http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pejuang_aceh_betah080901

Pejuang Aceh Masih Betah di Luar Negeri
Radio Nederland Wereldomroep

01-09-2008

 Mukarrram dari WAA 


Langkah Pansus XI DPR Aceh menghadap ketua GAM di Swedia Tengku Hasan Muhammad 
di Tiro di Swedia tentang Qanun Aceh, oleh World Acehnese Association WAA 
dianggap sebagai penghamburan uang rakyat Aceh. Selain itu menurut WAA, 
sepatutnya DPR Aceh mengerti aturan protokoler karena Tengku Muhammad Hasan di 
Tiro adalah ketua GAM. Namun apakah ketua GAM mewakili seluruh rakyat Aceh? Dan 
mengapa wakil-wakil pejuang Aceh tetap tinggal di luar negeri sementara rakyat 
Aceh membutuhkannya? Ikuti penjelasan Mukarram dari World Acehnese Association 
di Denmark kepada Radio Nederland Wereldomroep: 

Mukarram [MK]: Saya maksudkan adalah rakyat Aceh yang di Aceh. Para organisasi, 
lembaga dan LSM di Aceh mereka juga buat pernyataan tidak mendukung kepergian 
Dewan Perwakilan Rakyat Aceh atau disebut dengan DPRA ke luar negeri untuk 
berjumpa dengan wali nanggroe sebanyak itu. Dan mereka menghabiskan uang yang 
sangat banyak. Padahal di Aceh baru selesai dengan perjanjian damai, karena 
dahulu ada konflik. Kemudian baru selesai dengan tsunami. Dewan Perwakilan 
Rakyat Aceh atau DPRA sekarang di Aceh yang diwakili oleh partai-partai 
nasional, karena partai lokal baru saja disyahkan qanun nya. Saya pikir mereka 
terlalu berfoya-foya dengan uang rakyat Aceh. 

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Tapi banyak juga dari sebagian rakyat Aceh 
ini yang mendukung kerja Pansus ini? 

MK: Mendukung tapi tidak dengan cara menghambur-hamburkan uang rakyat Aceh. 
Kenapa mereka harus pergi sebanyak itu? Ini kan tidak diinginkan oleh rakyat 
Aceh. 

Wali seluruh rakyat Aceh
RNW: Dalam pernyataan, Anda mengatakan bahwa Pansus XI harus mengerti aturan 
protokeler dalam sebuah kunjungan. Ini maksudnya aturan protokoler apa? Apakah 
Tengku Mohammad Hasan di Tiro ini anda anggap sebagai pemimpin resmi, sehingga 
memerlukan protokoler seperti ini? 

MK: Saya pikir kita orang Acehnese Association bahkan masyarakat Aceh sedunia 
dan juga masyarakat di Aceh dan juga DPR sendiri mengakui bahwa mereka adalah 
wali rakyat Aceh bukan wali GAM tetapi wali seluruh rakyat Aceh. 

RNW: Bapak Muhammad di Tiro ini kan sebagai ketua GAM dan ini hanya sedikit 
mewakili rakyat Aceh tidak mewakili rakyat Aceh secara keseluruhan. Bukankah 
begitu, Pak? 

MK: Tidak saya pikir Tengku Mohammad Hasan di Tiro diakui oleh seluruh rakyat 
Aceh baik mereka petani, nelayan, pedagang, GAM dan juga lain sebagainya. Saya 
pikir mengakui bahwa Hasan di Tiro adalah wali seluruh rakyat Aceh atau 
pemimpin seluruh rakyat Aceh. 

RNW: Ada juga yang mendukung DPRA ini, berarti GAM tidak mewakili seluruh 
rakyat Aceh? 

MK: Ya pada prinsipnya tentu sudah secara tidak langsung sudah mengakui bahwa 
GAM sudah mewakli rakyat Aceh. Terutama sekali dengan pengakuan rakyat Aceh 
terhadap Tengku Mohammad Hasan di Tiro itu sebagai pemimpin seluruh rakyat 
Aceh. 

RNW: Bukankah ada gubernur Irwandi Yusuf sebagai pemimpin resminya? 

MK: Ya itu ada garis-garis tertentu yang membedakan wali nanggroe dan gubernur 
Irwandi Yusuf. Nah ini adalah yang jadi perdebatan hangat di berbagai kalangan 
di Aceh. 

Masih betah
RNW: Tapi mengapa Anda sendiri masih tinggal di luar negeri, Pak? Bukankah 
sekarang sudah saatnya untuk kembali ke Aceh? 

MK: Ya saya pikir itu juga hal yang baik. Jadi tidak semestinya membangun 
proses damai atau mengukuhkan proses damai atau membangun Aceh dengan mestinya 
harus tinggal di Aceh. Tidak salahnya dengan kita berada di luar negeri. Namun 
kita tetap konsisten membangun proses perdamaian Aceh. Membangun Aceh, 
mendukung kerja-kerja rakyat Aceh demi hidup yang lebih sejahtera. 

RNW: Apa yang ditunggu oleh Anda untuk kembali ke Aceh? 

MK: Tidak ditunggu tapi bekerja untuk Aceh di luar negeri dan juga di dalam 
negeri tidak jauh bedanya. 

RNW: Tapi bukankah lebih banyak manfaatnya kalau Anda sekalian kembali ke Aceh, 
Pak? 

MK: Ada sesuatu yang lebih banyak manfaatnya kalau tinggal di Aceh tapi lebih 
banyak manfaatnya kalau tinggal di luar negeri. Itu tergantung dari sisi 
masing-masing. 

RNW: Apa manfaatnya kalau tinggal di luar negeri? Bukannya kalau dari kejauhan 
Anda tidak bisa membangun dengan nyata? 

MK: Tidak misalnya kami dari World Acehnese Association ataupun kami dari 
masyarakat Aceh di luar negeri sini boleh melakukan hal-hal yang lebih baik 
demi proses kemajuan di Aceh. Misalnya kami rajin membuat surat kepada parlemen 
Eropa dan kepada negara-negara dunia terus mendukung proses perdamaian di Aceh. 


Kata Kunci: Aceh 


<<MP3.gif>>

Attachment: 14856801
Description: Binary data

<<envelope.gif>>

Kirim email ke