http://www.waspada.co.id/Berita/Aceh/Anggota-KPA-em-Bogem-em-Staf-PKS.html
               
  Sabtu, 12 Juli 2008 08:18 WIB 
    Anggota KPA Bogem Staf PKS                  

(SIGLI) - Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kab, Pidie Jaya dan 
Pemilihan Umum (Pemilu) 2009, aksi intimidasi makin marak di daerah itu. 

Seorang staf Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPD Pidie Jaya dibogem oknum 
anggota Komite Peralihan Aceh (KPA), Kamis (10/7) sekira pukul 23:30. Tindakan 
intimidasi lainnya juga ditujukan terhadap salah seorang Anggota Dewan 
Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Pidie Jaya dalam bentuk pengutipan liar oleh 
oknum anggota KPA. 

Informasi yang diperoleh Waspada, Jumat, (11/7) di Meureudu, disebutkan aksi 
pemukulan terhadap seorang staf PKS itu disebabkan pendirian kantor DPD PKS 
sangat strategis karena terletak persis di sisi jalan lintasan Medan-Banda 
Aceh, Simpang Empat, Kec. Meurah Dua, Pidie Jaya. 

Ketua DPD PKS Pidie Jaya Munirwan kepada Waspada, Jumat (11/7) membenarkan, 
pihaknya mendapat intimidasi berupa pengutipan liar berujung pemukulan terhadap 
staf DPD PKS Pidie Jaya dan pengutipan liar terhadap salah seorang anggota DPRK 
Pidie Jaya dari Fraksi PKS yang dilakukan oknum anggota KPA berinisial MN. 

Ia mengungkapkan, peristiwa pemukulan terhadap staf PKS terjadi akibat salah 
seorang anggota DPRK Pidie Jaya tidak memberikan uang kepada oknum anggota KPA 
Meureudu tersebut. Lalu, malam harinya datang dua pemuda warga Simpang Empat. 
Kehadiran dua pemuda tersebut disambut baik oleh Zulfikar yang merupakan staf 
PKS. Dalam percakapan dengan staf PKS itu kedua pemuda melayangkan sejumlah 
pertanyaan yang tidak masuk akal. 

Salah satunya mempertanyakan kenapa PKS memindahkan kantornya ke Simpang Empat, 
Meurah Dua. Lalu kedua pemuda tersebut meminta Zulfikar masuk ke dalam took. 
“Saat di dalam toko itu lah Zulfikar dibogem kedua pemuda tersebut. Ia dipukul 
di bagian perut, pipi dan wajah hingga tersungkur,” tandas Munirwan. 

Kejadian tersebut menyebabkan warga tambah resah dan takut mendapat perlakuan 
serupa dari oknum-oknum kader partai politik dan pendukungnya. Lebih lagi, 
menjelang pemilihan bupati dan wakil bupati Pidie Jaya, pertama setelah tahun 
lalu daerah itu dimekarkan dari Kab. Pidie. 

Informasi yang diperoleh, intimidasi tidak hanya berlaku terhadap warga biasa 
dan partai-partai lainnya, tetapi aksi tidak sportif tersebut juga ditujukan 
terhadap wartawan di daerah itu. Sehingga, informasi terhadap proses kesiapan 
pelaksanaan pemilihan bupati dan wakil bupati di Kab. Pidie Jaya sangat 
tertutup. 

Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pidie, Tgk. Sarjani Abdullah, kepada 
Waspada menyebutkan belum mengetahui pasti terkait isu tersebut. Pihaknya masih 
melakukan penyelidikan terhadap kebenaran informasi itu. “Kita belum mengetahui 
secara pasti apa benar ada insiden itu. Sekarang dalam penyelidikan, apa yang 
sebenarnya terjadi,” kata Sarjani. 

Ia menyebutkan, jika benar pihaknya melakukan tindakan tersebut, pimpinan KPA 
tidak mentolerir adanya tindakan seperti itu. Bahkan ia berjanji, jika benar ia 
dan pimpinan KPA akan menindak tegas oknum anggota KPA yang bertindak tidak 
terpuji itu. 

Terkait intimidasi yang belakangan ini kerap terjadi menjelang Pemilu dan 
Pilkada di Pidie Jaya, pihaknya membantah melakukan intimidasi terhadap 
parpol-parpol lain. Bahkan Sarjani mengaku beberapa waktu lalu anggota Polres 
Pidie telah melakukan intimidasi terhadap partai yang dipimpinnya, yaitu Partai 
Aceh (PA). 

"Kami dari PA tidak pernah melakukan intimidasi terhadap partai lain. Malah 
kami yang diintimidasi polisi dengan cara meminta umbul-umbul partai kami 
diturunkan. Alasan mereka umbul-umbul partai kami itu mirip bendera GAM,” 
ungkap Sarjani. 

Ia menyebutkan, partai PA telah lulus verifikasi dan telah disahkan oleh 
Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia. "Partai kami sah. Malah telah lulus 
verifikasi. Lalu kenapa harus diminta turunkan. Anehnya lagi pada saat diminta 
menurunkan umbul-umbul kami, polisi tidak membawa surat perintah dari 
pimpinannya,” tandas Sarjani.

Sedangkan komentar anggota DPRRI asal Aceh, Nasir Djamil, S.Ag, “Saya 
menyayangkan kejadian tersebut di tengah upaya kita menjaga perdamaian, masih 
ada praktek kekerasan, kejadian ini tidak sejalan dengan semangat MoU 
Helsinki”. 

Saya menyarankan agar hal itu diselesaikan secara adat. “Jangan-jangan ini 
kerjaan provokator untuk menjalankan agenda politik adu domba antar partai 
nasional dan lokal. Kita harus waspada,” tegas Nasir Djamil yang dihubungi 
Waspada tadi malam.(b02)
(ags)



       

Kirim email ke