Rupanya para peneliti melakukan penyelidikan di awan-awan. Bukankah yang 
namanya Indonesia sekarang adalah neo-Mojopahit. Lihat saja pada  lambang 
Garuda diambil dari mitologi zaman Mojopahit, benderah putih merah pun dari 
zaman tsb. Penguasa NKRI di segala bidang dan tingkat adalah keturunan 
Mojopahit.  Bukankah para petinggi negara neo Mojopahit juga mempraktekan apa 
yang dilakukan pada zaman Mojopahit dahulu, yaitu mewarisi kekuasaan kepada 
turun temurun. 

Politik zaman kerajaan  dulukala bersifat feodal. Terhadap daerah-daerah yang 
dikuasai dilakukan "devide et impera", yaitu region atau daeah dibagi-bagi 
sekeli mungkin dengan alasan untuk kelancaran adminstrasi, istilah 
neo-Mojopahit ialah "pemekaran".   Bagus kalau benar-benar mekar untuk 
kepenting perbaikan hidup rakyat setempat, tetapi bukan  itu maksudnya  untuk 
memekarkan daerah, tetapi target utama ialah upeti kepada kaum berkuasa di 
pusat kekuasaan kerajaan. 

 Pemekaraan ialah mengangkat pembantu raja (raja-raja kecil) yang setia bin 
taat untuk menarik upeti uke  pusat kekuasaan di mana sang raja dan pendawa dan 
begundal-begundalnya  bertahta.  Penguasa di daerah tidak lain dari raja-raja 
kecil pada kenyataannya  bertindak seperti ini : "menjilat keatas dan 
menginjak-injak kebawah", mereka harus sembah sejut dan puji-puji raja, 
sedangkan rakyat diperas sampai keringat dingin menetes ke tanah. Region yang 
dimekarkan-mekarkan itu tidak ada dan tidak akan mekar seperti mawar keluar 
dari kuntup dengan penuh keharuman di pagi hari.


  ----- Original Message ----- 
  From: teddy sunardi 
  Sent: Monday, September 15, 2008 12:22 AM
  Subject: [mediacare] Istana Majapahit Belum Ditemukan



  
http://kompas.com/read/xml/2008/09/11/09520718/istana.majapahit.belum.ditemukan



  Kamis, 11 September 2008 | 09:52 WIB

  KEDIRI, KAMIS — Para peneliti sampai sekarang masih kesulitan menemukan 
lokasi keberadaan istana Kerajaan Majapahit. "Penelitian yang dilakukan oleh 
empat perguruan tinggi kemarin hanya menemukan pusat kota dan pusat sakral 
zaman Majapahit. Kalau istana kerajaannya belum ditemukan," kata Kepala Balai 
Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan I Made Kusumajaya di Kediri, 
Kamis (11/9).
     
  Lebih lanjut dia menjelaskan, pusat kota yang ditemukan tim peneliti dari 
Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Udayana (Unud), Universitas 
Indonesia (UI), dan Universitas Gajah Mada (UGM) itu adalah sebuah wilayah 
seluas 4 x 5 kilometer di Desa Segaran, Kecamatan Trowulan, Kabupaten 
Mojokerto. Selain itu, juga ditemukan kawasan seluas 11 x 9 kilometer yang 
dianggap sebagai pusat kegiatan sakral masyarakat di zaman Majapahit dulu.
     
  Dalam penelitian tersebut, empat perguruan tinggi negeri terkemuka itu juga 
berhasil menemukan sebuah batu kuno setebal 80 sentimeter yang diduga merupakan 
pagar bangunan zaman Majapahit saat diperintah Raja Hayam Wuruk. "Memang istana 
Kerajaan Majapahit itu diperkirakan ada di sekitar Segaran, tetapi kami belum 
bisa memastikannya karena belum ditemukan adanya (sisa-sisa) istana di situ," 
katanya menambahkan.
     
  Made menilai, ada keunikan terkait alasan Majapahit membangun lokasi 
kerajaannya di sekitar kawasan Trowulan itu. "Kalau kami teliti lebih jauh, 
ternyata itu bagian dari strategi yang diterapkan Hayam Wuruk agar tidak mudah 
diserang oleh musuh karena biasanya pusat kerajaan di zaman dulu itu selalu 
berada di kawasan pantai yang memudahkan musuh menyerang dengan armada 
lautnya," katanya.
     
  Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh empat perguruan tinggi itu, 
sampai sekarang baru mencapai 20 persen. Menurut Made, penelitian sekarang ini 
difokuskan pada perilaku masyarakat Majapahit. "Para peneliti membandingkan 
perilaku masyarakat Majapahit itu dengan perilaku masyarakat Bali karena memang 
ada kemiripan," katanya

  WSN 
  Sumber : Ant




   

Kirim email ke