----- Original Message -----
From: Din Saja
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Sunday, August 03, 2008 2:55 PM
Subject: Re: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh
Pak Tabrani Yunis,
Semoga Anda selalu dalam keadaan sehat lahir dan batin.
Saya kagum dengan cara Anda memandang, tentang apa saja. Bahkan Anda
begitu giat "membangun" kaum perempuan di Aceh.
Namun untuk pendapat Anda seperti, Oleh sebab itu, selayaknya Jakarta
juga merubah mindset. Bisa melihat Aceh secara rasional, bukan secara emosional
dan bersikap paranoid. Saya berpikir tidak sebagaimana yang Anda katakan itu.
Justru saya memandang bahwa Jakarta, entah siapakah yang dimaksud dengan
Jakarta itu, tidaklah sebagaimana yang dibayangkan selama ini. Saya hanya
berpikir "positif", bahwa siapapun Jakarta itu pastilah punya nurani dan
memandang semua manusia itu pasti punya tujuan untuk selalu berbuat baik.
Dengan begitu banyaknya (orang-orang) Jakarta datang dan membantu, baik itu
tenaga, pikiran, juga uang, itu menandakan bahwa mereka juga punya sifat yang
baik. Itu hanya pandangan saya kok. Anda punya pandangan sebagaimana dikatakan
itu, baik saya sah-sah saja. Saleum hormat untuk Anda.
--- On Sat, 8/2/08, CCDE Banda Aceh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: CCDE Banda Aceh <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [media-aceh] Membangun Demokrasi Gaya Aceh
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Saturday, August 2, 2008, 10:52 PM
Rekan-Rekan Yth,
Perubahan Politik di Aceh saat ini saya lihat sebagai sebuah perubahan
yang strategis bagi kehidupan kita di Indonesia. saya melihat paling
tidak, pembangunan demokrasi di Aceh saat ini bisa kita jadikan
sebagai laboratorium politik bagi Indonesia. Oleh sebab itu,
selayaknya Jakarta juga merubah mindset. Bisa melihat Aceh secara
rasional, bukan secara emosional dan bersikap paranoid.
Saat ini rakyat Aceh sedang belajar menikmati damai yang sedang
bersemi di Aceh. Semoga suasana hiruk pikuk pertarungan politik di
Indonesia dan Aceh tidak mengembalikan Aceh ke suasana konflik yang
memilukan.
salam damai
Tabrani Yunis
On 8/1/08, tossi20 <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
>
>
>
>
>
>
>
> http://www.ranesi. nl/arsipaktua/ indonesia060905/ demokrasi_
gaya_aceh2008080 1
>
>
>
> Membangun Demokrasi Gaya Aceh
>
>
>
> Radio Nederland Wereldomroep - Aboeprijadi Santoso 01-08-2008
>
> Membangun Demokrasi Gaya Aceh
>
>
>
> Partai-partai lokal Aceh dalam waktu dekat akan mengumumkan para calon
> legislatifnya. Para caleg baru dari enam parlok akan bertanding
dengan caleg
> 39 partai nasional yang terwakili di Aceh. Golput, juga partai partai
> nasional, besar kemungkinan tak akan laku. Sebab, inilah pertama kali
Aceh
> akan memilih parlemen dan pemerintahan sendiri. Sejumlah parlok
bertekad
> membangun demokrasi dari bawah dan menjauhi politik premanismenya
partai
> partai nasional.
>
>
>
>
>
> Ketika Ketua Delegasi RI Hamid Awaluddin berjalan di tepi sungai di
belakang
> rumah perisitirahatan di Vantaa, di pinggir Helsinki pada Juli 2005,
Ketua
> Delegasi Gerakan Aceh Merdeka GAM Malik Mahmud menangis. Dia
mengimbau agar
> Aceh diizinkan punya partai lokal. GAM bersedia melepas tuntutan
> kemerdekaan, tapi biarkan Aceh memiliki "kendaraan sendiri." Demikian
desak
> Malik seperi diceritakan Hamid dalam bukunya Damai di Aceh. Malik
mendapat
> dukungan Marttii Ahtisaari, mantan Presiden Finlandia dan mediator
yang
> berwibawa itu.
>
>
>
> Sebaliknya, Hamid hampir putus asa karena justru parlok itulah yang
> pagi-pagi telah ditolak Jakarta dan membuat perundingan terancam
gagal.
> "Pokoknya, Mbang, nggak ada cerita partai lokal!" begitu pesan
Presiden
> Susilo Bambang Yudhoyono kepada Mayjen Bambang Dharmono kala itu. SBY
konon
> sampai mengirim fax sebelas kali berisi penolakan, koreksi dan
kompromi,
> khusus tentang parlok. SBY, Wapres Jusuf Kalla, si perintis
perdamaian, dan
> Hamid Awaluddin akhirnya mendapat penegasan Ketua Mahkamah Agung
Bagir Manan
> bahwa partai lokal tidak dengan sendirinya bertentangan dengan
konstitusi.
> Akhirnya, Jakarta setuju dan gol lah tuntutan parlok tsb dalam MoU
Helsinki.
