkapan jauh lebih baik meskipun
belum sempurna. Ekonomi musuh lebih ambruk dibandingkan dengan masa lalu.
Kegagalan kita yang mutlak adalah kita belum dapat mengkoordinasikan massa dan
mengefisienkan tenaga yang ada. Terlampau sombong dengan kemajuan yang dicapai
sehingga lupa daratan. Tidak mengenal kawan dan lawan.Mengapa seorang anggota
GAM bisa menyerah kepada Indonesia?Tergantung apa tujuannya bergabung dengan
GAM. Dan bagaimana ketahanan mentalitasnya. Serta bagaimana kondisi dan
posisinya sewaktu dia menyerah. Orang yang kuat ideologinya lebih tahan
menderita daripada orang yang ikut-ikutan.Jika mayoritas anggota juru runding
GAM dan gerilyawan GAM menyerah, bukankah perjuangan GAM sudah selesai dengan
sendirinya?Ya. Kalau tujuan GAM itu hanya berunding, tentu kalau tidak ada
perundingnya ya, selesai. Tapi kalau menyerah belum tentu selesai, mungkin
istirahat sebentar nanti sambung lagi, kan bisa juga.Bagaimana Anda menyikapi
kehadiran HDC di Aceh dalam memfasilitasi dialog damai RI-GAM? Sayangnya HDC
salah tunggang kuda. Menganggap masalah Aceh selesai kalau GAM bisa dipegang.
Rupanya GAM macam belut. Dipegang ekornya kepalanya mabuk. Konflik Aceh kan
bukan konflik GAM dengan RI. Kan konflik seluruh rakyat Aceh dengan RI. Kalau
RI minta otonomi dan GAM minta merdeka, HDC boleh mengusulkan referendum
sebagai jalan tengah.Apakah Anda melihat peluang konflik Aceh difasilitasi oleh
ulama di Indonesia atau oleh OKI? Boleh saja. dan bagus sekali. Tapi bagaiamana
ulama bisa mengusulkan solusi yang netral atau yang melawan dengan kehendak RI
tentu semuanya ditangkap. Indonesia maunya Aceh tetap dibawah telapak kaki
Jakarta, titik, habis.Jika rakyat Aceh sudah menikmati kemakmuran dalam
Indonesia, apakah perjuangan GAM masih dilanjutkan? Kalaulah pencuri telah
menduduki rumahku apakah aku masih bebas menghuni rumahku? Dan apakah aku masih
bebas untuk memakai kata kepunyaanku. Yang dikehendaki GAM di Aceh:
MerdekaApakah Anda menyadari, aksi GAM yang dikendalikan dari Stockholm
menyebabkan penderitaan rakyat di Aceh? jJika tidak ada pemberontakan di Aceh,
maka tidak dikirim prajurit TNI dan Polri ke Aceh sehingga tidak menimbulkan
pelanggaran HAM.Pelanggaran HAM oleh TNI dan Polri tidak ada sangkut paut
dengan GAM. Kalau yang salah GAM mengapa rakyat yang harus ditindas. Carilah
GAM. GAM hanya segelintir golongan yang berusaha melawan mereka dengan segala
macam cara dan taktik. ***
Copyright © Sinar Harapan 2003
_________________________________________________________________
Never miss another e-mail with Hotmail on your mobile.
http://www.livelife.ninemsn.com.au/article.aspx?id=343869