http://www.sinarharapan.co.id/berita/0805/31/sh03.html


Menanti Kiprah Partai Perempuan Aceh   
Oleh
Jufrizal

SENIN siang itu, 17 Maret 2008, saya sempat beberapa kali mondar-mandir dengan 
sepeda motor di Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Peunayong, Banda Aceh. Mata saya 
mengamati tiap plang atau papan nama di sepanjang sisi jalan.

"PARA", hanya huruf-huruf itu yang terpampang di penunjuk arah. Sekitar 20 
meter dari situ, berjajar rumah-rumah toko atau ruko. Ruko tersebut berlantai 
dua. Di ruang muka, di lantai bawah, hanya ada seperangkat meja dan kursi tamu. 
Tak terlihat lemari atau brankas dalam ruangan, seperti layaknya sebuah kantor. 
Ketika saya mengucap salam, terdengar balasan dari lantai atas.

Suasana kantor cukup terasa di lantai ini. Kliping-kliping suratkabar lokal dan 
nasional ditempel di papan informasi. Di papan yang sama juga ditempel sehelai 
kertas yang berisi bait-bait mirip puisi, yang ternyata mars PARA atau Partai 
Aliansi Rakyat Aceh Peduli Perempuan.

Perempuan bukan sekedar pelengkap
Tapi ia juga pejuang
Perempuan bukan hanya sekedar nama
Ia harus ikut menentukan kejayaan
Negaranya

Jangan abaikan suara perempuan
Dalam percaturan politik bangsa
Perempuan itu tiang negara
Beri kesempatan yang sama

Nurjannah menyambut kedatangan saya. Penampilannya sederhana, umurnya sekitar 
40-an. Logat Acehnya kental ketika bicara bahasa Indonesia. Ia sekretaris 
jenderal Dewan Pimpinan Pusat PARA. Ia mantan Kepala Pemberdayaan Perempuan di 
pemerintahan Kabupaten Pidie. Nurjannah tertarik bergabung dengan PARA, karena 
menyaksikan bahwa kaum perempuan masih terpinggirkan di dunia politik.
"Keterlibatan perempuan dalam politik sangat minim dibandingkan dengan kaum 
laki-laki. Karena itu pengurus PARA, 70 persen didominasi kaum hawa dan 30 
persen kaum adam," katanya.

Zulhafah Luthfi, Ketua Umum PARA, yang saya tunggu sedari tadi akhirnya muncul. 
Kerudung warna mirabella atau merah jambu pekat menutupi kepalanya, membingkai 
wajah bulatnya. Zulhafah kelahiran Lhokseumawe, hampir 57 tahun silam. Ia 
memiliki tiga anak; satu laki-laki, dua perempuan. Sebagaimana suaminya, Luthfi 
Helmi, ia juga seorang dokter.

Menurut Zulhafah, PARA peduli terhadap masalah dalam keluarga, pendidikan, 
trauma psikologi pascakonflik serta pascatsunami, dan pelestarian budaya Aceh.
''PARA bukan hanya memikirkan permasalahan perempuan, tapi permasalahan yang 
dihadapi keseluruhan masyarakat Aceh," ujarnya.

Kapok dengan Partai Nasional 
Sekarang PARA punya cabang di 14 kabupaten dan kota, dan di 57 kecamatan yang 
tersebar di seluruh Aceh.

Kini proses verifikasi PARA oleh kantor wilayah departemen Hukum dan Hak Asasi 
Manusia di Aceh memasuki tahap akhir, yakni peninjauan akan keberadaan PARA di 
setiap kabupaten atau kota di Aceh. Bila lulus, PARA berhak memeriahkan 
pemilihan umum legislatif di Aceh tahun depan.
Kesepakatan damai antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada 
Agustus 2005 lalu telah melahirkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh nomor 11 
tahun 2006 atau populer disebut UU PA. Pasal sebelas undang-undang ini 
menjelaskan bahwa masyarakat Aceh diberi keleluasan dalam berserikat dengan 
membentuk partai lokal. Aceh pun jadi provinsi pertama yang diberikan kebebasan 
oleh pemerintah untuk mendirikan partai lokal.

PARA lahir dari legitimasi tersebut dan mengusung empat misi. Misi itu meliputi 
pemberdayaan perempuan di segala bidang, pendidikan politik untuk perempuan, 
penyadaran dan advokasi terhadap hak-hak politik perempuan, dan mewujudkan 
keterwakilan perempuan di lembaga terendah maupun tertinggi dalam posisi 
penentu serta pengambil keputusan.

Partai ini dideklarasikan pada 20 Mei 2007, setelah para pendirinya sepakat 
menunjuk Zulhafah Luthfi sebagai ketua umum.
Oh, ya, dengan partai nasional mana PARA akan bersanding untuk memperoleh kursi 
di parlemen pusat nanti? "Sejauh ini belum ada, PARA hanya ingin menyampaikan 
aspirasi perempuan, khususnya perempuan Aceh. PARA tidak menginginkan jabatan," 
kata Zulhafah.

Namun, Agus Miati Khatijah, Ketua Dewan Perwakilan Daerah PARA Aceh Besar, 
punya jawaban yang lebih tegas lagi tentang partai nasional. "Saya sudah kapok 
membantu partai-partai nasional dulunya. Mereka sudah memiliki kekuasaan. 
Cita-cita atau janji yang disampaikan kandas begitu saja," katanya, dalam 
sebuah wawancara dengan saya. Namun, belum banyak perempuan Aceh yang 
mengetahui keberadaan PARA. "PARA, peu partai nyan (partai apa itu)? tanya 
Fatmayani, seorang warga Meureudu, Pidie Jaya
"Nyoe kana partai perempuan, tapileh partai perempuan mantong (kalau sudah ada 
partai perempuan, milih partai perempuan saja)," lanjutnya, tersenyum.

Di sebuah warung kopi yang berada di pinggir jalan Dayah U Paneuk, Meureudu, 
ramai anak muda minum kopi sambil membaca koran. Zainuddin Umar Yusuf, termasuk 
di antara mereka itu. Ia sibuk menyimak lembaran-lembaran koran yang berserak 
di atas meja. Perawakannya kecil. Puntung rokoknya yang hampir jatuh tak 
disadarinya, karena terlalu asyik membaca.

"Get that nyan meunyoe kana partai perempuan, tinggai geutanyoe ureung agam ta 
peudong partai ureng agam (Bagus kali kalau sudah berdiri partai perempuan, 
tinggal kita kaum laki mendirikan partai lelaki)," ujarnya, tertawa.

Penulis adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Banda Aceh.
 

Kirim email ke