----- Original Message ----- From: Zulfikar Akbar To: [EMAIL PROTECTED] Cc: Cefil 19 ; milis IAIN ; milist media Sent: Wednesday, August 13, 2008 10:09 AM Subject: [media-aceh] Agustus, Orasi Anak-anak Gelandangan
Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiri saja menunggu teman yang sedang belanja di salah satu swalayan di Meulaboh. Pandanganku tertuju pada satu objek yang ‘menarik’, menyentuh. Beberapa anak-anak dengan baju lusuh, kumal dan terlihat daki cukup kentara di seluruh pakaiannya. Berlarian di depan swalayan tidak jauh dari posisiku yang nyander diatas motor. Tidak terlihat sedih di wajah mereka, tidak ada muram, yang tertangkap olehku adalah mereka cukup menikmati kondisi mereka. Oops, tidak terhenti disitu. Sebuah perubahan ekspresi terjadi ketika seorang anak lainnya yang turun dari sebuah mobil mewah dituntun seorang bapak yang saya yakin adalah ayah si anak menuju cafe yang bersebelahan dengan swalayan ini. Pandangan anak-anak berbaju lusuh dan kumal itu hampir semua tertuju kesana. Saya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak yang hidup dan mencari kehidupan dijalanan ini,”andai saja aku memiliki orang tua seperti anak itu, pasti aku tidak harus bersahabat dengan debu seperti yang aku jalani ini”. Aku tatap lamat dan dalam ekspresi iri anak-anak jalanan ini, gurat cerianya seperti telah larut kedalam pikirannya yang mungkin lebih dalam dari yang bisa kuterka saat itu. Ini adalah potret kota. Tapi nurani takkan berhenti berbicara atas semua gurat gundah anak-anak ini. Ah, negeriku sebenarnya sudah cukup dewasa secara usia. Akankan pertambahan usia negeriku semakin meningkatkan kepedulian bangsanya pada nasib anak-anak itu. Apakah bangsaku hanya bisa berujar singkat dengan pemandangan ini yang memang tertulis di semua kanvas wajah kota,”kasihan”. Sebab, sekedar kasihan takkan mengeyangkan perut-perut mereka. Untai kata kasihan itu takkan membuat anak-anak ini cerdas dan kemudian saat mereka dewasa akan melahirkan generasi yang lebih cerdas. Mereka akan juga melahirkan generasi lemah kelak, 20 tahun yang akan datang. Berapa banyak sudah nurani terketuk dengan pemandangan ini, semoga takkan ada lagi anak bangsa yang sedang berkehidupan lebih baik mengelak dari tanggung jawab ini. Semoga. Meulaboh, 13 Aug 2008 Adapted from: http://ficklaotze.wordpress.com