>
>
>
> Cerita itu menunjukkan betapa Jakarta cemas dan curiga terhadap
itikad GAM
> melalui parlok. Kini, tiga tahun kemudian, kekhawatiran Jakarta
terhadap
> parlok sebagai kendaraan untuk referendum Aceh, masih kuat, terutama
di
> Cilangkap dan Senayan. Tapi TNI dan DPR harus mengakui, aspirasi
parlok itu
> telah meluas di Aceh, tidak hanya di kalangan GAM. Dan GAM, melalui
sosok
> barunya, Partai Aceh, pun siap memetik buah dari legitimasi yang
ditanamnya
> di Helsinki.
>
>
>
> Kuatnya aspirasi lokal di Aceh kini tampak dari cara cara parlok Aceh
> menanggapi isu golput dan menyiapkan para calegnya. Berikut suara
wakil
> parlok-parlok Aceh dalam temu wicara dengan KBR Antero belum lama
lalu.
>
>
>
> Soal golput
> Kecenderungan golput itu ketika rakyat tidak melihat akan ada
alternatif.
> Ketika rakyat tidak melihat akan ada jalan keluar, ada perubahan.
Sekali
> lagi saya tegaskan mari kemudian kita memberi jalan keluar kepada
rakyat.
>
> Sulit membayangkan Golput akan bergaung seperti di Jawa Timur ketika
Aceh
> memanfaatkan peluang untuk membuka halaman baru provinsi yang merasa
pernah
> dizalimi Jakarta ini.
>
>
>
> Soal perubahan
> Rakyat Aceh ini adalah pemilih yang cerdas. Ketika yang lama dilihat
sudah
> tidak bisa dipakai lagi, dia akan memilih yang baru. Setiap yang baru
adalah
> perubahan, adalah harapan dan inilah yang kemudian yang harus kita
yakini
> sebagai sebuah perubahan yang akan terjadi di Aceh dan tetap menjaga
> perdamaian dengan MoU.
>
> Juga cara cara menyiapkan calon calon legislatif, atau caleg,
mencerminkan
> aspirasi membangun politik demokrasi dari bawah
>
>
>
> Soal caleg
> Caleg-caleg era ini dites, diuji, diusulkan oleh mereka. Memperkuat
kwalitas
> dengan memberikan pemahaman-pemahaman . Dan kita memberikan kontrak
politik,
> supaya caleg kita ini tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dari
> partai-partail nasional yang lama.
>
> Kami menjaring dari tokoh-tokoh yang tumbuh dalam masyarakat, sehingga
> mereka betul-betul terwakilkan dari masyarakat. Jadi dengan demikian
mereka
> sendiri yang memilih utusan yang dikirim dari wilayah kepada pusat.
Kami
> mencoba mengaplikasi persentase itu 30% untuk orang GAM, apakah dia
kombatan
> atau bukan, kemudian 30% untuk wanita, selebihnya itu untuk
masyarakat dan
> ulama.
>
> Kemudian kriteria yang paling penting adalah taat dan setia kepada
partai.
> Yang kedua profesionalisme, yang ketiga akhlak-ulkarimah. Yang keempat
> setiap figur yang dicalonkan menjadi teladan bagi rakyat itu sendiri.
Dia
> menampung aspirasi rakyat, mereka dapat membaca Al-Quran dan
berpidato.
>
>
>
>
>
> Menurut sebuah sumber dari luar Partai Aceh yang merupakan sosok baru
GAM,
> sebagian besar dari 17 mantan Panglima Wilayah dan ratusan Panglima
Sago
> akan duduk dalam kepengurusan partai di daerah, tapi tidak harus
menjadi
> caleg. Para caleg akan diserap dari anggota-anggota partai melalui
> pendidikan politik dari desa ke desa.
>
>
>
> Sementara itu, banyak petinggi GAM menjadi elit baru yang merambah
> keuntungan politik dan bisnis. Ketua Majelis GAM, Tengku Mohammad
Usman
> Lampoh Awe, kepada Radio Nederland Wereldomroep, belum lama lalu
> mengibaratkan GAM seperti kapal yang harus tetap menuju tujuan ketika
kapal
> tersebut tengah oleng.
>
>
>
> Tengku Mohammad Usman Lampoh Awe: Kapten ini melihat kapal kecil ada
ombak
> dari depan, ada angin dari samping dia ribut di belakang. Bawa bukan
ke
> sana, kapten yang benar nggak perlu tahu itu, omongan protes dan
sebagainya.
> Ini nggak demokrasi itu, nggak ada demokrasi di laut nih. Kapten
punya hak,
> dua kali lagi ribut, tolak dia ke laut. Itu hukum dari nabi Yunus
sudah ada
> dulu. Kita jalan terus lemparkan pelampung, nanti kalau dia masih
selamat
> kita ambil. Kapal jalan terus
>
> ...
>
>
--
============ ========= =======
Center for Community Development and Education (CCDE)
Jl. Tgk.Chik Lr. E.No.18 Beurawe
PO. Box 141 Banda Aceh 23001
Indonesia
Telp. +62 651 7428446
Email. [EMAIL PROTECTED] com
Web : www.ccde.or. id